Finansial

Pejabat The Fed Lontarkan Pernyataan Hawkish, Rupiah Masih dalam Tekanan

  • Menurut data perdagangan Bloomberg, Selasa, 8 Agustus 2023, nilai kurs rupiah dibuka melemah 49 poin di posisi Rp15.234 per-dolar Amerika Serikat (AS).
<p>Karyawan menunjukkan uang Dolar Amerika Serikat (AS) di salah satu Bank BUMN di Jakarta, Selasa 2 Juni 2020. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia</p>

Karyawan menunjukkan uang Dolar Amerika Serikat (AS) di salah satu Bank BUMN di Jakarta, Selasa 2 Juni 2020. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

(Istimewa)

JAKARTA - Nilai kurs rupiah masih dalam tekanan pada perdagangan hari ini, Selasa, 8 Agustus 2023,  setelah pejabat The Federal Reserve (The Fed) melontarkan pernyataan bernada hawkish.

Menurut data perdagangan Bloomberg, Selasa, 8 Agustus 2023, nilai kurs rupiah dibuka melemah 49 poin di posisi Rp15.234 per-dolar Amerika Serikat (AS).

Pada perdagangan sebelumnya, Senin, 7 Agustus 2023, nilai kurs rupiah ditutup melemah 15 poin di level Rp15.185 per-dolar AS.

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan bahwa pasar tenaga kerja AS yang masih ketat dapat menjadi acuan bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

"Laporan ketenagakerjaan AS merujuk ke pasar tenaga kerja yang masih ketat, menunjukkan The Fed mungkin perlu mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama," ujar Ibrahim kepada wartawan, dikutip Selasa, 8 Agustus 2023.

Selain data ketenagakerjaan AS yang mendukung potensi The Fed untuk mengerek suku bunga lebih lanjut, anggota Dewan Gubernur The Fed Michelle Bowman mengatakan bahwa The Fed kemungkinan masih perlu menaikkan suku bunga lebih tinggi untuk meredam inflasi.

Ia sendiri menyatakan dukungannya terhadap keputusan bank sentral AS untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang terakhir. Ia juga melihat bahwa The Fed masih memiliki ruang untuk mengetatkan kebijakan moneternya.

Bowman menyoroti pasar tenaga kerja yang masih ketat dengan lowongan kerja yang masih lebih tinggi dibanding tenaga kerja yang tersedia. Hal tersebut dapat melatarbelakangi keputusan The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga demi menyurutkan inflasi hingga mencapai target 2%.

Sementara itu, dari dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi kuartal kedua 2023 mencapai 5,17% secara tahunan, lebih tinggi dari kuartal sebelumnya yang mencatat pertumbuhan 5,03%.

Menurut Ibrahim, optimisme pertumbuhan ekonomi tersebut tercermin dari sisi pengeluaran, yang mana seluruh komponen mencatat pertumbuhan positif, termasuk belanja pemerintah yang mengalami kontraksi selama empat kuartal berturut-turut di tahun sebelumnya.

"Di sisi lain, surplus neraca perdagangan terus menurun sejak tahun lalu dan sekarang hanya tercatat sebesar US$7,8 miliar di triwulan kedua 2023 akibat normalisasi harga komoditas global," papar Ibrahim.

Menurut Ibrahim, untuk perdagangan hari ini, nilai kurs rupiah berpotensi melemah di rentang Rp15.170-Rp15.230 per-dolar AS.