Mengapa IHSG Hijau Meski FTSE Bekukan Review dan Asing Jual?
- IHSG tetap menguat meski FTSE membekukan review dan asing net sell Rp917 miliar. Dominasi investor domestik menjaga indeks tetap hijau.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sukses ditutup menguat signifikan sebesar 1,24% ke level 8.131,74 pada perdagangan Selasa, 10 Februari 2026. Kenaikan ini terjadi di tengah aksi jual bersih atau net sell investor asing yang mencapai Rp917,26 miliar di pasar reguler.
Tim Riset Phintraco Sekuritas memproyeksikan IHSG pada perdagangan hari ini, Rabu, 11 Februari 2026, akan menguji level resisten baru. Optimisme pasar domestik tampaknya tidak terganggu oleh keputusan FTSE Russell yang menunda review indeks Indonesia hingga Maret 2026, didukung indikator teknikal.
Sementara itu, Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai penundaan FTSE berdampak signifikan bagi strategi investor institusi global. Hal ini terkonfirmasi dari tekanan jual asing yang terkonsentrasi pada sepuluh saham unggulan, namun indeks tetap mampu bertahan hijau berkat dominasi beli domestik.
1. Dominasi Domestik 67 Persen
Data TrenAsia.id yang dihimpun dari Stockbit Sekuritas mencatat aktivitas asing yang cukup masif pada perdagangan kemarin. Info saja, investor asing membukukan nilai beli sebesar Rp5,66triliun namun melakukan penjualan Rp6,58triliun, sehingga tercatat net foreign sell sebesar Rp917,26miliar khusus di pasar reguler.
Sebaliknya, investor domestik tampil sangat dominan dengan nilai beli mencapai Rp13,05triliun dan jual Rp12,14triliun. Pelaku pasar lokal justru mencatatkan net buy yang signifikan, menjadi penopang utama IHSG untuk tetap bergerak di zona hijau meski asing keluar.
Partisipasi investor domestik menguasai pasar sebesar 67,30%, jauh mengungguli porsi investor asing yang hanya berkontribusi 32,70% terhadap total nilai transaksi. Tak ayal, dominasi lokal ini membuktikan ketahanan pasar modal Indonesia terhadap sentimen eksternal maupun keputusan penundaan indeks global tersebut.
2. Asing Lepas 10 Saham Ini
Tekanan jual asing tersebut terpusat pada sejumlah saham unggulan berkapitalisasi besar yang menjadi penggerak indeks. Data perdagangan mencatat net sell terbesar melanda saham BUMI senilai (Rp483,16miliar), diikuti BBCA (Rp328,08 miliar), dan DEWA (Rp145,67 miliar) pada perdagangan kemarin sore.
Selain itu, jual bersih asing juga menyasar saham BUVA (Rp134,59 miliar) serta BBRI (Rp129,79 miliar). Meskipun terjadi arus keluar dana asing pada deretan saham blue chip tersebut, IHSG tetap mampu ditutup menguat berkat dorongan beli dari investor ritel domestik.
Daftar sepuluh besar net sell asing ditutup oleh saham IMPC, RAJA, ENRG, GOTO, dan ANTM. Phintraco menilai fenomena ini sebagai rotasi wajar, di mana pasar tetap menunjukkan ketahanan luar biasa dengan mengabaikan arus keluar dana asing sementara waktu.
3. IHSG Uji 8.215 Hari Ini
Menyikapi kondisi tersebut Phintraco Sekuritas mengatakan IHSG pada hari ni diprediksi berpotensi melanjutkan penguatan dan menguji level 8200-8215. Indikator teknikal seperti penyempitan histogram negatif MACD memberikan sinyal bahwa momentum bullish jangka pendek masih terjaga.
Posisi indeks yang bertahan di atas garis Moving Average 5 (MA5) menjadi konfirmasi tren penguatan. Phintraco menetapkan level Resistance di 8215, Pivot di 8100, dan Support psikologis di level 8000 untuk menjadi acuan batas risiko perdagangan hari ini.
Dukungan juga datang dari penguatan nilai tukar Rupiah dan tren positif bursa global yang memberikan angin segar bagi psikologis pelaku pasar saham domestik. "Kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia berangsur-angsur mulai pulih kembali," tulis Phintraco dalam risetnya pada Rabu, 11 Februari 2026.
4. Indeks Beku
Mengomentari isu FTSE, Hendra Wardana menilai penundaan ini sebagai sinyal ketidakpastian teknis, bukan fundamental. Keputusan ini membuat seluruh perubahan indeks FTSE untuk Indonesia dibekukan sementara, sehingga tidak ada penambahan saham baru atau rebalancing bobot dalam jangka pendek.
Hal ini berdampak pada tertahannya potensi arus masuk dana asing pasif ke saham-saham yang sebelumnya diprediksi akan masuk menjadi konstituen indeks global tersebut. "Kondisi ini membuat struktur indeks FTSE Indonesia bersifat statis hingga adanya evaluasi lanjutan," jelas Hendra kepada TrenAsia.id.
Hendra menegaskan bahwa stabilitas struktur pasar adalah prasyarat utama bagi penyedia indeks global. Penundaan ini menegaskan perlunya kepastian regulasi terkait free float dan mekanisme pasar sebelum FTSE melakukan penyesuaian komposisi indeks saham Indonesia secara menyeluruh dan berkala.
5. Bukan Downgrade Status Negara
Poin kedua dari Hendra Wardana adalah klarifikasi bahwa keputusan ini bukan downgrade status negara. Risiko penurunan klasifikasi Indonesia tidak melekat pada penundaan ini, karena review status negara tetap dijadwalkan akan diumumkan terpisah pada tanggal 7 April 2026.
Oleh karena itu, sentimen negatif yang muncul saat ini dinilai Hendra lebih bersifat teknis dan sementara. Investor institusi global mungkin akan mengambil sikap wait and see, namun tidak serta merta menarik dana secara permanen dari pasar modal Indonesia.
Hendra menyimpulkan bahwa perubahan yang bersifat wajib seperti merger atau delisting tetap akan diproses oleh FTSE. Artinya, integritas indeks tetap terjaga meskipun perubahan diskresioner ditunda, sehingga investor tidak perlu panik berlebihan dalam menyikapi dinamika regulasi indeks global ini.

Alvin Bagaskara
Editor
