Panduan Main Saham untuk Pemula, Kenali Jebakannya!
- Ingin mulai investasi saham? Simak panduan lengkap untuk pemula, mulai dari membuka rekening efek, memilih aplikasi investasi, hingga menghindari saham gorengan dan FOMO.

Chrisna Chanis Cara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Setiap kali pasar saham mengalami koreksi besar, biasanya muncul dua kelompok investor. Kelompok pertama panik karena portofolionya merah. Kelompok kedua justru mulai bertanya: apakah ini saat yang tepat untuk mulai berinvestasi?
Seiring Hari Pasar Modal Indonesia yang diperingati setiap 3 Juni, pertanyaan tersebut kembali relevan. Setelah mengalami tekanan dalam beberapa bulan terakhir, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih bergerak jauh di bawah level tertingginya pada awal tahun.
Bagi investor berpengalaman, kondisi seperti ini merupakan bagian normal dari siklus pasar. Namun bagi pemula, koreksi pasar sering kali justru menjadi momen terbaik untuk mulai belajar.
Peraih Nobel Ekonomi Robert Shiller pernah menyebut bahwa pasar saham bergerak dalam siklus optimisme dan pesimisme. Ketika euforia sedang tinggi, banyak orang masuk pasar tanpa memahami risiko. Sebaliknya, saat pasar melemah, investor pemula memiliki kesempatan belajar dengan lebih rasional.
Lalu, bagaimana cara memulai investasi saham di Indonesia saat ini?
Langkah 1: Pahami Dulu Apa Itu Saham
Menurut Bursa Efek Indonesia (BEI), saham adalah tanda kepemilikan seseorang atau badan usaha atas suatu perusahaan.
Ketika membeli saham, investor sebenarnya membeli sebagian kecil kepemilikan perusahaan tersebut.
Artinya, jika perusahaan berkembang dan menghasilkan keuntungan, investor berpotensi memperoleh keuntungan melalui:
- kenaikan harga saham (capital gain),
- pembagian dividen,
- atau kombinasi keduanya.
Karena itu, membeli saham seharusnya lebih mirip membeli sebagian bisnis, bukan sekadar menebak pergerakan harga.
Langkah 2: Buka Rekening Efek
Untuk bertransaksi saham di Indonesia, investor perlu memiliki:
- Rekening Dana Nasabah (RDN),
- rekening efek,
- dan akun pada perusahaan sekuritas.
Saat ini proses pembukaan rekening sudah jauh lebih sederhana dibanding beberapa tahun lalu.
Melalui sistem electronic Know Your Customer (e-KYC), calon investor dapat membuka rekening secara daring menggunakan:
- KTP,
- NPWP (jika ada),
- rekening bank,
- dan verifikasi wajah.
Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menunjukkan jumlah investor pasar modal Indonesia terus bertumbuh dan telah melampaui 16 juta SID pada 2026. Mayoritas investor baru berasal dari kelompok usia di bawah 40 tahun.
Langkah 3: Pilih Platform yang Sesuai
Berbeda dengan beberapa tahun lalu, pilihan aplikasi investasi kini semakin beragam. Beberapa platform yang populer di kalangan investor ritel Indonesia antara lain:
Stockbit
Cocok bagi investor yang ingin menggabungkan analisis saham dengan komunitas diskusi investor.
Ajaib
Menawarkan antarmuka sederhana yang ramah bagi pemula.
IPOT
Memiliki fitur analisis dan transaksi yang relatif lengkap.
Bibit
Lebih dikenal sebagai platform reksa dana dan obligasi, tetapi terintegrasi dengan layanan investasi lainnya.
Gotrade
Digunakan oleh investor yang ingin mengakses saham Amerika Serikat secara fraksional dengan modal mulai sekitar US$1.
Namun penting dipahami bahwa aplikasi hanyalah alat. Keberhasilan investasi lebih ditentukan oleh strategi dan disiplin investor dibanding fitur aplikasi.
Langkah 4: Jangan Langsung Mengejar Saham Viral
Kesalahan paling umum investor baru adalah membeli saham hanya karena sedang ramai dibicarakan.
Dalam materi edukasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), investor diingatkan untuk selalu memahami profil risiko dan karakteristik produk investasi sebelum membeli.
Artinya, keputusan investasi tidak boleh hanya berdasarkan:
- rekomendasi media sosial,
- grup percakapan,
- influencer,
- atau rumor pasar.
Investor perlu memahami:
- model bisnis perusahaan,
- kinerja keuangan,
- tingkat utang,
- dan prospek industrinya.
Tiga Jebakan yang Paling Sering Menyerang Investor Baru
1. Saham Gorengan
Istilah saham gorengan merujuk pada saham yang mengalami kenaikan atau penurunan harga tidak wajar dengan likuiditas relatif rendah.

Saham jenis ini sering menarik perhatian karena mampu naik puluhan persen dalam waktu singkat. Namun risikonya juga sangat tinggi.
Ketika minat beli menghilang, harga dapat turun drastis dalam waktu yang sama cepatnya.
2. Skema Pump and Dump
Skema ini biasanya dimulai dengan promosi besar-besaran terhadap suatu saham. Setelah banyak investor membeli dan harga naik, pihak yang lebih dulu masuk menjual sahamnya. Akibatnya harga jatuh dan investor yang terlambat masuk menanggung kerugian.
OJK dan Satgas PASTI berulang kali mengingatkan masyarakat untuk waspada terhadap pola investasi yang menjanjikan keuntungan cepat tanpa penjelasan fundamental yang jelas.
3. Fear of Missing Out (FOMO)
Ini mungkin jebakan paling umum. Investor membeli saham bukan karena memahami bisnisnya, melainkan karena takut ketinggalan kenaikan harga.
Masalahnya, FOMO sering terjadi ketika harga sudah berada di dekat puncak. Akibatnya investor membeli mahal dan menjual murah saat harga terkoreksi.
Berapa Modal yang Dibutuhkan?
Salah satu mitos terbesar tentang pasar modal adalah anggapan bahwa investasi saham hanya untuk orang kaya. Faktanya, BEI menerapkan satuan perdagangan minimum 1 lot atau 100 lembar saham.
Artinya, beberapa saham dapat dibeli hanya dengan puluhan ribu rupiah. Bagi pemula, banyak perencana keuangan menyarankan memulai dengan nominal kecil terlebih dahulu.
Tujuannya bukan mengejar keuntungan besar, melainkan membangun kebiasaan belajar dan memahami psikologi pasar.
Mengapa Menarik Belajar Saat Pasar Turun?
Ketika pasar sedang euforia, hampir semua saham terlihat bagus. Sebaliknya, saat pasar melemah, investor dipaksa belajar membedakan perusahaan yang benar-benar berkualitas dengan yang hanya terbantu sentimen sementara.
Pendiri Vanguard Group, John C. Bogle, pernah mengatakan waktu terbaik belajar investasi saham bukan saat pasar sedang naik, melainkan ketika investor mulai memahami bahwa volatilitas adalah bagian normal dari perjalanan investasi.
Karena itu, koreksi pasar sering kali menjadi ruang belajar yang lebih sehat dibanding periode euforia.
Mulai dari Belajar, Bukan dari Cuan
Pada akhirnya, tujuan pertama investor pemula seharusnya bukan menghasilkan keuntungan besar. Tujuan pertama adalah memahami cara kerja pasar.
Hari Pasar Modal Indonesia menjadi pengingat bahwa pasar modal bukan sekadar tempat mencari keuntungan.
Ia adalah sarana yang memungkinkan masyarakat ikut memiliki perusahaan, berpartisipasi dalam pertumbuhan ekonomi, dan membangun aset jangka panjang.
Karena itu, jika ingin mulai berinvestasi, fokuslah pada proses belajar terlebih dahulu. Keuntungan bisa datang kemudian. Namun pemahaman yang baik akan menjadi modal yang jauh lebih berharga untuk bertahan dalam jangka panjang.

Chrisna Chanis Cara
Editor
