Tren Global

Mengulik Kebangkitan Bajaj di Indonesia Lewat Max Auto

  • Max Auto Indonesia hidupkan Bajaj lewat aplikasi Maxride dan investasi Juragan Bajaj. Transformasi ini ciptakan peluang kerja dan pasar baru.
Bajaj Gas Kemerdekaan
Bajaj Gas Kemerdekaan (PERTAMINA)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Bajaj, kendaraan roda tiga legendaris asal India, tengah mengalami kebangkitan strategis di Indonesia melalui inisiatif dari PT Max Auto Indonesia, distributor resmi Bajaj Auto. 

Reinkarnasi Bajaj bukan sekadar menghadirkan kembali ikon transportasi lama, tetapi juga menyasar segmen modern melalui transformasi teknologi dan skema investasi inovatif yang memperkuat posisinya dalam ekosistem transportasi daring nasional.

Kebangkitan Bajaj di Indonesia dimulai dengan peluncuran Maxride, aplikasi transportasi online pertama yang secara khusus melayani kendaraan Bajaj, pada Oktober 2023. 

Dalam kurun waktu Q1 hingga Q3 tahun 2024, Maxride mencatat pertumbuhan yang sangat signifikan. Jumlah pengguna aktif meningkat hingga 141%, sementara unduhan aplikasi tumbuh sebesar 65% pada kuartal ketiga. 

Peningkatan jumlah perjalanan mencapai 28%, menunjukkan loyalitas pengguna yang cukup tinggi, dengan loyal user menyentuh angka 31%. Maxride saat ini telah beroperasi di sejumlah kota seperti Makassar, Gowa, Maros, dan Medan, yang membuka cabang kedua pada Desember 2024. 

Pada tahun 2025, Max Auto Indonesia menargetkan ekspansi ke tujuh kota tambahan, termasuk Kendari, Palembang, Pekanbaru, Balikpapan, dan Jayapura, sebagai bagian dari strategi pertumbuhan nasional.

Baca Juga : Siasat Pekerja Muda Hadapi Mahalnya Biaya Transportasi Massal

Model Bisnis Inovatif "Juragan Bajaj"

Untuk mendorong partisipasi publik dalam model bisnis Bajaj, PT Max Auto Indonesia memperkenalkan skema investasi kolaboratif bertajuk "Juragan Bajaj". Skema ini mencakup empat model bisnis utama. 

Pertama, model Bisnis Aplikasi & Persewaan, di mana investor membeli unit Bajaj dan menyewakannya ke driver, dengan dukungan penuh dari Maxride untuk perekrutan dan pengelolaan armada. 

Kedua, model Franchise Maxride, memungkinkan investor membuka cabang Maxride baru lengkap dengan dukungan sistem operasional dan merek. Ketiga, Konsinyasi Dealer, yang memungkinkan investor menjual unit Bajaj dengan sistem bagi hasil, di mana pembayaran sebesar 80% dilakukan setelah unit terjual.

Keempat, Mitra Sparepart, yang menawarkan peluang menjual suku cadang resmi Bajaj dengan lisensi bengkel. Banyak investor melihat potensi ini sebagai peluang bisnis yang menarik dan cepat balik modal. 

Dukungan Global dari Bajaj Auto

Ekspansi Bajaj di Indonesia juga diperkuat oleh performa global perusahaan induknya, Bajaj Auto, yang meskipun mengalami penurunan penjualan domestik di India sebesar 9,5% pada semester pertama 2025, justru mencatat pertumbuhan ekspor yang mengesankan. 

Sejak 2018, ekspor kendaraan roda tiga dan produk komersial lainnya tumbuh sebesar 25%. Pada Juli 2025, ekspor kendaraan komersial meningkat tajam sebesar 79%, dan total ekspor selama periode April hingga Juli 2025 naik 19%, dengan kontribusi besar berasal dari negara-negara berkembang seperti Indonesia. 

Bajaj Auto juga memperkuat posisinya secara global dengan mengakuisisi mayoritas saham KTM Group, termasuk merek terkenal seperti Husqvarna dan Gas Gas, dalam transaksi senilai €800 juta yang dijadwalkan rampung pada Mei 2026. Akuisisi ini diyakini akan mempercepat inovasi dan diversifikasi produk Bajaj, termasuk untuk pasar Indonesia.

Meski menunjukkan perkembangan pesat, ekspansi Bajaj di Indonesia tidak lepas dari tantangan struktural dan regulatif. Salah satu kendala utama adalah transparansi harga, di mana harga resmi Bajaj RE 2025 belum diumumkan secara terbuka dan hanya tersedia melalui permintaan langsung ke dealer. 

Selain itu, varian produk juga masih sangat terbatas, dengan hanya Bajaj RE 4S (mesin 199 cc berbahan bakar bensin) yang tersedia untuk pasar domestik. Dari sisi distribusi, hingga kini hanya terdapat satu dealer resmi yang beroperasi di Jakarta Selatan, sehingga menyulitkan akses bagi masyarakat di daerah lain. 

Di sisi regulasi, berbagai kebijakan daerah belum sepenuhnya mengakomodasi kehadiran Bajaj dalam layanan transportasi online, sehingga izin operasi di beberapa kota target ekspansi masih dalam tahap adaptasi dan negosiasi.

Meskipun ada tantangan, prospek Bajaj di Indonesia tetap cerah, terutama dengan fokus pasar yang sangat spesifik. Berdasarkan data pengguna Maxride, perempuan usia 25-30 tahun menjadi segmen dominan, mencapai 79% dari total pengguna. 

Keunggulan Bajaj dalam hal keamanan, kenyamanan, dan efisiensi biaya menjadikannya pilihan ideal untuk pasar ini. Dalam jangka menengah, Max Auto Indonesia juga berencana mendiversifikasi produknya dengan memperkenalkan model ramah lingkungan seperti versi mesin CNG, meniru kesuksesan produk serupa di India. 

Dari sisi sosial, kehadiran Bajaj membuka lapangan kerja baru bagi para driver, dengan potensi penghasilan hingga Rp 2 juta per minggu. Perusahaan juga memberikan insentif tambahan, seperti top-up saldo bagi driver berprestasi. 

Selain itu, rencana pengembangan teknologi dalam aplikasi Maxride, termasuk integrasi kecerdasan buatan (AI) untuk optimasi rute dan manajemen armada, menunjukkan kesiapan Bajaj untuk beradaptasi dengan tren teknologi modern, mengikuti praktik terbaik dari negara-negara seperti Jerman.