Pendapatan Anjlok Hingga 75 Persen, Ini Strategi AirAsia Indonesia Lewati Paruh Terakhir 2020
- Perusahaan akan mengandalkan rute domestik pada paruh terakhir di tahun 2020.

Drean Muhyil Ihsan
Author
JAKARTA – PT AirAsia Indonesia Tbk (IDX: CMPP) mengambil langkah antisipasi dalam menghadapi lesunya industri penerbangan. Perusahaan akan mengandalkan rute domestik pada paruh terakhir di tahun 2020.
Direktur Utama AirAsia Indonesia Veranita Yosephine menyatakan bahwa perseroan telah mengalami kerugian pada semester pertama tahun ini. Untuk itu, saat ini pihaknya memastikan adanya pemulihan kinerja keuangan di semester kedua.
Veranita bilang perseroan telah mengidentifikasi rute yang menjadi prioritas untuk dikembangkan. Baginya, rute domestik cukup berpotensi pada semester II-2020 ini sebab pengembangan rute domestik sejalan dengan langkah recovery yang sudah ada pada industri penerbangan domestik dalam negeri.
- Vaksin Sinovac China Direstui WHO, IHSG Naik Kencang Terbaik di Dunia dan Kurs Rupiah Sumringah
- Korupsi Masih Bayangi Pengelolaan Dana Desa
- IHSG Ditutup Menguat 2 Persen di Akhir Pekan, Saham Big Caps Jadi Penopang
- Oversubscibed, Rights Issue Medco Energy (MEDC) Milik Arifin Panigoro Raup Rp1,78 Triliun Bikin Saham Melejit
- Posisi Kewajiban Neto Investasi Internasional Indonesia Meningkat
“Dari segi bisnis berkaitan dengan peningkatan revenue dan pengembangan rute itu merupakan strategi penting untuk mengatasi kerugian. Mengingat cashflow menjadi prioritas saat ini,” katanya melalui paparan publik secara virtual di Jakarta, Kamis 24 September 2020.
Beberapa waktu lalu, AirAsia Indonesia dikabarkan telah mengoperasikan kembali penerbangan berjadwal sejak pertengahan Juni lalu. Setidaknya, ada 11 rute penerbangan domestik dan internasional yang telah dibuka oleh perseroan.
Sebelumnya, Pendapatan AirAsia Indonesia anjlok 51%-75% lantaran terpukul pandemi COVID-19. Hal ini berimbas pada induk perusahaan CMPP, yakni AirAsia Group yang turut mengalami penurunan pendapatan hingga 96%.
Perusahaan aviasi milik Tony Fernandes asal Malaysia ini telah mengalami kerugian sekitar 992,9 juta ringgit atau setara Rp3,5 triliun pada semester I-2020. Padahal pada periode yang sama di tahun lalu, perusahaan berhasil meraup laba sebesar 17,3 juta ringgit atau setara Rp60,5 miliar.
