Nasional & Dunia

Pembangunan Jalur Batu Bara Ancam Habitat Satwa Liar

  • Jakarta- Sebanyak 26 spesies satwa liar yang dilindungi di kawasan Hutan Harapan terancam dengan rencana pembangunan jalur khusus angkutan batu bara. Rusaknya habitat akibat pembangunan berpotensi besar memicu friksi antara satwa liar dengan masyarakat sekitar hutan. Bukan kali pertama pembukaan lahan mengakibatkan sejumlah satwa, terutama harimau dan gajah merangsek masuk ke perkampungan untuk mencari sumber […]

<p>mongabay.co.id</p>

mongabay.co.id

(Istimewa)

Jakarta- Sebanyak 26 spesies satwa liar yang dilindungi di kawasan Hutan Harapan terancam dengan rencana pembangunan jalur khusus angkutan batu bara.

Rusaknya habitat akibat pembangunan berpotensi besar memicu friksi antara satwa liar dengan masyarakat sekitar hutan. Bukan kali pertama pembukaan lahan mengakibatkan sejumlah satwa, terutama harimau dan gajah merangsek masuk ke perkampungan untuk mencari sumber makanan.

Dikutip dari CNN (17/12) Direktur Riset dan Kampanye Hutan Kita Instutute (HaKI) Adisyafri mengatakan “Pembangunan jalur dipastikan akan mengganggu habitat satwa liar dan akan menambah konflik harimau dengan warga lokal yang tengah marah terjadi di Sumatera Selatan,” ujarnya.

Jalur batu bara rencananya akan dibangun di kawasan hutan yang tingkat keanekaragaman hayatinya tinggi. Akibatnya, bukan hanya meningkatkan potensi masuknya satwa liar ke perkampungkan, tetapi juga merusak ekosistem hutan.

Menurut data, terdapat 29 ekor harimau Sumatera yang hidup di kawasan tersebut. Selain harimau dan gajah, Hutan Harapan merupakan habitat dari tapir, kera owa ungko, anjing hutan, trengiling, dan 307 spesies burung dan flora endemik Hutan Harapan.

Dengan besarnya risiko pembukaan jalur ke hutan, HaKI bersama 30 lembaga swadaya masyarakat dan pecinta alam yang tergabung dalam Koalisi Anti Perusakan Hutan Sumsel mendesak Presiden untuk membatalkan rencana tersebut.

Pihak Koalisi mengatakan tidak menolak investasi masuk asalkan tidak mengganggu kelestarian lingkungan, seperti pembukaan jalur batu bara ini. Setidaknya, dalam rentang November-Desember 2019, sudah ada tiga warga tewas akibat serangan harimau.

Penyerangan yang terjadi diakibatkan karena rusaknya habitat yang membuat terputusnya rantai makanan sehingga membuat satwa liar keluar dari teritori untuk mencari makanan. Selain itu, bebrapa penyerangan biasanya terjadi karena manusia masuk ke teritori harimau, sehingga terusik dan menyerang.

Banyaknya jumlah korban tewas membuat Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) membuat spanduk di beberapa titik kemunculan harimau sebagai penanda agar warga tidak melewatinya.