Optimisme Ekonomi Global Bangkit, Wall Street Melonjak setelah Sinyal Damai Dagang AS-China
- Sebagai hasil kesepakatan tersebut, tarif AS atas produk-produk dari China dipangkas dari 145% menjadi 30%, sementara China menurunkan tarif barang-barang asal AS dari 125% menjadi 10%.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA - Pasar saham Amerika Serikat mencatat lonjakan tajam pada perdagangan Senin, 12 Mei 2025, dipicu oleh kesepakatan pengurangan tarif antara AS dan China. Sentimen positif ini membangkitkan optimisme bahwa ketegangan dagang yang sempat membayangi pertumbuhan ekonomi global akhirnya mulai mereda.
Dow Jones Industrial Average ditutup menguat 2,81% atau naik 1.160,72 poin ke posisi 42.410,1. Sementara itu, S&P 500 melonjak 3,26% ke 5.844,19 dan berhasil menutup hampir seluruh penurunannya sejak awal tahun. Adapun Nasdaq Composite mencatat kenaikan terbesar dengan reli 4,35% ke level 18.708,34.
Kesepakatan dagang yang mendorong reli ini tercapai dalam pertemuan bilateral akhir pekan lalu di Swiss. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan bahwa pembicaraan dengan pihak China berlangsung sangat produktif, dan menghasilkan pemangkasan tarif impor kedua negara secara substansial. "Kami akan melanjutkan dialog untuk menjajaki kesepakatan yang lebih permanen," kata Bessent di akhir pertemuan dikutip dari CNBC International pada Selasa, 13 Mei 2025.
- Plus-Minus Pengalihan Impor BBM dari Singapura ke AS
- Prakiraan Cuaca Besok dan Hari Ini 13 Mei 2025 untuk Wilayah DKI Jakarta
- Setelah MMA, Taliban Kini Haramkan Catur karena Dianggap Judi
Sebagai hasil kesepakatan tersebut, tarif AS atas produk-produk dari China dipangkas dari 145% menjadi 30%, sementara China menurunkan tarif barang-barang asal AS dari 125% menjadi 10%. Langkah ini dipandang sebagai bentuk de-eskalasi yang mampu memulihkan sentimen pelaku pasar, yang sebelumnya tertekan oleh perang tarif selama beberapa bulan terakhir.
Kenaikan indeks juga ditopang lonjakan saham sektor teknologi dan perusahaan berbasis impor. Tesla naik hampir 7%, Apple dan Nvidia masing-masing menguat 6% dan 5%, sementara Amazon melonjak lebih dari 8%. "Investor melihat ini sebagai sinyal bahwa risiko perang dagang sistemik mulai menurun," ujar Jeff Kilburg, CEO KKM Financial.
Di saat yang sama, imbal hasil obligasi pemerintah AS ikut naik karena prospek resesi dinilai mereda. Hal ini membuat kemungkinan pemangkasan suku bunga oleh The Fed menjadi lebih kecil dalam jangka pendek. Harga minyak juga turut menguat, seiring proyeksi peningkatan permintaan global pasca-kesepakatan.
Namun, efek rotasi sektor mulai terlihat. Saham-saham defensif yang sebelumnya diburu saat pasar tidak menentu kini mulai melemah. Coca-Cola turun 1,4%, Philip Morris terkoreksi 2,9%, dan AT&T kehilangan hampir 3%. "Investor kini mengalihkan asetnya dari sektor defensif ke sektor siklikal," kata Kilburg.
Sebelumnya, ketegangan memuncak pada April lalu setelah Presiden AS Donald Trump menaikkan tarif terhadap China hingga 145%, yang kemudian dibalas dengan tarif 125% oleh Beijing. Saat itu, indeks S&P 500 sempat mendekati wilayah bear market sebelum akhirnya pulih perlahan setelah AS memberikan kelonggaran tarif sementara terhadap negara lain.
Kini, kesepakatan dengan China menjadi bagian dari strategi pemulihan hubungan dagang AS secara bertahap. Setelah kesepakatan awal dengan Inggris pada pekan lalu, pasar kembali menguat seiring munculnya harapan akan kestabilan kebijakan perdagangan. "Trump bahkan sempat mengisyaratkan pemangkasan tarif hingga 80% jika negosiasi berjalan baik," kata Bessent dalam pernyataan terpisah.
Meski demikian, analis menilai kesepakatan tarif ini belum bersifat final. Kepala Strategi Ekuitas LPL Financial, Jeff Buchbinder, menyatakan bahwa pemangkasan tarif kali ini lebih bersifat sementara. "Masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan untuk mencapai kesepakatan permanen," ucap Buchbinder, menegaskan perlunya kewaspadaan pasar terhadap dinamika yang terus berkembang.
Dengan reli tajam di pasar saham dan menguatnya aset-aset berisiko, para pelaku pasar kini menantikan kelanjutan dialog dagang AS-China. Jika arah kebijakan perdagangan tetap positif, bukan tidak mungkin Wall Street akan mencetak rekor-rekor baru dalam beberapa pekan ke depan.

Amirudin Zuhri
Editor
