Peran Perempuan dalam Konservasi Alam Berkelanjutan
- Peran perempuan dalam konservasi alam krusial pada keanekaragaman hayati, ketahanan pangan, serta keberhasilan program pelestarian lingkungan berkelanjutan.

Ananda Astri Dianka
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Peran perempuan dalam konservasi lingkungan dinilai krusial dan strategis, terutama dalam menjaga keberlanjutan sumber daya alam di tingkat lokal. Keterlibatan perempuan tidak hanya berkaitan dengan pelestarian kearifan tradisional, tetapi juga berdampak langsung pada perlindungan keanekaragaman hayati, ketahanan pangan, hingga keberhasilan program konservasi di lapangan.
Pandangan tersebut disampaikan dosen Departemen Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekowisata IPB University, Dr Arzyana Sunkar, dalam IPB Podcast bertajuk Perspektif Perempuan dalam Mewujudkan Konservasi yang Berkelanjutan yang ditayangkan melalui kanal YouTube IPB TV.
Menurut Arzyana, kontribusi perempuan dalam konservasi kerap luput dari pengakuan, meski perannya telah hadir sejak lama. Ia menilai sejarah gerakan konservasi menunjukkan keterlibatan perempuan yang signifikan, namun belum sepenuhnya tercermin dalam kebijakan maupun praktik di lapangan.
“Dalam konservasi, perempuan memiliki banyak peran. Sayangnya, peran tersebut sering tidak dianggap atau diakui. Padahal, sejak awal, perempuan juga menjadi bagian penting dari gerakan konservasi,” ujarnya dikutip dari laman IPB, Sabtu 24 Januari 2026.
Ia menjelaskan bahwa isu keanekaragaman hayati tidak dapat dipisahkan dari ketahanan pangan, yang dalam praktik sehari-hari sangat dekat dengan peran perempuan. Tanggung jawab memastikan ketersediaan, kualitas, dan keamanan pangan di tingkat keluarga membuat perempuan memiliki pengetahuan langsung tentang alam dan sumber daya hayati di sekitarnya.
“Ketika berbicara tentang keanekaragaman hayati dan pangan, kita juga berbicara tentang perempuan. Karena merekalah yang memastikan makanan yang sehat dan cukup bagi keluarga,” kata Arzyana.
Dalam berbagai riset yang dilakukannya, Arzyana menemukan peran perempuan yang nyata dalam praktik konservasi di sejumlah daerah. Di wilayah Gayo, Aceh, misalnya, pengetahuan perempuan mengenai tanaman lokal dimanfaatkan dalam upaya konservasi tumbuhan melalui aktivitas memasak serta tradisi lisan yang diwariskan antargenerasi.
Sementara itu, penelitian di Klaten dan kawasan Bali Barat menunjukkan hasil serupa. Perempuan yang terlibat dalam penangkaran burung justru mencatat tingkat keberhasilan perkembangbiakan yang lebih tinggi.
“Ketika perempuan yang merawat, tingkat hidup anakan burung lebih tinggi. Ada perhatian, waktu, dan ketelatenan yang lebih besar,” ungkapnya.
Contoh lain berasal dari masyarakat adat Molo di Nusa Tenggara Timur. Perempuan di wilayah tersebut berperan aktif menjaga kawasan adat dari ancaman industri melalui aksi damai, salah satunya dengan menenun sebagai simbol ketergantungan hidup mereka terhadap alam.
“Perempuan tahu apa yang dibutuhkan, di mana sumbernya, dan bagaimana menjaganya, karena mereka hidup langsung dari sumber daya tersebut,” ujarnya.
Meski demikian, Arzyana mengakui masih terdapat berbagai tantangan yang membatasi peran perempuan dalam konservasi, terutama terkait norma budaya serta minimnya keterlibatan dalam proses pengambilan keputusan. Padahal, berbagai studi menunjukkan bahwa pelibatan perempuan justru meningkatkan kualitas kebijakan dan praktik pelestarian lingkungan.
“Ketika perempuan dilibatkan dalam pengambilan keputusan, hasil konservasinya cenderung lebih baik. Tantangan ke depan adalah memastikan adanya pengakuan dan dukungan yang nyata,” katanya.
Ia menegaskan pentingnya dukungan kebijakan, kelembagaan, serta pendampingan yang berkelanjutan agar potensi perempuan dalam konservasi dapat berkembang secara optimal. Menurutnya, pengakuan terhadap peran perempuan bukan sekadar kewajiban, melainkan peluang strategis dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup.
