Insight Langit Biru

Pelan Tapi Pasti Sinyal Positif Datang dari Pasar Obligasi Negara

  • Sepanjang Mei 2021 dana sebesar Rp34,71 triliun merembes keluar dari surat berharga negara (SBN) berdenominasi rupiah.

<p>Ilustrasi pemerintah berupaya menahan dampak COVID-19 terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.  Grafis: Azka Yusra/TrenAsia </p>

Ilustrasi pemerintah berupaya menahan dampak COVID-19 terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Grafis: Azka Yusra/TrenAsia

(Istimewa)

Sepanjang Mei 2021 dana sebesar Rp34,71 triliun merembes keluar dari surat berharga negara (SBN) berdenominasi rupiah.

SBN ini mencakup surat berharga syariah negara (SBSN) atau sukuk dan surat utang negara (SUN).

Berdasarkan kategori pembeli SBN rupiah, Bank Indonesia-lah yang mengurangi dana paling besar, yakni Rp71,22 triliun, selama Mei tahun ini.

Mengutip data DJPPR Kementerian Keuangan, per 31 Mei 2021 dana Bank Indonesia di SBN rupiah sebesar Rp504,35 triliun atau 11,99% dari total dana SBN rupiah. Selain Bank Indonesia, reksadana melepas Rp33,29 triliun dan investor asing melepas Rp8,1 triliun selama Mei tahun ini.

Sementara, bank konvensional memasukkan dana sekitar Rp44,9 triliun, diikuti investor lainnya Rp30,41 triliun, serta asuransi dan dana pensiun senilai Rp7,35 triliun. Porsi kepemilikan bank konvensional di SBN rupiah sebesar 34,94%, dominan dari kategori investor lainnya.

Total dana keluar dari SBN rupiah pada Mei 2021 lebih besar dibandingkan dengan total dana keluar pada Mei 2020 yang sebesar Rp29,75 triliun. Mei tahun lalu, juga Bank Indonesia menjadi pihak investor yang mengeluarkan dana terbesar dari SBN rupiah, yakni Rp16,84 triliun.

Sementara, bank konvensional menginjeksi dana Rp28,13 triliun pada Mei 2020, diikuti pihak lainnya Rp7,1 triliun dan investor asing Rp6,84 triliun.
Investor asing bahkan terlihat lebih percaya diri menggelontorkan uang ke SBN rupiah pada Mei 2020 dibandingkan dengan Mei tahun ini.

Dilihat dari sisi imbal hasil (yield), pada Mei 2020, yield obligasi pemerintah Indonesia bertenor 10 tahun menunjukkan tren menguat, mengindikasikan harga naik yang menggambarkan masih adanya permintaan investor. Bila pada 1 Mei 2020 yield di posisi 8,01%, akhir Mei yield bertengger di level 7,435%.

Hal ini berbeda dengan kondisi yield pada Mei 2021 yang terlihat fluktuatif. Data World Government Bond menunjukkan sejak awal hingga medio Mei 2021 yield menurun hingga pada 11 Mei di posisi 6,48%. Lantas, yield menukik tajam ke 6,59% pada 21 Mei dan kembali turun ke 6,53% per 31 Mei.

Kondisi Investasi di SBN Rupiah pada Januari-Mei 2021/2020

Sepanjang lima bulan pertama 2021, aliran dana yang masuk ke SBN rupiah mencapai Rp336,58 triliun. Dengan demikian, per 31 Mei 2021 total dana di SBN rupiah mencapai Rp4.207,34 triliun per 31 Mei. Bank konvensional menyuntikkan dana paling besar, yakni Rp105,91 triliun, diikuti Bank Indonesia.

Sementara, reksadana dan investor asing mengeluarkan dana dari SBN rupiah masing-masing senilai Rp33,09 triliun dan Rp19,02 triliun.

Rupanya, aliran dana masuk ke SBN rupiah pada Januari-Mei 2021 jauh lebih besar dibandingkan dengan aliran dana masuk pada Januari-Mei 2020 yang hanya Rp298 triliun.

Lima bulan pertama tahun lalu, sekitar Rp131,46 triliun dana investor asing hengkang dari SBN rupiah. Aksi keluar tersebut diimbangi dengan aksi masuknya dana bank konvensional senilai Rp327,69.

Dana keluar investor asing pada Januari-Mei 2021 jauh lebih kecil, yakni Rp19,02 triliun, daripada Januari-Mei tahun lalu yang mencapai lebih dari Rp130 triliun.

Kondisi ini mengisyaratkan bahwa, setidaknya, dalam 5 bulan pertama tahun ini kepercayaan investor asing pada surat utang Indonesia nyata ada di tengah situasi pandemi COVID-19.

Keluarnya dana asing pada lima bulan pertama 2020 dapat pula dibaca dari kenaikan yield yang tajam pada Januari-Mei 2020, dari sekitar 7,1% hingga ke posisi 8,2%. Sementara, pada Januari-Mei 2021 yield merangkak naik dari kisaran 6%, tembus ke 6,8%, lantas turun menuju 6,5%.

Kembali ke arus keluar masuk dana di SBN rupiah, terdapat tiga kategori investor yang bertahan menyuntikkan dananya ke SBN rupiah selama Januari-Mei 2021 dan Januari-Mei 2020.

Mereka adalah asuransi dan dana pensiun, individu, dan lainnya. Tiga kategori investor ini juga tercatat melakukan pembelian SBN rupiah selama Mei 2021, pun pada Mei 2020.