Tren Pasar

Nomura Ikutan Downgrade IHSG, Tanda Market Lagi 'Red Flag'?

  • Bank investasi Jepang Nomura turunkan peringkat saham RI ke netral. Waspada potensi outflow dana asing dan risiko pasar turun kasta ke frontier market.
Aktifitas Bursa Saham - Panji 3.jpg
Pekerja berjalan di depan layar yang menampilkan pergerakan saham di Mail Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta 17 Oktober 2023. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Kabar kurang sedap kembali datang menghampiri pasar modal Indonesia dari salah satu raksasa keuangan Asia hari ini. Nomura Holdings Inc resmi menjadi lembaga keuangan global terbaru yang memutuskan untuk menurunkan peringkat rekomendasi saham Indonesia ke level netral.

Langkah strategis ini menyusul jejak serupa yang sebelumnya telah diambil oleh Goldman Sachs Group Inc dan UBS. Kekhawatiran serius mengenai kelayakan investasi atau investability pasar domestik pasca peringatan MSCI menjadi pemicu utama keputusan berat tersebut diambil.

Dalam catatan riset terbarunya Nomura memangkas peringkat saham Indonesia karena meningkatnya risiko arus keluar dana pasif asing. Peringatan MSCI mengenai potensi penurunan status Indonesia ke frontier market diakui menjadi kejutan besar yang mengubah peta risiko investasi.

1. Raksasa Jepang Bersuara

Bagi investor pemula yang belum mengenal siapa Nomura Holdings Inc ini adalah bank investasi raksasa asal Jepang. Institusi keuangan yang bermarkas pusat di Tokyo ini memiliki pengaruh sangat besar dalam mengarahkan arus modal investor global ke Asia.

Strategist Nomura Chetan Seth mengungkapkan keterkejutannya terhadap situasi pasar modal Indonesia yang mendadak berubah drastis pasca pengumuman MSCI. "Peringatan MSCI mengenai potensi penurunan status Indonesia ke frontier market menjadi kejutan bagi kami dan pasar," tulisnya dalam riset terbaru pada Senin, 2 Februari 2025.

Pandangan dari raksasa finansial Negeri Sakura ini biasanya menjadi acuan penting bagi para pengelola dana asing besar. Perubahan sikap mereka menandakan bahwa investor Jepang dan global kini mulai memasang mode waspada tingkat tinggi terhadap aset Indonesia.

2. Alasan Ubah Haluan

Sebelumnya sikap positif Nomura terhadap pasar saham Indonesia didasarkan pada valuasi relatif yang dinilai cukup menarik bagi investor. Selain itu terdapat ekspektasi stabilisasi ekonomi makro dan laba korporasi yang solid serta rendahnya ekspektasi pasar pasca kinerja tertinggal.

Namun risiko tambahan terkait potensi arus keluar dana pasif dalam jumlah besar mengubah peta risiko investasi saat ini. Hal tersebut membuat prospek jangka pendek pasar saham Indonesia menjadi lebih berat dan menantang bagi para manajer investasi global.

Nomura kini menurunkan rekomendasi menjadi netral dari posisi overweight yang sebelumnya mereka sematkan untuk pasar saham Indonesia. Perubahan ini mencerminkan keraguan institusi tersebut terhadap kemampuan pasar domestik memberikan imbal hasil optimal di tengah ketidakpastian regulasi global.

3. IHSG Kena Mental

Tekanan berat terhadap pasar saham Indonesia kembali terlihat nyata pada perdagangan hari Senin tanggal 2 Februari ini. Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG sempat terkoreksi sangat dalam hingga mencapai angka 5,31% pada penutupan sesi pertama perdagangan bursa.

Pelemahan indeks komposit kali ini dipimpin oleh kejatuhan harga saham di sektor pertambangan dan energi yang cukup signifikan. Pelemahan tersebut sejalan dengan sentimen risk off di kawasan regional yang dipicu anjloknya harga logam dunia dan penguatan dolar.

Aksi jual masif tersebut tercatat menjadi yang terdalam di antara indeks saham utama di kawasan Asia hari ini. Hal ini menambah tekanan berat bagi Indonesia yang tengah berjuang keras menghindari penurunan peringkat pasar setelah sorotan tajam MSCI.

4. Skenario Terburuk

Langkah Nomura ini menambah daftar panjang bank investasi global yang memangkas pandangan optimis mereka terhadap saham Indonesia. Sebelumnya UBS telah menurunkan peringkat saham Indonesia menjadi netral sejalan dengan Goldman Sachs yang lebih dulu memangkas rekomendasi menjadi underweight.

Goldman Sachs bahkan memperingatkan risiko skenario ekstrem apabila Indonesia benar benar direklasifikasi dari emerging market menjadi frontier market. Dana pasif global yang mengikuti indeks MSCI berpotensi keluar dari pasar Indonesia hingga mencapai angka fantastis US$7,8 miliar.

Potensi arus keluar modal tambahan juga bisa terjadi apabila penyedia indeks lain seperti FTSE Russell meninjau ulang metodologi. Peninjauan free float pasar Indonesia oleh lembaga lain akan semakin memperburuk likuiditas dan stabilitas pasar saham dalam jangka menengah.

5. Respons Defensif

Manajer dana Allspring Global Investments Gary Tan menilai pelemahan harga komoditas yang berkepanjangan berpotensi memaksa regulator membingkai reformasi. Langkah reformasi pasar kemungkinan akan dilakukan secara lebih defensif dengan fokus utama pada upaya menjaga stabilitas pasar jangka pendek.

Regulator pasar keuangan Indonesia telah mengumumkan langkah reformasi termasuk mengarahkan sovereign wealth fund Danantara untuk mendukung pasar. Selain itu ada rencana menggandakan batas minimum free float menjadi 15% untuk memenuhi standar transparansi yang diminta investor global.

Tekanan bertubi tubi tersebut menempatkan pasar saham Indonesia dalam fase yang sangat krusial dan menentukan nasib bursa ke depan. Efektivitas reformasi regulator serta kepastian kebijakan kini menjadi faktor utama yang dinanti nanti oleh investor global dalam beberapa bulan.