Tren Ekbis

OJK Tegaskan Likuditas Cukup, Restrukturisasi Kredit Rp655,8 Triliun

  • JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan likuiditas perbankan di Indonesia masih cukup di tengah pandemi COVID-19. Ketua Dewan Komisioner OJK...
Sukirno

Sukirno

Author

JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan likuiditas perbankan di Indonesia masih cukup di tengah pandemi COVID-19.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan realisasi outstanding restrukturisasi kredit yang ditangani 102 bank di Indonesia hingga 15 Juni 2020 mencapai Rp655,84 triliun kepada 6,27 juta debitur terdampak pandemi COVID-19.

“Dari likuiditas, dapat kami sampaikan secara umum, secara market likuiditas masih cukup,” ujarnya saat rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Jakarta, Senin, 22 Juni 2020.

Wimboh menjelaskan dari jumlah itu, outstanding untuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mencapai Rp298,8 triliun kepada 5,17 juta debitur. Sedangkan, non UMKM kepada 1,1 juta debitur dengan nilai outstanding mencapai Rp356,98 triliun.

Total potensi nilai outstanding restrukturisasi kredit di perbankan mencapai Rp1.352,52 triliun kepada 15,29 juta debitur.

Untuk perusahaan pembiayaan hingga 16 Juni 2020 yang dihimpun dari 183 perusahaan, nilai outstanding restrukturisasi kredit mencapai Rp121,92 triliun kepada 3,4 juta nasabah. Dia menambahkan, ada 507.000 kontrak untuk mendapatkan restrukturisasi dari nasabah yang masih dalam proses persetujuan.

Restrukturisasi kredit harus diajukan oleh debitur terdampak COVID-19 lantaran kebijakan ini bukan bersifat otomatis dengan jangka waktu perbaikan kredit paling lama hingga satu tahun.

Untuk teknis eksekusi perbaikan atau restrukturisasi kredit, diserahkan kepada lembaga jasa keuangan, baik bank maupun nonbank dengan tetap mengutamakan prinsip kehati-hatian.

Menurut Wimboh, Bank Indonesia (BI) beberapa waktu lalu mengeluarkan relaksasi termasuk menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) termasuk pembelian surat berharga, telah memberikan ruang untuk likuiditas bagi perbankan dan sektor keuangan. “BI juga sudah menurunkan suku bunga sehingga amunisi lebih,” kata dia.

Menteri Keuangan Sri Mulyani . Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

Ekonomi Naik Kuartal III-2020

Sementara itu, Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan sejumlah indikator yang akan mendorong perekonomian Tanah Air pada kuartal III dan IV tahun ini mulai membaik. Sehingga, diperkirakan akan membawa pengaruh positif untuk 2021.

“Kami perkirakan pertumbuhan ekonomi tahun 2020 pada kisaran 0,9% hingga 1,9%,” ujarnya pada kesempatan yang sama.

Menurut dia, indikator yang mendorong pemulihan ekonomi dimulai kuartal III-2020 adalah adanya relaksasi pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang berlaku di sejumlah daerah, khususnya DKI Jakarta. Kebijakan pelonggaran PSBB tetap memperhatikan protokol kesehatan yang aman untuk mendukung kinerja yang produktif.

Selain PSBB yang dilonggarkan, stimulus fiskal dari pemerintah dan moneter dari BI diperkirakan turut mendorong pemulihan ekonomi triwulan III-2020.

Pemerintah sebelumnya menganggarkan Rp695,2 triliun sebagai stimulus dalam penanganan COVID-19 termasuk di dalamnya program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) bagi sektor kesehatan, perlindungan sosial, hingga insentif bagi dunia usaha, khususnya UMKM.

Saat bersamaan, stimulus moneter yang baru-baru ini dikeluarkan BI di antaranya menurunkan suku bunga acuan BI 7-Days Reverse Repo Rate (DRRR) menjadi 4,25%. Sejak Juli 2019 hingga Juni 2020, bank sentral total sudah menurunkan 175 basis poin suku bunga acuan.

Dengan penurunan ini, diharapkan mendorong perekonomian sehingga menurunkan biaya untuk belanja suku bunga untuk APBN, khususnya surat berharga negara (SBN) tenor satu tahun.

Bank sentral juga sudah menyuntikkan likuiditas kepada perbankan hingga Mei 2020 mencapai Rp583,5 triliun, termasuk menurunkan GWM baik rupiah dan valas, sehingga menambah likuiditas bank.

Neraca pembayaran untuk kuartal II-2020, kata dia, juga akan lebih baik dengan defisit transaksi berjalan yang diperkirakan menurun. Terlihat dari data per Mei 2020, neraca perdagangan RI surplus US$2,09 miliar.

Arus modal asing masuk ke Indonesia juga semakin mengalir dengan investasi portofolio hingga 15 Juni 2020 sudah mencapai US$7,3 miliar. Sehingga, cadangan devisa juga meningkat menjadi US$103,5 miliar.

Dengan indikator itu, maka Perry optimistis pada 2021 pertumbuhan ekonomi RI akan kembali naik pada rentang positif kisaran 5%-6%. “Ini didorong oleh perbaikan ekonomi global dan stimulus kebijakan pemerintah dan BI,” tegasnya.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menambahkan pemerintah mengejar pemulihan ekonomi akibat dampak pandemi COVID-19 pada kuartal III dan IV tahun ini. Hal itu dilakukan setelah kuartal I dan II dipastikan perekonomian domestik terkontraksi sangat dalam.

“Sekarang fokus pemerintah adalah mengejar agar kuartal III dan IV ekonominya bisa kembali pulih dari situasi kontraksi pada kuartal II,” kata Menkeu.

Berikut proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2020:

  1. Menteri Keuangan Sri Mulyani: -0,4%-1%
  2. Bank Indonesia: 0,9%-1,9%
  3. International Monetary Fund (IMF): 0,5%
  4. Konsensus Bloomberg: 0,5%
  5. World Bank: 0%
  6. Asian Development Bank (ADB): -1%
  7. Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD): -2,8% hingga -3,9%