Olimpiade Musim Dingin 2026 Dibayangi Perubahan Iklim
- Olimpiade Musim Dingin 2026 di Italia dibayangi perubahan iklim, krisis salju, dan polusi udara di Lembah Po. Kenaikan suhu jadi perhatian.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Olimpiade Musim Dingin 2026, yang secara resmi bernama Pertandingan Olimpiade Musim Dingin XXV dan dikenal sebagai Milano Cortina 2026, akan digelar pada 6–22 Februari 2026 di Italia.
Ajang olahraga internasional ini diselenggarakan di dua kota besar Italia, Milan dan Cortina d'Ampezzo, setelah ditetapkan sebagai tuan rumah dalam Sidang Komite Olimpiade Internasional (IOC) ke-134 di Lausanne, Swiss, pada 24 Juni 2019, mengalahkan kandidat Stockholm–Åre.
Olimpiade kali ini menjadi yang keempat bagi Italia, sekaligus yang pertama bagi Milan sebagai kota tuan rumah Olimpiade Musim Dingin. Penyelenggaraan Olimpiade juga menandai 20 tahun Olimpiade Musim Dingin Torino 2006 dan 70 tahun Olimpiade Cortina 1956.
Di balik perhelatan olahraga dunia tersebut, muncul sorotan tajam terhadap tantangan perubahan iklim dan persoalan lingkungan serius, terutama di Italia Utara.
Baca juga : Emisi Global Makin Tinggi, Alarm Iklim Kian Nyaring
Venue dan Perubahan Iklim Sejak 1956
Olimpiade Musim Dingin 2026 akan berlangsung di empat klaster utama di Italia Utara, dengan mayoritas venue memanfaatkan fasilitas yang telah ada. Meski demikian, kondisi iklim di wilayah penyelenggaraan mengalami perubahan signifikan dibandingkan saat Cortina pertama kali menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Dingin pada 1956.
Dikutip laporan perusahaan teknologi kualitas udara asal Swiss, IQAir, Rabu, 4 Februari 2026, menunjukkan suhu rata-rata Februari di Cortina d'Ampezzo meningkat sekitar 6,4°F (3,6°C) dibandingkan tahun 1956, sementara Milan mengalami kenaikan suhu sekitar 5,8°F (3,2°C).
Kenaikan suhu ini berdampak langsung pada stabilitas salju alami, yang menjadi faktor krusial bagi keselamatan atlet dan kelancaran pertandingan. Selain itu, jumlah hari membeku per tahun di Cortina menurun sekitar 41 hari atau 19 persen, mempersempit jendela waktu untuk produksi dan pemeliharaan salju buatan.
Dalam periode 1971–2019, rata-rata kedalaman salju alami di kawasan tersebut juga tercatat berkurang sekitar 15 sentimeter, sehingga ketergantungan pada salju buatan diperkirakan melebihi 3 juta meter kubik selama Olimpiade berlangsung.
Secara klasifikasi, Cortina kini berada di kategori menengah dalam tingkat kerentanan salju untuk olahraga musim dingin. Bahkan, proyeksi jangka panjang menunjukkan bahwa pada dekade 2050-an, hanya 52 dari 93 kota yang pernah menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Dingin diperkirakan masih memiliki iklim yang andal untuk menyelenggarakan ajang serupa.
Baca juga : Emisi Global Makin Tinggi, Alarm Iklim Kian Nyaring
Ancaman Polusi Udara di Lembah Po
Selain perubahan iklim, kualitas udara menjadi tantangan besar lainnya, khususnya di klaster Milan dan Verona yang berada di wilayah Lembah Po. Kawasan ini dikenal sebagai salah satu daerah dengan tingkat polusi udara tertinggi di Eropa.
Secara geografis, Lembah Po dikelilingi oleh Pegunungan Alpen dan Apennine, menciptakan efek seperti “mangkuk” yang memerangkap udara dingin dan polutan, terutama saat inversi suhu pada musim dingin. Kondisi ini menyebabkan akumulasi polusi sulit terdispersi.
Sumber polusi utama berasal dari aktivitas industri, lalu lintas kendaraan, sektor pertanian (emisi amonia), serta pembakaran kayu untuk pemanasan. Akibatnya, konsentrasi partikel halus berbahaya seperti PM2.5 di Milan kerap melonjak tajam selama musim dingin.
Paparan PM2.5 diketahui dapat mengurangi penyerapan oksigen dan menurunkan fungsi paru-paru. Kondisi ini dinilai berisiko bagi atlet, terutama di cabang olahraga ketahanan seperti ski lintas alam dan biathlon, bahkan meski terpapar dalam jangka waktu singkat.
Panitia penyelenggara mengklaim mengedepankan prinsip keberlanjutan dengan menyebut bahwa 92 persen venue bersifat eksisting atau sementara, serta berkomitmen melakukan inventarisasi karbon secara menyeluruh.
Baca juga : Emisi Global Makin Tinggi, Alarm Iklim Kian Nyaring
Namun, sejumlah pakar lingkungan mengkritik langkah tersebut karena dinilai tidak memasukkan emisi perjalanan penonton dan menggunakan pendekatan “akuntansi kreatif” dalam mengklasifikasikan renovasi besar sebagai penggunaan ulang fasilitas.
Rencana pembangunan ulang trek sliding di Cortina juga menuai kritik tajam karena melibatkan penebangan ribuan pohon dan berpotensi menjadi fasilitas mangkrak atau “gajah putih” setelah Olimpiade usai.
Di luar isu lingkungan, Olimpiade Musim Dingin 2026 juga mencatat sejumlah fakta historis dan inovatif. Ajang ini menjadi pertama kalinya dua kota yang sama-sama memiliki sejarah Olimpiade Musim Dingin, Cortina pada 1956 dan Milan sebagai kota besar modern bersatu sebagai tuan rumah bersama.
Selain itu, ski mountaineering (ski gunung) resmi melakukan debut sebagai cabang olahraga Olimpiade pada edisi ini, menandai ekspansi disiplin olahraga musim dingin ke arah yang lebih ekstrem dan menantang.

Chrisna Chanis Cara
Editor
