Opini

Outlook Pasar Saham Indonesia di Tengah Tekanan Defisit APBN 2026

  • Di tengah kondisi makro-fiskal 2026 yang diwarnai pelebaran defisit APBN 2,85% dan volatilitas nilai tukar Rupiah, strategi acak akan sangat berbahaya bagi modal.
trenasia

trenasia

Author

Ilustrasi pergerakan IHSG dan obligasi di pasar modal
Ilustrasi pergerakan IHSG di pasar modal. Infografis: Deva Satria/TrenAsia (TrenAsia.com)

Oleh: Moh Fendi Susiyanto, S.Si, MM, CWM®, CTA, CSA

Analis dan Pengamat Pasar Modal dan Perbankan

Arah kebijakan makroekonomi Indonesia memasuki babak baru yang penuh tantangan. Dinamika makro-fiskal terbaru, meskipun konflik geopolitik Iran dengan Israel&AS mereda, dan kembali turunnya harga minyak global, namun masih menjadi faktor yang menekan secara struktural dan signifikan postur APBN 2026. 

Kombinasi antara melambatnya pertumbuhan pendapatan negara dan melonjaknya belanja wajib (mandatory spending) mendorong pelebaran defisit anggaran yang mendekati ambang batas konstitusional 3%. 

Fenomena ini tidak hanya mengubah lanskap pengelolaan utang publik, tetapi juga menjadi jangkar sentimen utama yang menentukan arah pergerakan pasar saham Indonesia sepanjang sisa tahun 2026. Kementerian Keuangan baru saja menyampaikan keyakinannya bahwa outlook defisit APBN 2026 hanya akan membengkak hingga mencapai Rp734,3 triliun, atau setara dengan 2,85% terhadap PDB tidak sampai 3%.

Angka ini melonjak signifikan Rp 44,2Triliun dibandingkan dengan target awal yang ditetapkan dalam UU APBN 2026 sebesar Rp689,1 triliun atau 2,68% PDB. Pelebaran defisit struktural ini dipicu oleh ketimpangan pertumbuhan antara pos belanja dan pendapatan negara di mana sisi pengeluaran diproyeksikan Rp3.942,4 triliun atau 102,6% dari pagu awal. 

Defisit anggaran diproyeksikan melebar hingga 2,85% terhadap PDB. Meskipun total pendapatan negara diproyeksikan mampu melampaui target awal menjadi Rp3.208,1 triliun (101,7% dari target) dari kotribusi PNBP, namun proyeksinya penerimaan perpajakan justru mengalami shortfall. 

Sektor perpajakan diperkirakan hanya terealisasi sebesar Rp2.631,4 triliun atau hanya 97,7% dari target awal, yang mencerminkan terbatasnya daya beli domestik dan berakhirnya era windfall profit komoditas.

Pelaku pasar sangat mencermati potensi pembengkakan defisit keseimbangan primer, secara akumulatif hingga semester 1 2026, menunjukkan surplus sebesar Rp85,1 triliun. Namun perkembangannya dari sisi pengeluaran pokok yang membengkak berimbas buruk pada keseimbangan primer yang diproyeksikan berbalik defisit sebesar Rp152,1 triliun pada akhir tahun ini.

Angka itu melonjak tajam dari target awal APBN yang hanya defisit Rp89,7 triliun. Kondisi ini menjadi alarm bagi pasar karena menunjukkan bahwa pemerintah mulai mengandalkan pembiayaan utang baru bukan hanya untuk membayar bungadari utang yang sudah ada (debt compounding effect), melainkan juga menopang pengeluaran dasar negara. 

Siklus commodity supercycle yang sempat menjadi andalan penyelamat bagi APBN kita pasca-pandemi Covid19 nampaknya sudah mulai berakhir. Kenaikan harga-harga komoditas batu bara dan minyak kelapa sawit mentah, saat ini tidak lagi memberikan windfall profit yang masif sehingga pendapatan negara back to normal. 

Hal ini tentu saja menciptakan tantangan struktural baru bagi pengelolaan fiskal hingga akhir tahun 2026. Meskipun secara total outlook PNBP diproyeksikan mampu melampaui target awal hingga mencapai Rp575,1 triliun atau 125,2% dari pagu anggaran, namun penopang utamanya tidak lagi berasal dari pertumbuhan volume atau harga komoditas mineral riil yang agresif. 

Lompatan ini lebih banyak dipengaruhi oleh penyesuaian tarif, dividen BUMN yang digenjot habis-habisan, serta pengaruh dari penerimaan dalam US Dollar.

Transmisi Risiko Fiskal terhadap Pasar Saham Indonesia 

Kondisi disiplin fiskal yang ketat namun ekspansif terarah ini lebih menjadi sentimen yang kurang menggembiraan ke pasar modal karena tiga potensi imbas yang terjadi, yaitu efek crowding out dan kenaikan imbal obligasi Negara, dan tekanan nilai tukar Rupiah dan capital outflow serta meningkatnya biaya modal (cost of capital) sebagian besar emiten di bursa saham. 

Crowding-Out Effect dan Kenaikan Imbal Hasil Obligasi Negara

Efek crowding-out adalah kondisi yang dapat terjadi di mana pemerintah menyerap porsi likuiditas pasar yang terlalu besar di pasar keuangan, sehingga membatasi dan mengurangi ruang bagi sektor swasta untuk mendapatkan pendanaan dari pasar. 

Untuk menutupi pembiayaan defisit yang membengkak menjadi Rp734,3 triliun, pemerintah harus meningkatkan jumlah penerbitan SBN secara agresif dan mendorong naiknya yield ke kisaran 6,8% hingga 7,3%. Ketika instrumen risk-free seperti SBN memberikan imbal hasil di atas 7%, daya tarik pasar saham domestik menjadi turun. 

Investor institusi besar seperti perusahaan asuransi, dana pensiun dan manajer investasi cenderung melakukan re-aloksi aset keluar dari instrumen saham yang berisikotinggi ke pasar obligasi untuk mengunci imbal hasil tinggi dengan risiko yang lebih kecil. Hal ini membatasi ketersediaan likuiditas di pasar saham untuk menggerakkan IHSG.

Tekanan Rupiah dan Capital Outflow 

Pelebaran fiskal yang mendekati batas maksimal 3% PDB meningkatkan persepsi risiko investasi Indonesia dari perspektif kacamata pengelola dana global. Sentimen makro ini, dapat memicu meningkatnya volatilitas Rupiah.

Tekanan dari faktor global dan kondisi fiskal sempat mendorong melemahnya rupiah hingga level Rp 18.200/USD. Pelemahan Rupiah secara historical memiliki hubungan psoitif dengan aksi jual bersih investor asing di pasar saham. Penurunan partisipasi asing mendorong turunya transaksi harian di bursa saham dan menahan pergerakan IHSG untuk bergerak naik. 

Pembengkakan Biaya Modal (Cost of Fund) 

Sebagian besar Emiten di Bursa Saham Potensi naiknya imbal hasil SBN bertindak sebagai salah satu acuan utama bagi suku bunga pinjaman perbankan (cost of credit). Korporasi atau emiten yang melantai di BEI dengan rasio utang tinggi (high leverage) akan menghadapi tantangan berat akibat kenaikan biaya bunga. 

Perkembangan data inflasi tahunan kita berada pada level 3,34% (yoy). Tingkat inflasi yang relatif tinggi ini menjadi perhatian penting Bank Indonesia untuk melonggarkan kebijakan moneter secara agresif. 

Suku bunga kredit yang tetap tinggi akan menekan margin laba bersih emiten, memperlambat ekspansi kapasitas produksi, dan pada akhirnya menurunkan pertumbuhan laba per saham emiten-emiten di bursa saham.

Potensi dampak Outlook Makro-Fiskal 2026 terhadap Sektoral Saham di BEI 

Di tengah potensi pembengkakan defisit APBN 2026 dan pasar saham yang bergerak defensif dan bersifat earnings-driven, sangat bijak bagi investor untuk tidak meninggalkan potensi saham. Lakukan pemilihan yang tepat serta rotasi sektoral dalam melakukan alokasi portofolio. 

Sektor Perbankan 

Potensi Kenaikan imbal hasil SBN akan mendorong sektor perbankan menaikkan suku bunga dana terutama deposito agar likuiditas bank tidak tersedot keluar karena crowding-out effect. Suku bunga acuan yang bertahan tinggi untuk melawan inflasi yang kini di level 3,34% membatasi ruang pelonggaran moneter. 

Emiten bank besar tetap diuntungkan karena rata-rata memiliki rasio dana murah (current account & saving account CASA) di atas 60% (seperti emiten bank kode BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI) relatif tangguh karena mampu melakukan strategi kompensasi kenaikan suku bunga ke debitur-debiturnya, sehingga Net Interest Margin (NIM) akan tetap terjaga di level sehat diatas 4,7%. 

Bank-bank ini juga berpeluang memperoleh pendapatan dari penempatan dananya pada SBN yang imbal hasilnya tinggi. Bank Lapis Kedua (secondliner banks) kurang diuntungkan karena cendeurng mengalami penurunan margin laba akibat ketergantungan sangat tinggi pada dana mahal (deposito). 

Outlook saham sektor perbankan masih prospektif dan tetap menjadi backbone bagi pasar saham indoensia (IHSG), meksipun pertumbuhan kredit cenderung akan melambat karena aspek kehati-hatian dan manajemen risiko kredit yang lebih ketat.

Sektor Properti 

Melebarnya defisit APBN secara tidak langsung menaikkan suku bunga KPR bagi sektor properti, mengingat sektor properti sangat tidak elastis terhadap kenaikan suku bunga jangka panjang. 

Dari sisi permintaan produk properti, angka penjualan tahunan emiten-emiten properti diproyeksikan terkoreksi 7-11% akibat konsumen kelas menengah menunda pembelian aset tetap. 

Dari sisi liabilitasnya, beban utang cenderung membengkak terutama bagi emiten yang memiliki porsi utang obligasi/bank jangka pendek yang tinggi. Tekanan kurs Rp18.200/USD turut menaikkan biaya material terlebih bahan baku impor untuk proyek properti besar. 

Outlook Sektor Properti secara umum adalah underweight. Emiten yang memiliki rasio Debt-to-Equity (DER) di atas 1,0x lebih baik dihindari terlebih dahulu untuk memitigasi risiko penurunan laba bersih secara drastis.

Sektor Konstruksi 

Defisit fiskal yang mendekati batas maksimal 3% akan memaksa belanja negara diprioritaskan pada pos-pos strategis dan prioritas (Pos Makan Bergizi Gratis dan pos jaring pengaman sosial akan lebih diprioritaskan). Alokasi dana APBN untuk proyek infrastruktur baru non-prioritas cenderung diperketat atau ditunda terlebih dahulu. 

Rata-rata Arus kas operasional BUMN Karya (seperti ADHI, PTPP,WKST dan WIKA) masih tertekan karena lambatnya termin pembayaran proyek-proyek pemerintah meskipun ada harapan pembayaran dari selesainya proyek pembangunan IKN semester kedua ini. 

Beban bunga sektor konstruksi sangat besar, dengan kondisi struktur permodalan yang sangat bergantung pada utang modal kerja (high leverage). Dengan biaya modal (cost of fund) yang merangkak naik berisiko tinggi menggerus seluruh margin laba kotor, dan menyisakan laba bersih yang sangat tipis atau bahkan berbalik menjadi rugi. 

Outlook Sektor konstruksi adalah underweight. Risiko finansial struktural dan restrukturisasi utang masih menjadi beban utama sektor ini sepanjang sisa tahun 2026.

Sektor Infrastruktur 

Dampak terhadap sektor infrastruktur terbagi berdasarkan model bisnis emiten yang berbedabeda. Untuk sektor infrastruktur yang berbasis proyek pemerintah versus infrastruktur berbasis konsumsi publik seperti jalan tol dan menara telekomunikasi. 

Emiten dengan model bisnis pendapatan berulang (recurring revenue) berbasis tarif terindeks inflasi (seperti JSMR, TOWR, TBIG, MTEL) memiliki arus kas masuk (cash inflow) yang sangat stabil. 

Risiko utama yang dihadapi sektor ini adalah pada utang dalam denominasi mata uang asing yang digunakan untuk ekspansi bisnis sebelumnya. Jika Rupiah menembus Rp18.200/USD, maka emiten infrastruktur tersebut tanpa memiliki strategi lindung nilai yang baik akan berpotensi mencatatkan kerugian karena selisih kurs (unrealized forex loss). 

Outlook Sektor infrastruktur in adalah netral ke positif. Strategi yang cukup tepat disituasi sekarang ini adalah memilih emiten dengan rasio kecukupan arus kas operasional yang lebih besar daripada beban bunga tahunannya. 

Sektor Telekomunikasi 

Sektor telekomunikasi merupakan sektor yang defensif yang tidak terpengaruh oleh pengetatan postur APBN. Konsumsi data per kapita masyarakat Indonesia tetap akan tumbuh stabil karena pemakaian data dan internet telah menjadi kebutuhan utama masyarakat. 

Emiten sektor telekomunikasi seperti TLKM, ISAT, dan EXCL menikmati pendapatan yang stabil dan berkelanjutan. Belanja negara yang ekspansif di pos bantuan sosial turut menjaga daya beli masyarakat bawah untuk tetap bisa mengonsumsi kebutuhan komunikasi. 

Risiko sektor telekomunikasi ini terbatas pada Capital expenditures (CAPEX) yang besar seperti pembelian perangkat jaringan spektrum 5G yang dihargai dalam mata uang dollar AS. 

Pelemahan Rupiah ke Rp18.200/USD akan menaikkan nilai investasi CAPEX, namun dampaknya diredam oleh posisi neraca kas mereka yang sangat tebal. Outlook Sektortelekomunikasi adalah overweight dan menjadi salah satu sektor Safe Haven utama bersama barang konsumsi non-siklikal.

Sektor Pertambangan dan Energi 

Sektor pertambangan dan energi berorientasi ekspor dan berbasis komoditas global seperti batu bara, nikel, emas, dan migas, memiliki pendapatan yang didominasi oleh mata uang dolar AS. 

Pelemahan Rupiah hingga level Rp18.200/USD memberikan keuntungan konversi kurs secara masif bagi emiten ekportir seperti ADRO, PTBA, ANTM, dan AMMN. Pendapatan operasional di pembukuan rupiah otomatis terdorong naik diuntungkan pelemahan Rupiah. 

Potensi keuntungan sektor ini dari kurs rupiah sedikit tergerus oleh kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) industri dan suku cadang alat berat yang diimpor, dan harga minyak mentah global berada di kisaran tinggi kisaran $77-85 per barel. 

Outlook sektor pertambangan dan energi adalah overweight. Emiten mineral emas dan batu bara dengan cash cost (biaya produksi tunai) yang rendah cenderung diuntungkan secara ganda oleh kenaikan harga komoditas dan pelemahan nilai tukar Rupiah. 

Sektor Konsumsi Non-siklikal (Consumer Goods Non cyclical) 

Sektor ini akan menjadi sektor penerima manfaat langsung dari suntikan stimulus fiskal. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan peningkatan alokasi perlindungan sosial menjaga perputaran uang di masyarakat akar rumput tetap tinggi. 

Emiten konsumsi primer seperti ICBP, MYOR, SIDO, dan INDF cenderung akan mencatatkan pertumbuhan volume penjualan yang solid karena daya beli masyarakat ditopang oleh anggaran belanja negara yang ekspansif di pos makanan. 

Kemampuan emiten blue-chip sektor konsumer ini untuk menaikkan harga jual rata-rata (Average Selling Price) sebesar 3,8% membuat mereka mampumengalihkan tekanan biaya bahan baku impor seperti bahan baku gandum atau gula akibat kurs Rp18.200/USD langsung ke konsumen tanpa mengorbankan margin laba bersih mereka. Outlook Sektor konsumer non-siklikal adalah overweight.

Sektor Perdagangan (Retail & Trade) 

Dampak defisit fiskal dan pelemahan Rupiah membelah sektor ritel menjadi dua kutub yang bertolak belakang berdasarkan target pasarnya. Ritel Kebutuhan Pokok (Minimarket/Grosir) memiliki outlook positif. 

Emiten seperti AMRT dan MIDI diuntungkan oleh tingginya frekuensi belanja masyarakat untuk barang-barang konsumsi harian yang ditopang stimulus fiskal. Perputaran persediaan (inventory turnover) berjalan cepat. 

Ritel Barang Sekunder/Mewah justru cenderung negatif. Emiten ritel kelas menengah-atas yang menjual barang-barang gaya hidup impor (gadget, fesyen, atau gawai elektronik seperti ACES, MAPI) cenderung tertekan. Kurs Rp18.200/USD akan mendorong baiknya harga pokok penjualan mereka secara cepat, sementara daya beli kelas menengah cenderung menahan belanja kebutuhan yang tidak terlalu pokok. 

Bagaimana Strategi yang Tepat? 

Di tengah kondisi makro-fiskal 2026 yang diwarnai pelebaran defisit APBN 2,85% dan volatilitas nilai tukar Rupiah di kisaran Rp18.200/USD, strategi acak tanpa aturan baku akan sangat berbahaya bagi modal kita. 

Strategi trading dan investasi saham yang cukup tepat disaat kondisi fiskal yang ketat, tetap harus mempetimbangkan motif dan tujuan keuangan kita.

I. Untuk Strategi Investasi Jangka Panjang (Value & Growth Investing) 

Tetap melakukan investasi dengan berfokus pada kualitas bisnis secara fundamental dan memeprtimbangkan kekuatan dan daya tahan keuangan emiten untuk jangka waktu di atas 1 tahun hingga 5 tahun. 

1.Skrining Neraca Emiten Ketat (Debt-Filter) 

Karena suku bunga kredit cenderung bertahan tinggi akibat naiknya yield SBN, sebaiknya hindari emiten-emiten dengan rasio utang tinggi. Prioritaskan saham dengan Debt-to-Equity Ratio (DER) di bawah 0,7x atau emiten yang memiliki posisi kas bersih (net cash) positif dan besar. 

2.Fokus pada Pricing Power 

Pilih emiten blue-chip yang mampu menaikkan harga jual produknya saat terjadi inflasi tinggi tanpa kehilangan pelanggan yang besar. Hal ini akan menjaga margin laba bersih emiten tetap stabil. 

3.Terapkan Investasi Metode Dollar-Cost Averaging (DCA)

Melakukan pembelian bertahap secara reguler dan disiplin tanpa harus membeli sekaligus (lump-sum) saat pasar saham (IHSG) sedang berkonsolidasi defensif seperti saat sekarang ini. Belilah secara konsisten setiap bulan atau mingguan pada saham-saham sektor unggulan seperti saham perbankan besar untuk mendapatkan harga rata-rata yang optimal. 

4.Evaluasi Valuasi (Margin of Safety)

Lebih bijak untuk investasi pada saham yang harga pasarnya berada di bawah atau setara dengan nilai intrinsiknya dengan menggunakan indikator Price-to-Earnings (P/E) Ratio atau Price-to-Book Value (PBV) Ratio yang berada di bawah rata-rata historis 5 tahun terakhir.

II. Strategi Trading Jangka Pendek (Swing & Position Trading) 

Strategi trading ini lebih berfokus pada pergerakan harga secara teknikal, melihat momentum harga, dan menerapkan manajemen risiko ketat dalam hitungan intraday, hari hingga beberapa minggu.

1.Rotasi Sektor Berbasis Sentimen Makro

Memanfaatkan momentum pelemahan Rupiah dengan melakukan swing trading pada saham-saham yang diuntungkan oleh menguatnya dolar AS, seperti sektor pertambangan emas dan batu bara yang mendapatkan keuntungan besar dari adanya selisih kurs.

2.Manajemen Risiko Ketat dengan Disiplin Stop Loss (Maksimal 3%–8%)

Di situasi pasar saham yang memiliki volatilitas tinggi, maka proteksi modal adalah prioritas utama. Dengan membatasi risiko kerugian maka secara otomatis kerugian terbesar adalah pada level stop loss yang kita tolerir. 

3.Trading Hanya pada Saham Likuid dan Sedang  Tren Menguat

Membatasi aktivitas trading hanya pada saham-saham yang masuk dalam indeks LQ45 atau Kompas100 yang memiliki volume transaksi harian besar, dan memastiikan struktur grafik teknikal saham membentuk pola Higher High dan Higher Low. 

4.Manfaatkan Strategi Buy on Weakness

Saat IHSG tertekan oleh isu capital outflow asing, saham-saham bagus sering kali ikut terkoreksi secara teknikal ke area jenuh jual (oversold).

(Disclaimer On)