Pilih Investasi Emas atau Reksadana? Ini Perbandingannya
- Panduan investasi 2026: bandingkan emas dan reksadana dari sisi modal awal, pajak, risiko, dan kecocokan untuk investor pemula.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Saat ekonomi global berada di tengah ketidakpastian di awal tahun 2026, masyarakat kembali dihadapkan pada pertanyaan klasik dalam dunia investasi, lebih untung emas atau reksadana? Dua instrumen ini tetap menjadi pilihan utama investor ritel karena sama-sama mudah diakses, terjangkau, dan dianggap mampu menjaga nilai kekayaan.
Emas dikenal sebagai aset lindung nilai atau safe haven yang kinerjanya cenderung stabil saat inflasi tinggi dan kondisi geopolitik memanas. Sementara itu, reksadana menawarkan potensi pertumbuhan aset yang lebih tinggi, terutama saat pasar keuangan berada dalam fase ekspansi.
Karakteristik Emas dan Reksadana
Secara karakteristik, emas merupakan aset berwujud yang nilainya relatif stabil dalam jangka panjang. Harga emas biasanya bergerak naik ketika terjadi tekanan ekonomi global, pelemahan nilai tukar rupiah, atau lonjakan inflasi. Karena itu, emas sering dipilih sebagai instrumen perlindungan nilai.
Sebaliknya, reksadana adalah produk investasi yang dikelola oleh manajer investasi profesional dan tersedia dalam berbagai jenis, mulai dari reksadana pasar uang, pendapatan tetap, campuran, hingga saham. Fleksibilitas ini membuat reksadana dapat disesuaikan dengan tujuan dan profil risiko masing-masing investor.
Modal Awal Sama-sama Terjangkau
Dari sisi aksesibilitas, baik emas maupun reksadana kini bisa dimulai dengan modal kecil. Investasi emas dapat dilakukan melalui tabungan emas digital dengan nominal mulai dari sekitar Rp10.000. Hal yang sama berlaku untuk reksadana, yang dapat dibeli melalui berbagai platform digital dengan nilai pembelian awal yang relatif rendah.
Kondisi ini membuat kedua instrumen tersebut semakin diminati oleh investor pemula, termasuk generasi muda.
Baca juga : Perang Valuasi: LQ45 Obral, Mengapa SRI-KEHATI Lebih Mahal?
Likuiditas dan Kemudahan Pencairan
Emas tergolong sangat likuid karena dapat dijual kembali kapan saja melalui outlet resmi atau aplikasi tabungan emas. Namun, investor perlu memperhitungkan selisih harga beli dan jual atau spread yang bisa memengaruhi keuntungan.
Sementara itu, reksadana juga likuid, tetapi pencairan dana tidak bersifat instan. Proses penjualan unit reksadana umumnya membutuhkan waktu antara satu hingga tujuh hari kerja (T+7), tergantung jenis reksadana yang dipilih.
Risiko yang Perlu Diperhitungkan
Setiap instrumen memiliki risiko masing-masing. Pada emas, risiko utama terletak pada fluktuasi harga jangka pendek, biaya penyimpanan, serta potensi kehilangan jika disimpan secara fisik. Selain itu, terdapat selisih harga jual yang bisa menggerus keuntungan.
Adapun reksadana menghadapi risiko penurunan Nilai Aktiva Bersih (NAB) akibat fluktuasi pasar. Risiko ini lebih besar pada reksadana saham, tetapi relatif lebih rendah pada reksadana pasar uang.
Pajak dan Biaya
Dari sisi pajak, reksadana memiliki keunggulan karena keuntungan yang diperoleh investor bebas pajak. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi investor jangka panjang.
Sebaliknya, pembelian emas dikenakan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22 sesuai ketentuan yang berlaku, meskipun tarifnya relatif kecil. Faktor pajak ini perlu dimasukkan dalam perhitungan keuntungan bersih investasi emas.
Perhitungan Potensi Keuntungan
Dalam kondisi ekonomi yang stabil dan pasar saham bertumbuh, reksadana saham berpotensi memberikan imbal hasil yang lebih tinggi dibandingkan emas. Namun, saat pasar bergejolak, inflasi meningkat, atau nilai tukar rupiah melemah, emas cenderung unggul karena harganya ikut terdorong oleh kenaikan dolar AS.
Artinya, keuntungan optimal sangat bergantung pada kondisi ekonomi dan momentum investasi.
Baca juga : Segini Harta 3 Pegawai Dirjen Pajak yang Kena OTT KPK
Mana yang Cocok untuk Investor Pemula?
Untuk tujuan jangka pendek di bawah satu tahun, reksadana pasar uang dinilai lebih sesuai karena risikonya rendah dan relatif stabil. Untuk jangka menengah hingga panjang, di atas lima tahun, emas dan reksadana saham dapat menjadi pilihan, tergantung toleransi risiko investor.
Investor konservatif cenderung cocok dengan emas atau reksadana pasar uang, sementara investor agresif yang mengejar pertumbuhan aset dapat memilih reksadana saham.
Para perencana keuangan menilai bahwa diversifikasi antara emas dan reksadana merupakan strategi paling ideal. Emas berperan sebagai pelindung nilai saat kondisi ekonomi memburuk, sedangkan reksadana berfungsi sebagai mesin pertumbuhan aset saat pasar membaik.
Dengan kombinasi yang seimbang dan evaluasi berkala, minimal setiap enam bulan, investor dapat memaksimalkan keuntungan sekaligus mengelola risiko.
Keputusan memilih emas atau reksadana pada akhirnya bukan soal mana yang paling unggul, melainkan mana yang paling sesuai dengan tujuan, jangka waktu, dan profil risiko masing-masing investor.

Muhammad Imam Hatami
Editor
