Panduan Lengkap Beli Obligasi Untuk Investor Pemula
- Obligasi merupakan surat utang yang diterbitkan oleh pemerintah atau perusahaan kepada investor sebagai bentuk pembiayaan.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Obligasi menjadi salah satu instrumen investasi favorit para Investor. Saat ekonomi global bergejolak dan fluktuasi pasar saham, instrumen ini dinilai menawarkan risiko yang relatif lebih rendah dengan imbal hasil yang stabil.
Kondisi tersebut membuat obligasi cocok bagi investor pemula yang ingin menjaga modal sekaligus memperoleh pendapatan rutin. Dibandingkan saham, obligasi juga lebih mudah dipahami karena memiliki struktur pengembalian yang jelas dan jadwal pembayaran yang terukur.
Karakteristik imbal hasil yang cenderung tetap menjadikan obligasi pilihan untuk strategi investasi jangka menengah hingga panjang, khususnya bagi mereka yang menghindari volatilitas tinggi.
Apa Itu Obligasi?
Obligasi merupakan surat utang yang diterbitkan oleh pemerintah atau perusahaan kepada investor sebagai bentuk pembiayaan.
Dalam mekanisme ini, penerbit obligasi memiliki kewajiban untuk mengembalikan dana pokok yang dipinjam beserta bunga atau kupon dalam jangka waktu tertentu.
Di Indonesia, obligasi diterbitkan oleh pemerintah dalam bentuk Surat Berharga Negara (SBN) serta oleh perusahaan swasta melalui obligasi korporasi yang diperdagangkan di pasar modal.
Baca juga : Efek Bahlil Pangkas RKAB Nikel, Saham NCKL Cs Layak Kejar?
Cara Kerja Investasi Obligasi
Dalam investasi obligasi, investor berperan sebagai pihak yang memberikan pinjaman dana kepada penerbit. Dana tersebut kemudian dimanfaatkan oleh penerbit untuk kebutuhan pembiayaan, sementara investor menerima pembayaran kupon secara berkala, baik bulanan maupun kuartalan.
Pembayaran kupon ini berlangsung hingga obligasi mencapai tanggal jatuh tempo, saat penerbit wajib melunasi pokok investasi kepada investor.
Keuntungan Investasi Obligasi
Salah satu daya tarik utama obligasi adalah tingkat keamanannya yang relatif tinggi, khususnya untuk obligasi pemerintah yang dijamin negara.
Selain itu, obligasi memberikan arus kas rutin dari kupon yang dibayarkan secara berkala. Investor juga berpeluang memperoleh capital gain apabila menjual obligasi di pasar sekunder pada harga yang lebih tinggi.
Dibandingkan deposito, imbal hasil obligasi umumnya lebih menarik, serta memiliki posisi klaim yang lebih tinggi dibanding saham apabila terjadi likuidasi perusahaan.
Panduan Membeli Obligasi bagi Investor Pemula
Bagi investor pemula, langkah awal sebelum membeli obligasi adalah menentukan tujuan investasi, apakah untuk pendapatan rutin atau perlindungan nilai aset.
Pemilihan jenis obligasi juga harus disesuaikan dengan profil risiko, di mana obligasi pemerintah menawarkan tingkat keamanan lebih tinggi, sementara obligasi korporasi memberikan kupon yang lebih besar dengan risiko yang meningkat.
Investor perlu memperhatikan peringkat kredit obligasi korporasi, membuka rekening surat berharga melalui bank atau perusahaan sekuritas, serta menyiapkan dana awal yang relatif terjangkau, mulai dari Rp1 juta untuk obligasi ritel pemerintah.
Baca juga : Apakah Perpecahan YouTube dan Billboard Akan Rugikan K-Pop?
Risiko Investasi Obligasi
Meskipun tergolong aman, obligasi tetap memiliki risiko yang perlu dipahami. Kenaikan suku bunga dapat menekan harga obligasi di pasar sekunder, sehingga berpotensi menimbulkan kerugian jika dijual sebelum jatuh tempo.
Selain itu, obligasi korporasi memiliki risiko gagal bayar, terutama yang memiliki peringkat kredit rendah. Oleh karena itu, diversifikasi investasi menjadi langkah penting untuk meminimalkan potensi risiko.
Prospek Obligasi 2026
Ke depan, obligasi diperkirakan tetap menjadi instrumen unggulan bagi investor dengan profil konservatif. Instrumen ini dinilai cocok untuk perencanaan keuangan jangka panjang seperti dana pendidikan dan dana pensiun karena memberikan kepastian arus kas.
Dengan kondisi ekonomi yang masih berfluktuasi, obligasi berpotensi menjadi penopang stabilitas keuangan keluarga sekaligus sarana membangun portofolio investasi yang lebih seimbang.

Amirudin Zuhri
Editor
