Tren Ekbis

Menjawab Rumor Akuisisi BBCA Oleh Haji Isam

  • BCA membantah rumor akuisisi oleh Haji Isam. OJK menegaskan setiap perubahan pengendali bank akan dinilai berdasarkan aturan dan profil risiko.
Profil_Andy_Syamsudin_Arsyad.jpg
Andy Syamsudin Arsyad alias Haji Isam (Andy Syamsudin Arsyad alias Haji Isam)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memantau dinamika kepemilikan dan aksi korporasi perbankan menyusul rumor akuisisi PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) oleh pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam. OJK menegaskan setiap transaksi yang berpotensi mengubah pemegang saham pengendali bank akan dinilai sesuai ketentuan yang berlaku.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyatakan pengawasan terhadap aksi korporasi perbankan dilakukan dengan mempertimbangkan profil risiko, tata kelola, hingga potensi dampak transaksi terhadap stabilitas industri.

OJK juga mencermati konsentrasi eksposur, transaksi dengan pihak terkait, serta hubungan bank dengan kelompok usaha pemegang saham. Aspek tersebut menjadi perhatian untuk memastikan perubahan kepemilikan tidak meningkatkan risiko bagi bank maupun sistem keuangan.

“Secara umum, OJK menilai stabilitas industri perbankan nasional tetap ditopang oleh kondisi permodalan dan likuiditas yang memadai serta penerapan prinsip kehati-hatian,” kata Dian.

Baca juga : Mengenal Standalone Market MSCI, Dihuni Palestina hingga Zimbabwe

BCA Bantah Rumor Akuisisi oleh Haji Isam

Sebelumnya, BCA membantah informasi yang beredar di media sosial mengenai rencana akuisisi saham BBCA oleh Haji Isam. EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F Haryn menyatakan kabar mengenai rencana aksi korporasi tersebut tidak benar.

“Menanggapi isu yang beredar di media sosial terkait adanya rencana aksi korporasi tertentu terhadap BCA, dapat kami sampaikan bahwa informasi tersebut tidak benar,” kata Hera dalam pernyataan resminya, Jumat, 16 Oktober 2026.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa BCA membantah rumor akuisisi yang beredar. Karena itu, kabar tersebut tidak dapat diperlakukan sebagai transaksi yang telah disepakati atau sebagai perubahan pengendalian yang sedang berlangsung.

Berdasarkan struktur kepemilikan yang tercantum dalam materi perusahaan, PT Dwimuria Investama Andalan (DIA) memiliki 67,73 miliar saham BCA atau setara 54,94% dari total saham.

Sementara itu, kepemilikan masyarakat mencapai 44,64%, yang terdiri atas 2,51% saham warkat dan 42,13% saham nonwarkat. Struktur tersebut menunjukkan bahwa Dwimuria Investama Andalan merupakan pemegang saham mayoritas BCA. Adapun saham masyarakat mencakup kepemilikan investor publik yang diperdagangkan di pasar modal.

Dalam konteks rumor akuisisi, struktur kepemilikan menjadi salah satu informasi penting untuk memahami posisi pemegang saham mayoritas dan mekanisme yang diperlukan apabila terjadi perubahan pengendalian.

Namun, rumor mengenai rencana akuisisi oleh Haji Isam telah dibantah oleh BCA. Tidak terdapat dasar untuk menyimpulkan bahwa kepemilikan mayoritas BCA telah berubah hanya berdasarkan informasi yang beredar di media sosial.

Baca juga : Apa Itu Trading Halt? Respons BEI Usai IHSG Runtuh 8 Persen

Kinerja BBCA

Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengalami tekanan sepanjang 2026 di tengah arus keluar investor asing dan meningkatnya kekhawatiran terhadap prospek pasar saham Indonesia terkait MSCI. 

Per 16 Oktober 2026, saham BBCA dilaporkan anjlok hingga 14,81% ke level Rp5.175 dan menyentuh batas auto rejection bawah (ARB). Sebelumnya, saham ini sempat menyentuh Rp5.075 pada awal Juni, terkoreksi sekitar 37,15% sejak awal tahun. Tekanan tersebut mencerminkan meningkatnya premi risiko dan aksi jual investor asing.

Koreksi harga saham turut menekan valuasi BBCA. Per 7 Oktober 2026, rasio price to earnings (PER) tercatat sekitar 12,85 kali, turun dari 17,4 kali pada akhir 2025, sedangkan price to book value (PBV) berada di kisaran 2,76 kali. 

Meski mengalami penurunan valuasi, BBCA masih diperdagangkan lebih mahal dibandingkan bank besar lain, seperti BBNI, BMRI, dan BBRI. Sejumlah analis memperkirakan valuasi BBCA untuk estimasi 2026 berada di sekitar 11,7 kali PER dan 2,4 kali PBV.

Di tengah tekanan pasar, fundamental BBCA masih menunjukkan pertumbuhan. Laba bersih konsolidasi pada semester I 2026 mencapai Rp29,5 triliun, naik 2% secara tahunan. 

Baca juga : Terjun Dalam! IHSG Anjlok 8 Persen di Pembukaan Hari Ini

Penyaluran kredit tumbuh 8% menjadi Rp1.036 triliun, sedangkan dana murah atau current account savings account (CASA) meningkat 10,2% menjadi Rp1.082 triliun. Namun, margin bunga bersih atau NIM turun menjadi 5,3% akibat penurunan suku bunga kredit dan persaingan industri. Kualitas kredit relatif terjaga, dengan rasio kredit bermasalah (NPL) sebesar 1,9%.

Ke depan, prospek saham BBCA akan dipengaruhi oleh pemulihan margin bunga, pertumbuhan kredit, kebijakan dividen, serta perkembangan sentimen MSCI dan arus modal asing. 

Ciptadana Sekuritas Asia mempertahankan rekomendasi Buy dengan target harga Rp9.200 per saham, didukung ekspektasi pemulihan NIM pada semester II 2026. Meski valuasinya semakin terdiskon dibandingkan rata-rata historis, investor tetap perlu mempertimbangkan risiko volatilitas pasar dan memastikan data kinerja serta valuasi terbaru sebelum mengambil keputusan investasi.