Tren Pasar

Penyebab Laba Emiten Low Tuck Kwong TRJA Anjlok 74,4 Persen

  • Laba bersih TRJA kuartal I-2026 anjlok 74,4% menjadi Rp1,24 miliar. Pendapatan, laba bruto, hingga kas ikut tertekan.
Transkon Jaya
Laba bersih TRJA kuartal I-2026 anjlok 74,4% menjadi Rp1,24 miliar. Pendapatan, laba bruto, hingga kas ikut tertekan. (Foto: Ilustrasi) (Ibukotakini.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID- Kinerja keuangan PT Transkon Jaya Tbk (TRJA) pada awal 2026 tertekan tajam. 

Emiten yang berada dalam orbit bisnis taipan Low Tuck Kwong itu mencatat penurunan signifikan pada laba bersih, seiring melemahnya pendapatan dan margin usaha.

Berdasarkan laporan keuangan per 31 Maret 2026, laba bersih TRJA ambruk 74,4 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp1,24 miliar, dari Rp4,86 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Penurunan laba tersebut sejalan dengan koreksi pendapatan yang turun 17,8 persen yoy menjadi Rp112,65 miliar, dibandingkan kuartal I-2025 yang mencapai Rp137 miliar.

Dari sisi operasional, beban pokok pendapatan memang berhasil ditekan 10,4 persen yoy menjadi Rp100,73 miliar. 

Namun, efisiensi tersebut belum mampu menahan tekanan pada profitabilitas. Laba bruto tercatat merosot 51,5 persen menjadi Rp11,92 miliar dari sebelumnya Rp24,56 miliar.

Kondisi ini turut menyeret laba sebelum pajak yang anjlok 70,6 persen menjadi Rp1,84 miliar. Setelah dikurangi beban pajak Rp600,11 juta, laba periode berjalan tercatat Rp1,24 miliar.

TRJA merupakan entitas yang berada di bawah kendali PT Samindo Resources Tbk (MYOH), yang selama ini dikenal bergerak di sektor jasa penunjang pertambangan.

Dari sisi neraca, ekuitas perseroan tercatat relatif stabil di level Rp389,11 miliar hingga akhir Maret 2026, naik tipis 0,3 persen dibandingkan akhir 2025. 

Sementara itu, total liabilitas berhasil ditekan 6,3 persen menjadi Rp357,58 miliar, meski masih didominasi kewajiban jangka pendek sebesar Rp186,28 miliar.

Di sisi lain, total aset perseroan mengalami penurunan 3 persen secara year-to-date menjadi Rp746,69 miliar. 

Posisi kas dan setara kas juga tergerus cukup dalam, turun 27,7 persen menjadi Rp23,14 miliar dari Rp32 miliar pada akhir tahun lalu.

Tekanan pada kinerja kuartal pertama ini mencerminkan tantangan yang masih membayangi sektor jasa penunjang tambang, terutama di tengah dinamika harga komoditas dan aktivitas operasional di awal tahun.
 

Tulisan ini telah tayang di ibukotakini.com oleh Is Wahyudi pada 29 Apr 2026 

Tags: