Menjelang Rilis Kinerja, Investor Asing Diam-Diam Borong Saham GOTO
- Investor asing seperti BlackRock dan MUFG tercatat memborong saham GOTO jelang rilis kinerja Q3 2025 pada 29 Oktober. Ada apa di balik aksi ini?

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Musim rilis laporan keuangan kuartal ketiga (Q3) 2025 telah tiba, dan salah satu emiten yang paling dinanti-nantikan adalah PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). Di tengah penantian ini, terjadi sebuah anomali yang sangat menarik di pasar.
Di satu sisi, harga saham GOTO masih nyangkut atau tertahan di level Rp55 per saham. Namun di sisi lain, data menunjukkan investor asing, termasuk raksasa global, justru tercatat melakukan aksi borong bersih (net buy) secara konsisten dalam dua pekan terakhir.
Aksi akumulasi diam-diam oleh asing ini terjadi tepat menjelang pengumuman hasil kinerja GOTO pada 29 Oktober mendatang. Lantas, apa yang sebenarnya dilihat oleh 'smart money' global ini, dan seberapa besar ekspektasi pasar? Mari kita bedah tuntas.
1. Aksi Serok Bawah Investor Asing Kakap
Meskipun harga saham GOTO masih tertekan, data transaksi menunjukkan sentimen yang berbeda dari investor asing. Dalam dua pekan terakhir (10-24 Oktober 2025), asing tercatat melakukan pembelian bersih yang solid.
Total dana asing yang masuk ke saham GOTO dalam dua pekan terakhir telah mencapai Rp105,5 miliar (Rp73,7 miliar pada pekan pertama, dan Rp31,8 miliar pada pekan kedua).
Lebih menarik lagi, data Bloomberg mencatat nama-nama 'sultan' global yang ikut melakukan akumulasi. Dua di antaranya adalah raksasa manajemen aset BlackRock Inc. dan bank investasi raksasa Jepang, Mitsubishi UFJ Financial Group Inc.
2. Momen Krusial: Rilis Lapkeu pada 29 Oktober
Aksi akumulasi ini dinilai sebagai langkah positioning menjelang satu tanggal krusial: Rabu, 29 Oktober 2025. Pada tanggal tersebut, manajemen GOTO akan secara resmi mengumumkan hasil kinerja perusahaan untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada September 2025.
Sebagaimana dicatat oleh Trimegah Sekuritas, musim rilis laporan keuangan kuartal ketiga memang menjadi sentimen tambahan bagi pelaku pasar untuk mempertimbangkan keputusan investasi mereka menjelang akhir tahun.
3. Fondasi Kuat dari Kinerja Semester I
Lalu, apa yang diharapkan para investor asing ini? Jawabannya kemungkinan besar terletak pada 'fondasi' kinerja GOTO yang sangat kuat pada semester pertama (H1) 2025. Kinerja H1 telah memberikan sinyal pemulihan yang sangat solid.
Pada kuartal kedua (Q2) 2025, GOTO berhasil mencatatkan EBITDA Grup yang disesuaikan sebesar Rp427 miliar. Angka ini membawa total EBITDA yang disesuaikan selama semester pertama 2025 mencapai Rp820 miliar, atau sudah 50% dari target setahun penuh.
Dari sisi top line, pendapatan perusahaan juga tumbuh 11% (yoy) menjadi Rp8,6 triliun. Yang lebih penting, GOTO berhasil menekan rugi usaha hingga 90% (tersisa Rp172 miliar) dan memangkas rugi periode berjalan sebesar 74%(tersisa Rp742 miliar).
4. Apa Artinya Ini Bagi Investor?
Bagi investor, fenomena ini adalah pelajaran klasik "follow the money". Di saat harga saham terlihat murah dan stagnan di Rp55, aksi borong yang dilakukan oleh institusi sekelas BlackRock mengindikasikan bahwa mereka bertaruh pada kelanjutan cerita pemulihan ini.
Para investor kakap ini tampaknya berekspektasi bahwa rilis kinerja Q3 pada 29 Oktober nanti akan kembali menunjukkan perbaikan EBITDA dan efisiensi biaya yang berlanjut. Ini adalah pertaruhan antara sentimen pasar yang masih lesu melawan ekspektasi fundamental yang kuat.

Alvin Bagaskara
Editor
