Tren Ekbis

Pengadaan Mahindra 4x4 Disorot, Ini Spesifikasi dan Minusnya

  • Nilai total kontrak pengadaan 105.000 unit kendaraan dari Mahindra dan Tata Motors disebut mencapai sekitar Rp24,66 triliun.
Pickup Mahindra 4x4 asal India.jpg
Mobil Pickup Mahindra 4x4 asal India (Mahindra Indonesia)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Pemerintah melalui PT Agrinas Pangan Nusantara akan melakukan pengadaan besar-besaran kendaraan niaga untuk mendukung operasional program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). 

Dari total 105.000 unit kendaraan yang dipesan dari India, sebanyak 35.000 unit merupakan Mahindra Scorpio Pik Up varian single cabin berpenggerak empat roda (4x4). Nilai total kontrak pengadaan 105.000 unit kendaraan dari Mahindra dan Tata Motors disebut mencapai sekitar Rp24,66 triliun. Pengadaan ini menjadi salah satu transaksi otomotif terbesar dalam proyek pemerintah dalam beberapa tahun terakhir.

Spesifikasi dan Detail Kendaraan

Untuk mendukung operasional logistik koperasi di berbagai daerah, Agrinas memilih varian single cabin dengan dua kursi guna memaksimalkan daya angkut barang. Dikutip laman Mahindra Indonesia, Senin, 23 Februari 2026, secara teknis, kendaraan ini dibekali mesin diesel 2.2 liter mHawk 4 silinder berstandar Euro 4. Tenaga yang dihasilkan mencapai 140 PS dengan torsi puncak 320 Nm, dipadukan transmisi manual 6 percepatan. 

Sistem penggerak 4x4 dilengkapi fitur shift-on-fly, yang memungkinkan perpindahan mode penggerak tanpa harus berhenti total. Dari sisi kemampuan angkut, mobil ini memiliki kapasitas muat hingga 1.095 kilogram dengan ground clearance berkisar 210–230 mm, yang dinilai memadai untuk menjangkau wilayah pertanian dengan medan berat, termasuk area berlumpur dan jalan tidak beraspal.

Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo De Sousa Mota, menyatakan pemilihan kendaraan asal India didasarkan pada beberapa pertimbangan strategis. Pertama, kebutuhan spesifikasi 4x4 untuk menjangkau daerah pertanian yang sulit diakses kendaraan penggerak dua roda. Kedua, efisiensi harga yang diklaim lebih kompetitif, dengan selisih sekitar Rp50 juta lebih murah dibandingkan produk sejenis di pasar domestik. 

Ketiga, kemampuan produsen India untuk memenuhi permintaan dalam jumlah besar dalam waktu relatif singkat. Di pasar Indonesia, harga mobil baru Mahindra Scorpio Pik Up varian 4x4 berada pada kisaran on-the-road sekitar Rp278 juta per unit untuk tipe Single Cabin dan sekitar Rp318 juta per unit untuk tipe Double Cabin. 

Harga tersebut merupakan banderol kendaraan baru berstatus CBU (Completely Built Up) dari India dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung kebijakan dealer, lokasi pembelian, serta dinamika pasar otomotif nasional.

Sementara itu, untuk unit bekas, harga Mahindra Scorpio 4x4 bisa jauh lebih terjangkau tergantung tahun produksi dan kondisi kendaraan. Di sejumlah pasar mobil bekas maupun lelang, unit keluaran tahun lama dapat ditemukan mulai dari kisaran Rp100 jutaan. 

Perbedaan harga biasanya dipengaruhi faktor jarak tempuh, kondisi mesin, kelengkapan dokumen, hingga riwayat perawatan kendaraan. Kendaraan ini akan dioperasikan oleh Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di seluruh Indonesia. Armada tersebut diproyeksikan menjadi tulang punggung distribusi logistik dalam mendukung ketahanan pangan nasional.

Mobil-mobil ini dirancang untuk mengangkut hasil pertanian dari petani menuju koperasi, lalu didistribusikan ke pasar atau pusat pengolahan. Dengan dukungan armada skala besar, pemerintah berharap rantai distribusi pangan menjadi lebih efisien dan terintegrasi.

Kekurangan Mahindra

Mahindra 4x4 dikenal tangguh untuk medan berat, namun dari sisi kenyamanan masih memiliki beberapa keterbatasan. Suspensi yang dirancang untuk kebutuhan angkut dan jalur off-road membuat bantingan terasa lebih keras saat digunakan di jalan raya. 

Selain itu, kualitas material interior tergolong sederhana dengan desain kabin yang kurang modern dibandingkan kompetitor dari merek Jepang. Hal ini membuat pengalaman berkendara terasa lebih utilitarian daripada premium.

Dari sisi efisiensi dan performa harian, mesin diesel 2.2 liter memang bertenaga, tetapi konsumsi bahan bakarnya relatif tidak sehemat beberapa pesaing di kelasnya, terutama saat digunakan untuk perjalanan jarak jauh di aspal. 

Tingkat kebisingan mesin dan getaran juga masih cukup terasa di dalam kabin. Untuk penggunaan harian di perkotaan, karakter ini bisa menjadi pertimbangan tersendiri bagi calon pembeli.

Kekurangan lainnya terletak pada jaringan layanan purna jual yang belum merata di Indonesia. Ketersediaan bengkel resmi dan suku cadang belum seluas merek-merek besar yang sudah lama beroperasi di pasar domestik. Dalam beberapa kasus, suku cadang tertentu harus dipesan terlebih dahulu sehingga waktu tunggu bisa lebih lama dan biaya perawatan menjadi kurang kompetitif dibandingkan rivalnya.

Kritik dan Polemik

Kebijakan ini tidak lepas dari kritik. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang menyayangkan pesanan dalam jumlah besar tersebut tidak diberikan kepada industri otomotif dalam negeri. Meski demikian, ia mengakui Indonesia saat ini belum memproduksi pikap 4x4 dengan spesifikasi untuk medan super berat secara massal.

Di DPR, Wakil Ketua Komisi VII Evita Nursanty mempertanyakan urgensi penggunaan kendaraan 4x4 secara menyeluruh dan mendorong agar pengadaan pemerintah dapat menjadi instrumen penguatan industri nasional.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Celios Bhima Yudhistira memperkirakan kebijakan tersebut berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi hingga Rp39 triliun terhadap PDB dan berdampak pada sekitar 330.000 tenaga kerja di sektor otomotif nasional, termasuk industri perakitan, distribusi suku cadang, dan bengkel.

Di sisi lain, pengadaan ini disebut menjadi rekor ekspor terbesar dalam sejarah Mahindra untuk satu kontrak, bahkan melampaui total volume ekspor perusahaan tersebut pada tahun fiskal 2025. Hal ini menunjukkan besarnya skala transaksi yang dilakukan pemerintah Indonesia dalam proyek ini.