Nyaris Stagnan, 1 Dolar AS Berapa Rupiah Hari Ini?
- Rupiah nyaris stagnan di Rp17.512 per dolar AS pada Kamis 10 September 2026 setelah menguat 121 poin. Pasar menunggu data inflasi AS dan mencermati arus modal asing.

Chrisna Chanis Cara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) nyaris tidak bergerak pada pembukaan perdagangan Kamis, 10 September 2026. Kondisi ini terjadi setelah rupiah mencatat penguatan tajam pada perdagangan sebelumnya, didorong masuknya arus modal asing ke pasar obligasi pemerintah Indonesia.
Rupiah berada di level Rp17.512 per dolar AS pada perdagangan pagi, melemah tipis 1 poin atau 0,01 persen dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp17.511 per dolar AS.
Pada perdagangan Rabu, rupiah menguat 121 poin atau sekitar 0,69 persen, dari Rp17.632 menjadi Rp17.511 per dolar AS. Penguatan tajam tersebut salah satunya ditopang masuknya dana asing ke pasar obligasi pemerintah Indonesia.
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova mengatakan investor asing yang membeli surat utang pemerintah Indonesia perlu menukarkan valuta asing yang dimilikinya ke rupiah. Transaksi tersebut meningkatkan permintaan terhadap rupiah sehingga memberikan tekanan penguatan terhadap nilai tukar.
Arus modal asing ke pasar obligasi Indonesia tercatat meningkat sekitar US$90,5 juta.
Menurut Rully, aliran dana tersebut antara lain ditopang persepsi investor terhadap perbaikan kondisi fiskal Indonesia, terutama dari sisi defisit anggaran dan penerimaan pajak.
Yield Obligasi Jadi Daya Tarik
Selain kondisi fiskal, investor juga mencermati selisih imbal hasil atau yield spread antara obligasi pemerintah Indonesia dan surat utang negara lain, terutama Amerika Serikat.
Ketika imbal hasil obligasi Indonesia dinilai lebih menarik dibandingkan aset sejenis di AS, investor memiliki insentif lebih besar untuk menempatkan dana di pasar domestik.
Aliran modal tersebut memiliki efek langsung terhadap pasar valuta asing. Dana asing yang masuk perlu dikonversikan ke rupiah untuk membeli aset domestik sehingga permintaan terhadap mata uang Garuda meningkat.
Namun, besarnya arus modal asing juga sangat bergantung pada persepsi investor terhadap risiko. Jika risiko global meningkat atau imbal hasil aset AS menjadi lebih menarik, dana asing dapat kembali bergerak keluar dari pasar domestik.
Pasar Menunggu Inflasi AS
Perhatian investor kini beralih pada data inflasi AS yang menjadi salah satu indikator penting dalam menentukan arah kebijakan Federal Reserve (The Fed).
Inflasi yang masih tinggi dapat membuat pasar memperkirakan bank sentral AS mempertahankan kebijakan moneter ketat atau menurunkan suku bunga secara lebih lambat.
Rully mengatakan data inflasi menjadi penting karena dapat mengubah ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed.
“Dengan angka-angka inflasi tersebut di atas membuat tidak nyaman bagi The Fed, dan berakibat ekspektasi pelaku pasar terhadap kenaikan suku bunga minggu depan menjadi 60 persen lebih tinggi dari sebelumnya 35 persen,” ujar Rully dikutip Antara, Rabu, 9 September 2026.
Pasar memperkirakan inflasi AS secara bulanan dan tahunan masing-masing berada di sekitar 0,4 persen dan 0,2 persen berdasarkan data yang menjadi perhatian investor.
Jika inflasi lebih tinggi dari perkiraan, ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga The Fed dapat kembali berubah. Dolar AS berpotensi mendapatkan dukungan, sementara mata uang negara berkembang seperti rupiah menghadapi tekanan.
Sebaliknya, data inflasi yang lebih rendah dapat memperkuat harapan pelonggaran moneter AS dan menjaga daya tarik aset pasar berkembang.
Apa Artinya bagi Masyarakat?
Rupiah yang berada di sekitar Rp17.500 per dolar AS menunjukkan bahwa nilai tukar masih relatif tinggi meskipun mata uang Garuda menguat tajam pada perdagangan sebelumnya.
Bagi masyarakat, penguatan rupiah dapat membantu menahan biaya sejumlah barang dan bahan baku impor. Kebutuhan dalam dolar AS seperti perjalanan ke luar negeri, biaya pendidikan, atau pembayaran barang dari luar negeri juga relatif lebih ringan ketika rupiah menguat.
Namun, perubahan kurs harian tidak serta-merta langsung mengubah harga barang di tingkat konsumen. Dampaknya bergantung pada kontrak impor, biaya distribusi, stok, serta komponen biaya lainnya.
Yang Perlu Dipantau Investor
Investor perlu mencermati dua sisi yang saat ini menjadi penentu arah rupiah.
Dari dalam negeri, arus modal asing ke pasar obligasi dan persepsi terhadap kondisi fiskal Indonesia menjadi penopang penting. Selisih imbal hasil obligasi Indonesia terhadap aset AS juga akan menentukan seberapa menarik pasar domestik bagi investor global.
Dari luar negeri, data inflasi AS menjadi katalis utama. Angka inflasi akan memengaruhi ekspektasi pasar terhadap keputusan The Fed dan pada akhirnya arah dolar AS.
Rupiah berpeluang mempertahankan penguatan apabila arus modal asing tetap masuk dan tekanan terhadap dolar AS berlanjut. Namun, perubahan ekspektasi suku bunga The Fed dapat dengan cepat mengubah arah sentimen tersebut.

Chrisna Chanis Cara
Editor
