Obligasi Bank Panin Pertahankan Peringkat idAA dari Pefindo
JAKARTA – PT Bank Pan Indonesia Tbk alias Bank Panin berhasil mempertahankan peringkat idAA untuk Obligasi Berkelanjutan II Tahap I Tahun 2016. Hasil pemeringkatan teranyar ini disampaikan oleh PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, Selasa, 6 Maret 2021. “Efek utang dengan peringkat idAA memiliki sedikit perbedaan dengan peringkat tertinggi […]

Ananda Astri Dianka
Author


Presiden Direktur PT Bank Pan Indonesia Tbk (PNBN) atau Panin Bank Herwidayatmo / Facebook @paninbankfanpage
(Istimewa)JAKARTA – PT Bank Pan Indonesia Tbk alias Bank Panin berhasil mempertahankan peringkat idAA untuk Obligasi Berkelanjutan II Tahap I Tahun 2016.
Hasil pemeringkatan teranyar ini disampaikan oleh PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, Selasa, 6 Maret 2021.
“Efek utang dengan peringkat idAA memiliki sedikit perbedaan dengan peringkat tertinggi yang diberikan. Kemampuan emiten untuk memenuhi komitmen keuangan jangka panjang atas efek utang tersebut, dibandingkan dengan emiten lainnya di Indonesia, adalah sangat kuat,” tulis Direktur Utama Pefindo, Salyadi Saputra.
- Pendapatan Anjlok, Laba Harum Energy Justru Melejit 219 Persen
- Bank Neo Commerce Bagi-Bagi Dividen Rp1,58 Miliar
- LIPI: Kecepatan Koordinasi Antarlembaga Pemerintah, Kunci Investor Realisasikan Investasi
Diketahui, obligasi Bank Panin tersebut bernilai Rp2 triliun untuk periode 1 April 2021 sampai dengan 28 Juni 2021. Adapun, peringkat tersebut diberikan berdasarkan data dan informasi dari Perusahaan serta Laporan Keuangan Audit per 31 Desember 2020.
Kinerja Keuangan Bank Panin 2020
Sebagai informasi, Bank Panin mencatat laba bersih 2020 secara konsolidasian sebesar Rp3,12 triliun, terkoreksi 10,60% dibandingkan dengan 2019 senilai Rp3,49 triliun.
Mengutip keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, Kamis, 1 April 2021, emiten berkode saham PNBN ini mencetak laba operasional sebelum pencadangan tumbuh 13,7% sebesar Rp6,69 triliun.
Peningkatan pendapatan operasional sebelum pencadangan terutama dikontribusikan oleh pertumbuhan fee based income yang mencapai Rp3,36 triliun, naik 77,16% year on year (yoy).
Total aset konsolidasi mencapai Rp218,07 triliun, naik dibandingkan posisi akhir tahun lalu sebesar Rp211,29 triliun. Total kredit sebesar Rp129,89 triliun, mengalami penurunan sebesar 14,3%.
Posisi likuiditas bank terjaga dengan baik didukung peningkatan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 8,9%, dan telah mencapai Rp143,03 triliun. Tabungan dan Giro mengelami pertumbuhan yang lebih tinggi dari pertumbuhan DPK.
Tabungan tumbuh 14,7% dan Giro tumbuh sebesar 18,9%. Artinya, Bank Panin mendorong peningkatan CASA yang kini mencapai 39,4%. Rasio likuiditas Loan-toDeposit Ratio (LDR) berada pada posisi 83,3%.
Di samping itu, Bank Panin berhasil memperbaiki rasio non performing loan (NPL) 3,01% dibanding akhir 2019 sebesar 3,02%. Perusahaan juga telah mengalokasikan biaya pencadangan penurunan kualitas aset sebesar Rp2,69 triliun, sehingga NPL coverage ratio telah mencapai lebih dari 151%.
