Pelita Samudera Angkut Non-Batu Bara, PSSI Bidik Pendapatan Rp1,39 Triliun
- Emiten pelayaran PT Pelita Samudera Shipping Tbk membidik target pertumbuhan pendapatan double digit 43% year on year (yoy) pada 2021.

Muhamad Arfan Septiawan
Author


Kapal milik Pelita Samudera/foto:ptpss.co.id
(Istimewa)JAKARTA - Emiten pelayaran PT Pelita Samudera Shipping Tbk membidik target pertumbuhan pendapatan double digit 43% year on year (yoy) pada 2021. Dengan ramainya arus barang, emiten bersandi PSSI ini menaksir pendapatan perseroan bakal menyentuh US$97,8 Juta atau Rp1,39 triliun (asumsi kurs Rp14.230 per dolar Amerika Serikat) pada tahun ini.
“Target pendapatan 2021 - US$97,8 juta. Naik 43 persen dibandingkan dengan pendapatan 2020, US$68,4 juta. Saat ini Perseroan masih fokus dengan utilisasi dan pemanfaatan armada yang ada,” ucap Direktur Utama (Dirut) Pelita Samudera Shipping Iriawan Ibarat dalam paparan publik, dikutip Minggu, 24 Oktober 2021.
Dirinya menyebut perluasan armada pada komoditas nikel dan bauksit berimplikasi positif terhadap kinerja perseroan. Sebanyak 20% armada mulai dikerahkan PSSI dalam lini bisnis tersebut.
- Tips Mengelola Keuangan secara Bijak di Masa Pandemi
- Bank Mayapada Suntik Pendanaan Rp250 Miliar ke Modalku
- Laba Bersih BFI Finance (BFIN) Melonjak 53 Persen per Kuartal III-2021
Perluasan ke komoditas ini, kata Iriawan, menjadi cara untuk menjaga bisnis perseroan secara berkesinambungan. Dengan adanya volatilitas yang tinggi terhadap batu bara, bauksit dan nikel diharapkan dapat mengerek kinerja pengangkutan milik PSSI.
“20 persen armada PSSI sudah mulai memasuki bisnis nikel dan bauksit sehingga kami yakin dengan diversifikasi bisnis ke angkutan non batu bara, diharapkan bisnis perseroan dapat lebih sustainable,” jelas Iriawan.
Di paruh pertama 2021, emiten bersandi PPSI ini memang mencatatkan kinerja positif. Iriawan bilang capaian semester I-2021 menjadi benchmark dalam mengoptimalisasi target pendapatan untuk full year 2021.
Mengutip laporan keuangan interim di Bursa Efek Indonesia (BEI), PSSI berhasil mencatatkan pendapatan sebesar US$45,66 juta atau setara Rp661,88 miliar (dengan kurs Rp14.496 sesuai laporan keuangan) pada semester I-2021. Jumlah ini meningkat 28,51% dibanding semester I-2021 yang sebesar US$35,53 juta (Rp515,04 miliar).
Selanjutnya, beban pokok pendapatan juga meningkat 13,42% menjadi US$32,54 juta pada enam bulan pertama 2021. Pada periode yang sama tahun lalu, PSSI mencatatkan beban pokok pendapatan sebesar US$28,69 juta.
Laba bruto perusahaan pun tercatat sebesar US$13,11 juta pada semester I-2021, melonjak 91,67% dari catatan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$6,84 juta. Lalu, laba sebelum pajak tercatat US$8,22 juta, meroket 160% dari sebelumnya US$3,16 juta.
Pada bottom line, laba bersih PSSI pun berhasil meroket 149,14% menjadi US$7,25 juta (Rp105,09 miliar) hingga akhir Juni 2021. Sebelumnya, laba bersih PSSI tercatat sebesar US$2,91 juta (Rp31,74 miliar).
Sepanjang semester I-2021, tercatat ada penurunan kas dan setara kas sebesar US$433.117. PSSI mendapat kas bersih dari aktivitas operasi sebesar US$11,77 juta, menggunakan kas bersih US$5,15 juta untuk aktivitas investasi, dan kas bersih US$7,05 juta untuk aktivitas pendanaan.
Penurunana kas dan setara kas tersebut pun membuat posisi kas PSSI menjadi sebesar US$12,17 juta pada akhir periode. Pada awal periode, posisi kas PSSI tercatat sebesar US$12,65 juta.
Aset perusahaan tercatat sebesar US$147,18 juta hingga semester I-2021, meningkat tipis dari US$146,83 pada akhir 2020. Aset lancar tercatat sebesar USS33,03 juta dan aset tidak lancar tercatat US$114,16 juta.
Liabilitas akhirnya tercatat sebesar US$47,94 juta, turun dari US$52,3 juta pada akhir 2020. Liabilitas jangka pendek sebesar US$32,69 juta dan liabilitas jangka panjang US$15,25 juta. Sementara itu, ekuitas tercatat sebesar US$99,25 juta, naik dari awal 2020 sebesar US$94,53 juta.

Sukirno
Editor
