Korporasi

Pendapatan Naik, Tapi Laba Terkikis: Kenapa CUAN Masih Direspons Positif?

  • Saham CUAN naik 8,68% meski laba bersih kuartal I-2025 anjlok 94%. Pendapatan melonjak 147%, tetapi margin terkikis akibat ekspansi agresif dan beban bunga tinggi.
Petrindo.png
Ilustrasi bisnis PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN). (petrindo.co.id)

JAKARTA – Saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) melesat tajam pada perdagangan Selasa, 6 Mei 2025. Hingga pukul 10.57 WIB, harga saham CUAN naik 8,68% ke level Rp8.475 per saham. Kenaikan ini terjadi tak lama setelah laporan keuangan kuartal I-2025 dirilis ke publik.

Lonjakan harga saham tersebut terjadi di tengah tekanan laba yang signifikan. Laba tahun berjalan CUAN anjlok menjadi US$2,27 juta, jauh di bawah capaian periode sama tahun lalu yang sebesar US$33,05 juta. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk bahkan hanya tersisa US$1,7 juta, turun 94,36% secara tahunan.

Meski profit tergerus, CUAN mencatat lonjakan pendapatan yang mencolok. Pendapatan konsolidasian sepanjang Januari–Maret 2025 mencapai US$213,93 juta, melonjak 147,8% dibandingkan kuartal I-2024. Kenaikan ini ditopang oleh pertumbuhan simultan dari empat lini bisnis yang dikembangkan secara vertikal sejak akhir tahun lalu.

Kontribusi terbesar datang dari jasa pertambangan sebesar US$133,67 juta. Lini engineering & construction menyumbang US$69,12 juta, disusul layanan pelabuhan dan logistik sebesar US$49,94 juta, serta penjualan batu bara langsung sebesar US$57,87 juta. Strategi diversifikasi ini memperbesar skala CUAN dalam waktu singkat.

Namun pertumbuhan pendapatan belum diikuti efisiensi operasional. Margin laba kotor menyusut tajam dari sekitar 23% menjadi 7,9%, sementara beban pokok pendapatan melonjak ke US$197 juta. Beban umum dan administrasi juga naik signifikan ke US$17,11 juta. Pendapatan operasi lainnya justru turun menjadi US$25,47 juta.

Di sisi pembiayaan, tekanan datang dari lonjakan beban bunga. Beban keuangan naik menjadi US$18,32 juta, sedangkan pendapatan keuangan hanya mencapai US$2,27 juta. Akibatnya, laba sebelum pajak menyusut ke US$3,87 juta dari sebelumnya US$33,61 juta. Kondisi ini mengindikasikan tingginya beban utang berbunga.

Dampak lain terlihat dari arus kas operasional yang kembali defisit. Per Maret 2025, CUAN mencatat arus kas operasi negatif US$87,48 juta, memburuk dari defisit US$10,63 juta tahun lalu. Ini menunjukkan bahwa pertumbuhan pendapatan belum mampu menghasilkan kas yang cukup untuk menutup kebutuhan biaya dan ekspansi.

Situasi tersebut tidak lepas dari strategi ekspansi agresif yang dijalankan perusahaan. CUAN mengakuisisi PT Multi Tambangjaya Utama (MUTU), PT Petrosea Tbk (PTRO), PT Borneo Berkat Kutai (BBK), dan PT Borneo Bangun Banua Bestari (BBBB) dalam periode Januari–Maret 2025. Nilai total akuisisi melampaui US$170 juta.

Belanja modal juga meningkat. CUAN menggelontorkan US$72,24 juta untuk perolehan aset tetap dan lebih dari US$26 juta untuk properti tambang serta eksplorasi. Akibatnya, total aset per akhir Maret 2025 naik menjadi US$1,94 miliar, tetapi liabilitas juga membengkak ke US$1,37 miliar. Ekuitas hanya naik tipis ke US$565,98 juta.

Meski demikian, sejumlah analis tetap optimistis terhadap prospek jangka menengah CUAN. NH Korindo Sekuritas merekomendasikan beli dengan target harga Rp9.800 per saham. Valuasi ini mengacu pada proyeksi EBITDA 2027 sebesar Rp4,38 triliun, dengan implikasi EV/EBITDA 29 kali dan PE ratio 64,4 kali.

Lonjakan saham CUAN menunjukkan bahwa pasar bersedia mentoleransi tekanan jangka pendek demi potensi jangka panjang. Investor tampaknya menilai bahwa ekspansi masif yang saat ini membebani margin akan menjadi fondasi pertumbuhan berkelanjutan. Namun, konsistensi eksekusi akan menjadi kunci ke depan.