Korporasi

Ongkos Proyek Membengkak, Wijaya Karya Nego Porsi Sahamnya di Proyek Kereta Cepat

  • Proyek kereta cepat Jakarta-Bandung dikabarkan mengalami pembengkakan biaya (cost overrun) hingga 23% menjadi sekitar US$6,07 miliar atau Rp88,72 triliun (dengan kurs Rp16.681 per dolar AS).

<p>Kereta api super cepat yang akan digunakan rute Jakarta-Bandung. Kereta api berkecepatan tinggi ini ditargetkan dapat memangkas waktu tempuh Jakarta-Bandung dari sebelumnya 3 jam menjadi 40 menit dengan kecepatan 350 kilometer per jam. Panjang rute KA cepat Jakarta-Bandung mencapai 142,3 kilometer. / Kcic.co.id</p>

Kereta api super cepat yang akan digunakan rute Jakarta-Bandung. Kereta api berkecepatan tinggi ini ditargetkan dapat memangkas waktu tempuh Jakarta-Bandung dari sebelumnya 3 jam menjadi 40 menit dengan kecepatan 350 kilometer per jam. Panjang rute KA cepat Jakarta-Bandung mencapai 142,3 kilometer. / Kcic.co.id

(Istimewa)

JAKARTA – Proyek kereta cepat Jakarta-Bandung dikabarkan mengalami pembengkakan biaya (cost overrun) hingga 23% menjadi sekitar US$6,07 miliar atau Rp88,72 triliun (dengan kurs Rp16.681 per dolar AS). PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), sebagai salah satu pelaksana proyek, buka suara soal ini.

“Jadi memang di kereta cepat tentunya akan terjadi cost overrun yang saat ini sedang di hitung oleh teman-teman KCIC (PT Kereta Cepat Indonesia-China),” ujar Direktur Utama Wijaya Karya Agung Budi Waskito dalam webinar virtual, Rabu, 14 April 2021.

Saat ini, WIKA sedang menunggu kepastian berapa besar pembengkakan biaya tersebut. Akan tetapi, Agung mendengar memang pembengkakan biaya kurang lebih di angka 20%.

Tercatat, PT KCIC adalah perusahaan gabungan antara konsorsium Indonesia, PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia, dan konsorsium Cina, Beijing Yawan HSR Co Ltd. Konsorsium Indonesia memiliki 60% saham dalam perusahaan gabungan tersebut, sementara konsorsium Cina memliki 40%.

“Jadi kami sedang melakukan negosiasi dengan pihak Cina agar porsi Indonesia ini lebih kecil dari 60%,” tambahnya.

Dengan begitu, pembengkakan biaya yang terjadi tidak berpengaruh sama sekali dengan saham yang sudah disetor oleh WIKA. Juga, pihak perusahaan berharap pembengkakan tersebut ditanggung pemerintah Cina.

Sebagai informasi, konsorsium Indonesia dalam KCIC terdiri dari empat Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yaitu WIKA dengan 38% saham, PT Perkebunan Nusantara VIII (Persero) dan PT Kereta Api Indonesia (Persero) masing-masing 25% saham, dan PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR) dengan 12% saham.

Sebelumnya, Corporate Secretary PT KCIC Mirza Soraya juga tidak menyangkal adanya pembengkakan biaya dalam pengerjaan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung. Namun, dirinya tak menyebut berapa besar pembengkakan anggaran pembangunan kereta cepat tersebut.

Untuk diketahui, feasibility study (FS) pembangunan Kereta Cepat Jakarta- Bandung disusun pada 2015 atau enam tahun silam. Seiring dengan berjalannya waktu dan proses, kata Mirza, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi termasuk inflasi yang terjadi.

“Biaya tak terduga juga biasanya muncul kala dilakukannya pembebasan lahan dan pemindahan utilitas-utilitas yang terlewati trase kereta, yang baru dapat diketahui terperinci keseluruhan biaya yang timbul, setelah pengerjaan dilakukan,” tambahnya.(RcS)