Tren Leisure

Pantas Disebut Logam Mulia, Emas Dan Perak Bukan Dari Bumi

  • Harga emas dan perak melonjak tajam. Ilmu pengetahuan mengungkap logam mulia ini bukan berasal dari Bumi, melainkan dari peristiwa kosmik dahsyat.
Perak dan Emas.
Perak dan Emas. (physicalgold.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Harga logam mulia yang melonjak tajam dalam beberapa bulan terakhir kerap dikaitkan dengan gejolak ekonomi global, inflasi, hingga ketegangan geopolitik. 

Namun, di balik faktor pasar tersebut, terdapat alasan yang jauh lebih fundamental mengapa emas dan perak pantas mahal, keduanya bukan berasal dari Bumi, melainkan tercipta dari rangkaian peristiwa kosmik dahsyat di luar angkasa.

Berdasarkan pemahaman ilmiah terkini, emas dan perak termasuk unsur berat yang tidak dapat terbentuk secara alami di dalam Bumi. Kondisi fisika dan energi di planet ini tidak cukup ekstrem untuk menciptakan inti atom logam-logam mulia tersebut. 

Artinya, emas dan perak yang selama ini ditambang manusia sejatinya adalah “warisan kosmik” yang jumlahnya sangat terbatas di Bumi.

Dikutip laman Ensiklopedia Britanica, Rabu, 28 Januari 2026, para ilmuwan sepakat bahwa emas, perak, dan logam berat lainnya terbentuk melalui proses astrofisika langka, terutama penggabungan dua bintang neutron, peristiwa yang dikenal sebagai kilonova

Baca juga : Harga Emas Meroket, Tiga Saham Tambang Ini Layak Dilirik

Tabrakan kosmik ini melepaskan energi luar biasa besar dan banjir neutron dalam waktu singkat, memungkinkan terbentuknya unsur-unsur berat melalui proses cepat yang disebut rapid neutron capture atau r-process.

Selain kilonova, ledakan supernova dan aktivitas ekstrem dari magnetar, bintang neutron dengan medan magnet sangat kuat, juga diyakini berkontribusi dalam pembentukan logam mulia. 

Proses-proses ini hanya terjadi di lingkungan kosmik dengan tekanan dan energi yang jauh melampaui apa pun yang pernah ada di Bumi.

“Kiriman” dari Luar Angkasa

Meski Bumi terbentuk dari awan debu kosmik, hampir seluruh emas dan perak asli planet ini tenggelam ke inti Bumi saat planet masih dalam kondisi cair miliaran tahun lalu. Karena massa jenisnya tinggi, logam-logam tersebut ikut turun bersama besi ke pusat Bumi, jauh dari jangkauan manusia.

Emas dan perak yang kini berada di kerak Bumi justru diyakini berasal dari hujan meteorit raksasa sekitar 3,8 miliar tahun lalu, ketika Tata Surya masih muda. 

Tabrakan meteorit kaya logam mulia inilah yang “melapisi” permukaan Bumi dengan emas dan perak dalam jumlah terbatas. Sejak saat itu, jumlahnya praktis tidak bertambah.

Fakta inilah yang membuat logam mulia benar-benar langka secara absolut. Penambangan modern bukan menciptakan pasokan baru, melainkan hanya memindahkan material kosmik purba dari perut Bumi ke permukaan.

Kelangkaan ekstrem tersebut menjadi salah satu fondasi kuat mengapa harga emas dan perak kerap melonjak “gila-gilaan” saat dunia dilanda ketidakpastian. 

Dari sudut pandang ilmiah, pasokan emas dan perak bersifat final dan tidak dapat diperbarui, berbeda dengan komoditas lain yang masih bisa diproduksi atau ditingkatkan output-nya.

Baca juga : Harga Emas Meroket, Tiga Saham Tambang Ini Layak Dilirik

Dalam konteks ekonomi modern, kelangkaan kosmik ini diperkuat oleh faktor pasar. Emas tetap menjadi aset lindung nilai (safe haven) utama ketika inflasi meningkat, nilai mata uang tertekan, atau konflik geopolitik memanas. Perak, selain berfungsi sebagai logam mulia, juga memiliki permintaan industri tinggi, terutama untuk panel surya, elektronik, dan teknologi energi bersih.

Kombinasi antara asal-usul yang ekstrem, jumlah yang terbatas sejak miliaran tahun lalu, geopolitik, dan permintaan global yang terus meningkat menjadikan emas dan perak memiliki nilai yang sulit ditandingi. 

Dalam perspektif ini, lonjakan harga logam mulia bukan sekadar fenomena spekulatif, melainkan refleksi dari realitas alam semesta itu sendiri.