Tren Ekbis

Menilik Kinerja Bank Mandiri 2026: Laba Tumbuh, NIM Mulai Tertekan

  • Laba Bank Mandiri naik 24% menjadi Rp30,4 triliun pada semester I-2026. Pendapatan non-bunga, efisiensi, dan provisi menjadi penopang utama.
WhatsApp Image 2026-02-25 at 09.36.36.jpeg
Bank Mandiri (Bank Mandiri)

JAKARTA, TRENASIA.ID – PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mencatatkan kinerja melampaui ekspektasi pasar pada semester pertama 2026. Hingga Juni 2026, bank dengan aset terbesar di Indonesia ini membukukan laba bersih Rp30,4 triliun, tumbuh 24% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year on year/YoY).

Pencapaian tersebut dinilai solid karena sudah mencapai sekitar 53% dari estimasi laba sepanjang 2026, lebih tinggi dibandingkan rata-rata realisasi tiga tahun terakhir yang berada di kisaran 46%. Dengan kata lain, Bank Mandiri telah menghasilkan lebih dari separuh target laba tahunannya hanya dalam enam bulan pertama.

Di balik pertumbuhan laba tersebut terdapat dinamika yang menarik. Pertumbuhan bukan lagi terutama ditopang oleh pendapatan bunga, melainkan berasal dari peningkatan pendapatan berbasis komisi, efisiensi operasional, serta penurunan biaya pencadangan kredit.

Seberapa Besar Laba Bank Mandiri pada Semester I-2026?

Bank Mandiri membukukan laba bersih Rp15 triliun pada kuartal II-2026, naik 33% secara tahunan (YoY), meski sedikit turun sekitar 2% dibandingkan kuartal sebelumnya (quarter on quarter/QoQ).

Secara kumulatif, laba bersih selama semester pertama mencapai Rp30,4 triliun. Kinerja tersebut menunjukkan bahwa profitabilitas Bank Mandiri tetap terjaga meskipun industri perbankan menghadapi tekanan likuiditas dan kenaikan biaya dana (Cost of Fund).

Secara umum terdapat tiga faktor utama yang menopang pertumbuhan laba Bank Mandiri selama semester pertama 2026.

Baca juga : Rupiah Melemah, Pasar Tunggu Kepastian Gubernur BI dan Inflasi AS

1. Pendapatan Non-Bunga Menjadi Mesin Pertumbuhan Baru

Pendapatan non-bunga (Non-Interest Income/Non-II) menjadi kontributor terbesar terhadap pertumbuhan pendapatan Bank Mandiri. Pendapatan ini berasal dari berbagai layanan di luar bunga kredit, seperti biaya administrasi, komisi transaksi, layanan perbankan digital, pendapatan treasury, hingga jasa pengelolaan keuangan.

Pada kuartal II-2026, pendapatan non-bunga meningkat sekitar 33% YoY. Kenaikan tersebut berhasil mengimbangi perlambatan pendapatan bunga yang mulai tertekan akibat kondisi likuiditas perbankan.

Hal ini menunjukkan bahwa sumber keuntungan Bank Mandiri kini semakin beragam dan tidak lagi hanya bergantung pada bisnis penyaluran kredit.

2. Efisiensi Operasional Menjaga Profitabilitas

Selain didorong oleh pendapatan non-bunga, laba Bank Mandiri juga ditopang oleh efisiensi biaya operasional.

Selama kuartal II-2026, beban operasional (operating expenses/opex) turun sekitar 9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Secara kumulatif selama semester pertama, biaya operasional juga turun sekitar 1%.

Realisasi tersebut bahkan lebih baik dibandingkan target manajemen yang sebelumnya memperkirakan biaya operasional hanya akan bergerak datar hingga naik tipis sepanjang 2026.

Efisiensi ini memberikan ruang bagi Bank Mandiri untuk mempertahankan pertumbuhan laba meskipun bisnis inti perbankan mulai menghadapi tekanan.

3. Beban Provisi Turun Berkat Kualitas Kredit yang Stabil

Faktor ketiga yang menopang pertumbuhan laba adalah menurunnya beban provisi, yaitu dana cadangan yang disiapkan bank untuk mengantisipasi potensi kredit bermasalah.

Selama semester pertama 2026, beban provisi turun sekitar 12% YoY, sedangkan pada kuartal II penurunannya mencapai sekitar 2% YoY.

Penurunan tersebut didukung oleh kualitas aset yang tetap terjaga. Hal itu tercermin dari Cost of Credit (CoC) yang berada di level sekitar 0,6%, lebih rendah dibandingkan 0,7% pada semester pertama 2025.

Selain itu, rasio Non-Performing Loan (NPL) dan Loan at Risk (LAR) juga tetap stabil sehingga kebutuhan pembentukan cadangan menjadi lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.

Baca juga : IHSG Hari Ini Dibuka Turun ke Level 6.383, Cek Datanya

Mengapa Pendapatan Bunga Melambat?

Meski laba tumbuh tinggi, pendapatan bunga bersih (Net Interest Income/NII) mulai menunjukkan perlambatan. Pada kuartal II-2026, pertumbuhan NII hanya sekitar 5% YoY, lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai 11% YoY.

Perlambatan tersebut dipengaruhi oleh dua faktor utama,

Pertama, imbal hasil kredit (loan yield) mengalami penurunan sehingga pendapatan bunga dari penyaluran kredit tidak tumbuh secepat sebelumnya.

Kedua, Cost of Fund (CoF) atau biaya yang harus dikeluarkan bank untuk menghimpun dana masyarakat meningkat. Dalam kondisi likuiditas yang ketat, bank harus menawarkan bunga simpanan yang lebih tinggi agar dana pihak ketiga tetap tumbuh. Kondisi tersebut membuat margin keuntungan dari bisnis kredit menjadi lebih sempit.

Apa Itu Net Interest Margin (NIM)?

Net Interest Margin (NIM) merupakan indikator yang mengukur kemampuan bank menghasilkan keuntungan dari aktivitas penyaluran kredit setelah dikurangi biaya dana.

Semakin tinggi NIM, semakin besar keuntungan yang diperoleh bank dari bisnis intinya. Pada semester I-2026, NIM Bank Mandiri turun menjadi sekitar 4,6%, dibandingkan 4,8% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, estimasi NIM pada kuartal II-2026 berada di kisaran 4,4%.

Dalam paparan kinerja, manajemen memperkirakan tekanan terhadap NIM masih akan berlangsung hingga kuartal III-2026 sebelum mulai stabil pada kuartal IV. Penyebab utamanya adalah kenaikan Cost of Fund akibat kondisi likuiditas perbankan yang masih ketat.

Karena itu, Bank Mandiri merevisi target NIM sepanjang 2026 menjadi 4,3% hingga 4,5%, lebih rendah sekitar 20 basis poin dibandingkan proyeksi sebelumnya.

Baca juga : Pembukaan LQ45 Hari Ini: CPIN dan ANTM Naik, CUAN Turun

Tantangan Bank Mandiri Semester II-2026?

Meski mencatatkan kinerja yang solid pada semester pertama, pertumbuhan laba Bank Mandiri pada paruh kedua 2026 diperkirakan akan lebih moderat.

Beberapa faktor yang menjadi perhatian investor meliputi,

  • tekanan likuiditas perbankan yang masih tinggi sehingga berpotensi mempertahankan kenaikan Cost of Fund;
  • kenaikan harga minyak dunia yang mendekati US$100 per barel, yang dapat menekan nilai tukar rupiah;
  • potensi berkurangnya pinjaman kepada PT Agrinas Pangan Nusantara seiring pemangkasan target Program Koperasi Desa Merah Putih;
  • keberlanjutan pemulihan kredit sektor swasta yang pada kuartal II-2026 mulai tumbuh sekitar 3% dibandingkan kuartal sebelumnya.

Apabila penyaluran kredit ke sektor swasta terus meningkat, Bank Mandiri berpotensi memperoleh margin bunga yang lebih tinggi karena kredit swasta umumnya memberikan imbal hasil yang lebih baik dibandingkan pembiayaan kepada entitas yang memiliki keterkaitan dengan pemerintah atau BUMN.