Tren Pasar

Moody’s Jadi Rem IHSG Saat Wall Street Melaju ke Rekor Baru

  • Wall Street cetak rekor Dow Jones 50.000, sementara IHSG tertekan outlook negatif Moody's. Phintraco Sekuritas menyoroti saham PANI, TLKM, hingga ERAL.
IHSG Ditutup Menguat-2.jpg
Karyawan berkatifitas dengan latar layar monitor pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, 8 September 2022. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG diprediksi bergerak volatil pada perdagangan awal pekan ini, Senin, 9 Februari 2026. Tim riset Phintraco Sekuritas menyoroti adanya tekanan sentimen negatif dari perubahan outlook utang Indonesia oleh lembaga pemeringkat kredit global.

Secara teknikal, pergerakan indeks komposit diperkirakan akan menguji area support krusial di level 7.700 hingga 7.800 dalam jangka pendek. Sementara itu, level resistance psikologis IHSG berada di angka 8.100 dengan level pivot penting di 8.000.

Meskipun ada sentimen positif dari rekor Wall Street, investor domestik diminta waspada terhadap potensi arus keluar dana asing sementara. Phintraco Sekuritas mengingatkan pelaku pasar untuk tetap mencermati data makro ekonomi global dan domestik yang rilis pekan ini.

1. Rekor Dow Jones dan Emas

Bursa saham Amerika Serikat menutup pekan lalu dengan penguatan signifikan di mana indeks Dow Jones tembus level 50.000. Penguatan bersejarah ini didorong oleh rebound saham sektor teknologi dan aset kripto Bitcoin yang kembali menarik minat risiko investor.

Phintraco Sekuritas mencatat bahwa Indeks Dow Jones untuk pertama kalinya ditutup di atas level 50 ribu, ditopang oleh penguatan pada saham yang terkait dengan siklus ekonomi. “Sentimen ini diharapkan menular ke pasar Asia hari ini,” tulis Tim Research Phintraco Sekuritas pada Senin, 9 Februari 2026. 

Di sisi komoditas, sekuritas berkode broker AT ini juga menyoroti harga emas yang kembali rebound ke level US$4.954 per troy ounce seiring pelemahan Dolar AS. Pekan ini, perhatian investor global juga akan tertuju pada rilis data inflasi Tiongkok serta hasil pemilu sela di Jepang.

2. Moody’s Pangkas Outlook

Isu utama yang menjadi pemberat IHSG adalah keputusan Moody’s menurunkan outlook peringkat utang Indonesia dari stabil menjadi negatif. Langkah ini memicu kekhawatiran pasar, namun Moody's tetap mempertahankan peringkat Indonesia di level Baa2 atau kategori layak investasi.

Phintraco mengatakan dampak dari kebijakan ini akan memicu votalitas pasar jangka pendek. "Penurunan outlook oleh Moody’s tersebut berpotensi meningkatkan risk premium terhadap aset Indonesia dalam jangka pendek," tulis tim riset Phintraco Sekuritas.

Kenaikan premi risiko ini dikhawatirkan dapat memicu pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS di pasar spotantarbank. Selain itu, sentimen ini juga dapat memicu kenaikan volatilitas IHSG yang membuat investor cenderung wait and see dulu.

3. Dampak ke Perbankan 

Dampak penurunan outlook negara langsung merembet ke sektor perbankan nasional yang menjadi tulang punggung indeks saham gabungan. Lima bank besar mengalami penurunan prospek dari stabil menjadi negatif, termasuk PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI).

Selain itu, Moody's juga merevisi prospek PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI). Bank swasta terbesar PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) juga terdampak.

Tim riset Phintraco menambahkan analisisnya terkait potensi aliran dana asing akibat sentimen ini. "Sentimen ini dapat memicu foreign outflow sementara, pelemahan Rupiah, serta kenaikan volatilitas IHSG," ungkap riset tersebut mengingatkan investor akan risiko jangka pendek.

4. Korporasi Besar Terdampak

Tidak hanya perbankan, perusahaan pelat merah seperti PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) juga terkena revisi outlook serupa. Anak usahanya, Telkomsel, serta holding tambang MIND ID dan raksasa energi Pertamina juga masuk dalam daftar revisi Moody's.

Sektor swasta juga terdampak, di mana Moody's menurunkan prospek emiten barang konsumsi PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP). Distributor alat berat PT United Tractors Tbk (UNTR) juga mengalami nasib serupa dengan prospek yang turun menjadi negatif.

Phintraco Sekuritas memberikan pandangan teknikal yang cukup hati-hati namun tetap optimis dalam jangka menengah jika support kuat bertahan. "Jika tekanan berlanjut, berpotensi menguji support di 7.500," tulis mereka memproyeksikan skenario terburuk bagi pergerakan indeks pekan ini.

5. Saham Pilihan (Top Picks)

Di tengah volatilitas pasar, Phintraco Sekuritas merekomendasikan saham properti PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI). Selain itu, saham telekomunikasi PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) dan emiten keuangan PT Panin Financial Tbk (PNLF) juga menarik dicermati.

Rekomendasi selanjutnya jatuh pada produsen susu PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY) yang dinilai memiliki teknikal menarik. Saham semen PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) dan ritel gawai PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAL) melengkapi daftar pilihan.

Phintraco menutup risetnya dengan daftar saham unggulan yang layak pantau pada awal pekan ini. "Top Picks pekan ini: PANI, TLKM, PNLF, CMRY, INTP dan ERAL," tutup tim riset Phintraco dalam laporannya yang dirilis pada hari Senin ini.