Nokia Bangkit Lagi, Kini Kuasai Sektor AI
- Pada puncak kejayaannya di 2008, ponsel Nokia mendominasi pasar dunia. Namun situasi berubah drastis setelah kehadiran iPhone dan Android

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Nama Nokia pernah begitu melekat dalam kehidupan sehari-hari miliaran orang di seluruh dunia. Pada masa kejayaannya, Nokia merajai pangsa pasar ponsel di seluruh dunia.
“ Tidak ada suara digital yang begitu melekat di otak manusia seperti nada dering Nokia,” tulis Financial Times menggambarkan dominasi perusahaan asal Finlandia itu di era ponsel fitur.
Namun, kejayaan tersebut runtuh ketika revolusi smartphone yang dipimpin iPhone dan Android mengubah peta industri teknologi global.
Pada puncak kejayaannya di 2008, ponsel Nokia mendominasi pasar dunia. Namun situasi berubah drastis setelah kehadiran iPhone dan berkembangnya sistem operasi Android. Perusahaan dinilai gagal memanfaatkan perubahan teknologi dan perilaku konsumen yang beralih ke smartphone berbasis layar sentuh dan ekosistem aplikasi.
Krisis tersebut mencapai titik nadir pada 2014, ketika Nokia memutuskan menjual divisi handset-nya kepada Microsoft. Langkah itu diambil setelah pangsa pasar dan pendapatan terus merosot, menandai berakhirnya era Nokia sebagai raja ponsel dunia.
Dilansir laman Financial Times, Jumat, 2 Januari 2026, kejatuhan tersebut justru menjadi awal transformasi besar. Di bawah kepemimpinan manajemen baru, Nokia secara bertahap meninggalkan elektronik konsumen dan mengalihkan fokus ke infrastruktur telekomunikasi, termasuk peralatan jaringan, teknologi optik, dan layanan berbasis cloud.
Perubahan strategi ini menempatkan Nokia dalam jalur yang sama sekali berbeda dari masa lalunya sebagai produsen ponsel.
Akuisisi Jumbo
Titik balik penting terjadi melalui langkah akuisisi agresif. Nokia mengakuisisi Alcatel-Lucent senilai €15,6 miliar serta membeli saham Siemens senilai €1,7 miliar, memperkuat posisinya sebagai salah satu penyedia jaringan telekomunikasi terbesar di dunia. Langkah ini memperluas portofolio teknologi Nokia, terutama di jaringan optik dan infrastruktur kelas operator.
Transformasi tersebut mencapai fase baru pada 2025, ketika Nokia kembali melakukan reinventasi bisnisnya. Perusahaan menjalin kemitraan strategis dengan Nvidia dan menerima investasi senilai US$1 miliar, dengan tujuan mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI) ke dalam jaringan telekomunikasi.
Financial Times menilai langkah ini sebagai upaya Nokia untuk memposisikan diri di pusat konvergensi antara AI, jaringan, dan layanan cloud.
CEO Nokia menegaskan bahwa kemampuan untuk beradaptasi sudah menjadi bagian dari DNA perusahaan.
“Kemampuan untuk mengatakan: ‘oh, ini adalah masalah yang kami selesaikan kemarin, dan hari ini kami mengerjakan masalah yang berbeda,’ itu terasa sangat alami bagi Nokia,” ujarnya, dikutip Financial Times.
Kini, Nokia memanfaatkan teknologi optiknya untuk mendukung pusat data AI dan layanan cloud berskala besar. Perusahaan yang dulu identik dengan ponsel kini menjelma menjadi pemain penting dalam infrastruktur digital global, khususnya di tengah melonjaknya kebutuhan jaringan untuk kecerdasan buatan.
Meski demikian, sejumlah analis mengingatkan strategi berbasis AI bukan tanpa risiko. Financial Times mencatat bahwa fokus pada AI dapat mengekspos Nokia pada pasar yang sangat volatil, dengan persaingan ketat dari pemain kuat seperti Cisco dan Ciena.
Keberhasilan Nokia ke depan akan sangat bergantung pada kemampuannya mempertahankan inovasi sekaligus mengelola risiko di industri teknologi yang bergerak cepat.

Muhammad Imam Hatami
Editor
