Tren Global

Perang Picu Penjualan Senjata Dunia Meroket, Ini Datanya

  • Penjualan senjata global capai rekor US$679 miliar pada 2024. AS dominasi, Eropa tumbuh pesat, China anjlok. Simak peta industri pertahanan dunia versi SIPRI.
Gemini_Generated_Image_krmuekkrmuekkrmu.png
Ilustrasi Perang Dunia III (TrenAsia)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Industri persenjataan global mencatat rekor penjualan dalam beberapa tahun terakhir. Lembaga riset pertahanan internasional Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) melaporkan bahwa pendapatan dari penjualan senjata dan jasa militer oleh 100 perusahaan pertahanan terbesar dunia mencapai US$679 miliar pada 2024.

Angka tersebut meningkat 5,9 persen secara riil dibandingkan 2023, sekaligus menjadi level tertinggi yang pernah dicatat dalam laporan tahunan SIPRI Top 100. 

Lonjakan ini dipicu oleh meningkatnya konflik bersenjata dan ketegangan geopolitik global, termasuk perang di Ukraina dan konflik di Gaza, yang mendorong banyak negara mempercepat modernisasi militer serta meningkatkan pembelian sistem persenjataan.

Selain itu, produsen senjata global merespons lonjakan permintaan dengan memperluas kapasitas produksi, membangun fasilitas baru, serta melakukan berbagai akuisisi untuk memperkuat rantai pasok industri pertahanan.

Dominasi Amerika Serikat Masih Kuat

Dikutip laporan SIPRI Top 100, Kamis, 5 Maret 2026, perusahaan-perusahaan pertahanan dari Amerika Serikat masih mendominasi industri global. Sebanyak 41 perusahaan AS dalam daftar SIPRI Top 100 mencatat pendapatan gabungan sebesar US$334 miliar, naik sekitar 3,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Tiga raksasa industri pertahanan yakni Lockheed Martin, Northrop Grumman, dan General Dynamics termasuk perusahaan yang mencatat peningkatan pendapatan.

Namun, sektor pertahanan AS juga menghadapi sejumlah tantangan internal. Beberapa proyek besar seperti program jet tempur F-35 Lightning II, kapal selam nuklir Columbia-class submarine, serta rudal balistik LGM-35 Sentinel dilaporkan mengalami keterlambatan produksi dan pembengkakan biaya.

Masalah tersebut menimbulkan ketidakpastian mengenai jadwal operasional sistem persenjataan baru dan berpotensi memengaruhi perencanaan militer serta efisiensi anggaran pemerintah AS.

Baca juga : AS-Rusia Kini Bebas Perkuat Nuklir, Apa Risikonya bagi RI?

Eropa Tumbuh Pesat

Sementara itu, kawasan Eropa muncul sebagai wilayah dengan pertumbuhan industri senjata paling cepat pada 2024.

Sebanyak 26 perusahaan Eropa dalam daftar SIPRI mencatat pendapatan gabungan US$151 miliar, meningkat 13 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Lonjakan ini dipicu oleh meningkatnya permintaan persenjataan akibat perang di Ukraina dan kekhawatiran negara-negara Eropa terhadap ancaman dari Rusia.

Salah satu lonjakan paling dramatis terjadi pada perusahaan pertahanan asal Ceko, Czechoslovak Group. Pendapatan perusahaan ini melonjak 193 persen menjadi US$3,6 miliar, terutama berkat program pemerintah Ceko untuk memasok amunisi artileri bagi Ukraina.

Di sisi lain, perusahaan negara Ukraina, Ukrainian Defense Industry, juga mencatat kenaikan pendapatan sebesar 41 persen menjadi US$3 miliar seiring peningkatan produksi dalam negeri selama perang.

Industri pertahanan Jerman juga mengalami lonjakan signifikan. Perusahaan seperti Rheinmetall mencatat peningkatan pendapatan yang didorong oleh permintaan sistem pertahanan udara, amunisi, serta kendaraan lapis baja.

Namun, industri senjata Eropa masih menghadapi risiko ketergantungan pada mineral kritis, sebagian di antaranya berasal dari Rusia dan China. Ketergantungan ini berpotensi memperlambat ekspansi produksi dalam jangka menengah.

Industri Senjata Rusia Tumbuh di Tengah Sanksi

Di tengah sanksi internasional yang ketat, industri persenjataan Rusia justru menunjukkan daya tahan yang cukup kuat.

Dua perusahaan Rusia dalam daftar SIPRI mencatat pendapatan gabungan sebesar US$31,2 miliar, meningkat 23 persen dibandingkan 2023.

Konglomerat pertahanan negara, Rostec, menjadi motor utama peningkatan tersebut. Penurunan ekspor akibat sanksi Barat berhasil diimbangi oleh lonjakan pesanan domestik dari pemerintah Rusia untuk mendukung operasi militer di Ukraina.

Meski demikian, sektor ini tetap menghadapi hambatan berupa kekurangan komponen teknologi akibat sanksi serta kelangkaan tenaga kerja terampil, yang dapat memperlambat inovasi dan produksi.

Baca juga : Senjata Apa yang Mungkin Digunakan AS untuk Menyerang Iran?

Asia-Oseania Kontras

Kawasan Asia dan Oseania menjadi satu-satunya wilayah yang mencatat penurunan pendapatan industri senjata pada 2024, dengan total US$130 miliar, turun 1,2 persen.

Penurunan ini terutama dipengaruhi oleh kontraksi di China. Delapan perusahaan China dalam daftar SIPRI mengalami penurunan pendapatan gabungan hingga 10 persen.

Salah satu yang paling terdampak adalah produsen sistem persenjataan darat, NORINCO, yang pendapatannya merosot 31 persen. Penurunan ini dikaitkan dengan investigasi korupsi besar-besaran dalam pengadaan militer China, yang menyebabkan sejumlah kontrak persenjataan ditunda atau dibatalkan.

Sebaliknya, industri pertahanan di Jepang dan Korea Selatan justru tumbuh pesat. Lima perusahaan Jepang mencatat kenaikan pendapatan gabungan hingga 40 persen menjadi US$13,3 miliar. Sementara empat perusahaan Korea Selatan mencatat pertumbuhan 31 persen menjadi US$14,1 miliar.

Perusahaan konglomerat pertahanan Hanwha Group menjadi salah satu yang menonjol dengan peningkatan pendapatan sebesar 42 persen, di mana lebih dari separuhnya berasal dari ekspor sistem persenjataan.

Timur Tengah Jadi Aktor Baru

Kawasan Timur Tengah juga mencatat perkembangan penting dalam industri pertahanan global. Pada 2024 terdapat sembilan perusahaan dari kawasan ini yang masuk dalam SIPRI Top 100 jumlah tertinggi sepanjang sejarah, dengan pendapatan gabungan mencapai US$31 miliar, meningkat 14 persen.

Perusahaan dari Israel mencatat pendapatan gabungan US$16,2 miliar, naik 16 persen, meskipun menghadapi tekanan internasional terkait konflik di Gaza. Faktanya, permintaan global terhadap teknologi militer Israel tetap tinggi.

Di sisi lain, industri pertahanan Turki juga terus berkembang. Lima perusahaan Turki mencatat pendapatan gabungan US$10,1 miliar, naik 11 persen, termasuk perusahaan milik negara MKE yang untuk pertama kalinya masuk daftar Top 100.

Sementara itu, konglomerat pertahanan milik negara EDGE Group dari Uni Emirat Arab melaporkan pendapatan senjata sekitar US$4,7 miliar.

Pemain Baru dan Perkembangan Industri

Laporan SIPRI juga mencatat sejumlah pemain baru yang mulai muncul dalam industri pertahanan global.

Perusahaan teknologi luar angkasa SpaceX dari AS untuk pertama kalinya masuk dalam daftar SIPRI Top 100 setelah pendapatan dari sektor militer dan pertahanan meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi US$1,8 miliar.

Dari Asia Tenggara, konsorsium industri pertahanan Indonesia DEFEND ID juga berhasil masuk dalam daftar. Pendapatan perusahaan ini meningkat 39 persen menjadi US$1,1 miliar, didorong oleh konsolidasi industri pertahanan nasional serta peningkatan pengadaan militer domestik.

Sementara itu, tiga perusahaan dari India mencatat pendapatan gabungan US$7,5 miliar, naik sekitar 8,2 persen, seiring meningkatnya program kemandirian industri pertahanan di negara tersebut.

Secara keseluruhan, laporan SIPRI menunjukkan jika dunia sedang memasuki fase baru perlombaan persenjataan global. Konflik regional, ketegangan geopolitik, serta perubahan strategi keamanan nasional membuat banyak negara meningkatkan investasi pada sektor pertahanan.

Amerika Serikat masih menjadi kekuatan dominan dalam industri ini, namun Eropa menjadi pusat pertumbuhan tercepat. Rusia menunjukkan ketahanan industri meski terisolasi oleh sanksi, sementara Asia memperlihatkan dinamika yang kontras antara penurunan di China dan ekspansi di Jepang serta Korea Selatan.

Di sisi lain, Timur Tengah semakin mengukuhkan diri bukan hanya sebagai konsumen senjata, tetapi juga produsen teknologi militer yang semakin berpengaruh di pasar global.