Nasional & Internasional

Meski Tumbuh Saat Pandemi, Sektor Pertanian Tetap Mendominasi Rumah Tangga Miskin

  • Sektor pertanian Indonesia berhasil mencatat pertumbuhan positif sebesar 1,75 selama pandemi COVID-19. Meski begitu, Badan Pusat Statistik (BPS)...

JAKARTA – Sektor pertanian Indonesia berhasil mencatat pertumbuhan positif sebesar 1,75 selama pandemi COVID-19. Meski begitu, Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan rumah tangga miskin di Indonesia sebagian besar justru berasal dari sektor pertanian.

Data BPS memperlihatkan jika dilihat dari sumber penghasilan utama, sektor pertanian mendominasi kontribusi penduduk miskin di Indonesia. 46,30% penduduk miskin Indonesia berasal dari sektor pertanian, jauh lebih besar dari sektor industri yang sebesar 6,58%.

“Sumber utama dari rumah tangga miskin di Indonesia adalah sektor pertanian. Jadi, ini merupakan PR yang perlu kita perhatikan,” ujar Kepala BPS Kecuk Suhariyanto dalam webinar virtual bersama INDEF, Rabu, 18 Februari 2021.

Sektor pertanian berhasil menjadi salah satu dari tujuh sektor yang tumbuh selama pandemi di tahun lalu. Sektor pertanian mencatat pertumbuhan 1,75% ketika ekonomi Indonesia mengalami kontraksi 2,07%.

Ekspor pertanian selama pandemi juga menunjukkan peningkatan sebesar 14,03%. Angka ini termasuk besar jika melihat total ekspor nasional yang juga terkontraksi sebesar 2,61%.

Kecuk menyebut ini terjadi akibat angka pengangguran yang bertambah 2,67 juta orang selama pandemi. Bertambahnya angka pengangguran ini pun menyebabkan pergeseran tenaga kerja dari kota ke desa, termasuk sektor pertanian. Hal ini pun membuat jumlah tenaga kerja pertanian meningkat jadi 29,76% dari total distribusi tenaga kerja di Indonesia.

Angka yang begitu besar ini menjadi beban karena pasokan tenaga kerja pertanian lebih besar dari kontribusi pertanian terhadap pertumbuhan domestik bruto (PDB).

“Ketika share PDB hanya 13,7 persen, sementara harus menanggung 29,76 persen, beban pertanian menjadi berat. Harus diperhatikan bahwa produktivitas pertanian juga akan semakin menurun,” jelas Kecuk.

Nilai Tukar Petani

Selain itu, sektor pertanian juga mengalami tantangan seperti kecilnya kenaikan nilai tukar petani (NTP) dan upah riil yang cenderung melemah dari waktu ke waktu. Data BPS menunjukkan NTP di 2020 hanya naik 0,74 persen menjadi 101,65 dibanding 2019.

NTP merupakan indikator untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani di pedesaan. NTP yang hanya meningkat sedikit ini membuat daya beli petani di pedesaan tetap rendah.

Upah riil petani juga relatif rendah. Tercatat, upah riil petani Januari 2021 turun tipis 0,04% dari periode yang sama di tahun lalu. Upah riil petani Indonesia berada di angka Rp52.338 per hari pada Januari 2021.

Menurut Kecuk, hal tersebut menyebabkan pekerjaan buruh tani menjadi tidak menarik. Pekerja-pekerja lebih memilih menjadi buruh bangunan yang memiliki upah riil yang lebih tinggi.