Nasional & Internasional

Pefindo Sematkan Peringkat idA dengan Outlook Negatif untuk Sukuk Mandala Finance

  • JAKARTA – PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menyematkan peringkat idA(sy) untuk Sukuk Mudharabah Berkelanjutan I senilai Rp 1,5 triliun dengan prospek...

JAKARTA – PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menyematkan peringkat idA(sy) untuk Sukuk Mudharabah Berkelanjutan I senilai Rp 1,5 triliun dengan prospek negatif karena kondisi pandemi akan membayangi pertumbuhan bisnis dan kualitas aset perusahaan. 

“Mengingat, pertumbuhan pembiayaan baru perusahaan terkontraksi sebesar 41,3% ke Rp2,9 triliun pada 31 Desember 2020 dari Rp4,9 triliun pada 31 Desember 2019,” kata Pefindo dikutip dari laman resmi, Senin 28 Juni 2021.

Tanpa adanya hubungan afiliasi yang kuat dengan sumber pendanaan yang berkelanjutan ataupun pasar captive yang signifikan, Mandala Finance akan menghadapi tantangan dalam memulihkan nilai pembiayaan barunya seperti sebelum pandemi. 

Selain itu, tanpa kenaikan pembiayaan baru yang signifikan, sumber arus kas masuk sebagian besar akan berasal dari angsuran piutang pembiayaan yang juga rentan terhadap penurunan kualitas aset dalam kondisi ekonomi yang lemah. 

Sebagai dampak COVID-19, perusahaan mencatat rasio pembiayaan bermasalah (NPF) yang lebih tinggi yaitu 7,7% pada 31 Desember 2020 dari 3,2% pada 31 Desember 2019. 

“Meskipun ada program restrukturisasi, Pefindo menilai risiko gagal bayar debitur akan tetap ada pada akhir periode restrukturisasi karena debitur masih terdampak penurunan ekonomi.”

Akan tetapi, sebagian dari risiko tersebut dimitigasi oleh kebijakan pembiayaan dan pengendalian pembayaran angsuran yang ketat. Selain itu, bisnis perusahaan juga menghasilkan marjin tinggi serta leverage yang konservatif sehingga memberikan dukungan untuk memenuhi kewajiban.

Pefindo menjelaskan, peringkat dapat diturunkan jika pembiayaan baru menurun signifikan karena dampak dari penyebaran COVID-19. Sebab, hal ini dapat menurunkan keberadaan di pasar dan mengarah pada penilaian profil risiko bisnis yang lebih lemah. 

Penurunan material pada performa kualitas aset dan profitabilitas juga dapat mendorong peringkat turun. Pefindo dapat merevisi prospek kembali ke stabil jika perusahaan mampu meningkatkan pertumbuhan pembiayaan baru dan mempertahankan performa keuangannya.