Permintaan Farmasi dan Alkes Tinggi, Kecerdasan Buatan Bisa Jadi Solusi
- JAKARTA – Pemerintah mendorong pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) pada industri farmasi dan alat kesehatan (Alkes) di...

Ananda Astri Dianka
Author
JAKARTA – Pemerintah mendorong pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) pada industri farmasi dan alat kesehatan (Alkes) di tengah permintaan pasar yang tengah tinggi.
Sebelumnya, Kementerian Perindustrian telah menetapkan lima industri yang menjadi pionir dalam penerapan industri 4.0 di Indonesia yaitu industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, kimia, serta elektronik.
“AI mengganti fungsi manusia atau mesin dalam memproses informasi. Dengan menghasilkan machine language, semua data analitik bisa diproses, sehingga pengambilan keputusan bisa lebih cepat dan mengantisipasi kebutuhan atau permintaan pasar,” kata Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian, Taufiek Bawazier di Jakarta, Jumat, 21 Agustus 2020.
- Gemar Kolaborasi Dengan Layanan Streaming, Telkomsel Gandeng Disney+ Hotstar
- BNI Syariah Dapat Penghargaan Best Bank Award 2020
- Mengenal Fintech P2P Lending Resmi: Asetku Afiliasi Akulaku
- Saat Pandemi, Realisasi KPR Rumah Subsidi Justru Meroket 60,7 Persen Tembus 72.760 Unit
- Diancam Resesi, RI Perlu Racik Formula Ciamik Sampai 2045
Taufiek membeberkan lima sektor prioritas tersebut telah mampu berkontribusi signifikan bagi perekonomian nasional mencapai 60%.
Fungsi AI Pada Industri
Menurut Taufiek, pemanfaatan teknologi digital seperti AI tidak hanya berfungsi menjaga keberlangsungan usaha sektor industri, namun juga memacu daya saing lewat inovasi.
“Menciptakan inovasi itu harus dimulai dengan memanfaatkan semaksimal mungkin teknologi modern, sehingga bisa mewujudkan peningkatan nilai tambah dan ekonomi yang berkelanjutan. Hal ini perlu didukung melalui kegiatan riset,” tambah dia.
Terkait riset dan inovasi, Taufiek membagi menjadi dua bagian, yakni riset untuk riset dan riset untuk industri. Taufiek mengakui saat ini pihaknya lebih fokus pada riset pembangunan ekonomi.
Pasalnya, dengan menggunakan teknologi AI dapat meningkatkan produktivitas, menyerap tenaga kerja serta meningkatkan skill sehingga ekspor dan PDB ikut naik, yang juga berpengaruh pada peningkatan pajak.
