Tren Global

Mengapa Dolar AS Sulit Dikalahkan, Ini Alasannya

  • Bukan tanpa alasan, dominasi dolar bukan sekadar warisan sejarah, melainkan sebuah konstruksi yang terus diperkuat oleh fondasi ekonomi, politik, dan kelembagaan
Uang kertas Dolar AS terlihat pada ilustrasi
Uang kertas Dolar AS terlihat pada ilustrasi (Reuters/Dado Ruvic) (Reuters/Dado Ruvic)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Kala berbagai negara untuk melepaskan diri dari cengkeraman dolar Amerika Serikat (USD), satu kenyataan tetap bertahan: greenback masih menjadi raja tak terbantahkan dalam sistem keuangan global.

Bukan tanpa alasan, dominasi dolar bukan sekadar warisan sejarah, melainkan sebuah konstruksi yang terus diperkuat oleh fondasi ekonomi, politik, dan kelembagaan yang sangat dalam.

Dilansir Ensikolpedia Britnica, kekuatan USD berawal dari Perjanjian Bretton Woods yang disepakati pasca Perang Dunia II. Dalam perjanjian tersebut, dolar AS dipatok terhadap emas, sementara mata uang negara lain mengacu pada nilai dolar. 

Konferensi bersejarah yang berlangsung tahun 1944 itu bukan sekadar kesepakatan teknis. Ia adalah pergeseran tatanan dunia, dari sistem multi-kutub menuju satu pusat gravitasi keuangan: Amerika Serikat.

Saat itu, ekonomi negara-negara Eropa hancur, sementara Amerika Serikat justru keluar sebagai pemenang dengan ekonomi terkuat dan memegang dua pertiga cadangan emas dunia. Posisi itu bukan sekadar keberuntungan, melainkan hasil dari peran AS sebagai pemasok logistik perang dan kreditur utama bagi sekutu-sekutunya.

Perjalanan dolar AS menuju status mata uang dominan dimulai dengan pembentukan Federal Reserve pada 1913, sebuah kebijakan penting untuk menstabilkan ekonomi dan mengatur sistem mata uang yang sebelumnya tidak terkontrol. Dari sana, kepercayaan terhadap dolar dibangun berlapis-lapis selama lebih dari satu abad.

Baca juga : Rekrutmen ASN 2026 Menggantung, Terganjal Fiskal dan Geopolitik?

Tiga Pilar yang Tak Mudah Runtuh

Dominasi dolar hari ini bertumpu pada setidaknya tiga pilar besar yang saling menopang. Pertama, kekuatan dan stabilitas ekonomi AS itu sendiri. AS adalah ekonomi terbesar di dunia dengan pasar keuangan yang sangat dalam dan likuid. 

Pasar saham dan obligasi AS adalah yang terbesar di dunia, memudahkan siapa pun untuk membeli atau menjual aset dalam jumlah besar tanpa mengganggu harga.

Kedua, stabilitas kelembagaan yang menjadi jangkar kepercayaan global. AS memiliki sistem politik yang stabil dan institusi seperti The Federal Reserve (The Fed) yang independen, menciptakan kepercayaan bahwa kebijakan moneter dikelola dengan baik. Hal ini menjadi pembeda besar dibanding banyak negara berkembang yang masih rentan terhadap guncangan politik dan ekonomi.

Ketiga, infrastruktur keuangan global yang sudah terbangun selama puluhan tahun. Infrastruktur keuangan global telah lama beradaptasi dengan dominasi USD, dan perubahan besar-besaran mungkin memerlukan waktu yang sangat lama. 

Sistem perbankan internasional, kontrak komoditas, hingga pinjaman antarnegara, semuanya sudah terlanjur dirancang dengan dolar sebagai referensi utama.

Alat Perdagangan dan Cadangan Devisa

Salah satu bukti konkret kuatnya posisi dolar adalah kedudukannya dalam cadangan devisa bank sentral di seluruh dunia. Hingga 2024, dolar tetap menjadi mata uang cadangan terbesar, didukung oleh jaringan perdagangan global yang sudah mapan dan kepercayaan investor terhadap instrumen keuangan AS, seperti surat utang atau Treasury.

Meskipun beberapa negara kawasan mulai membangun kekuatan ekonomi bersama untuk mengurangi ketergantungan pada dolar, posisi dolar AS masih sulit digantikan karena masih banyak negara yang bergantung pada dolar dalam kegiatan transaksi internasional dan cadangan devisa.

Dalam beberapa tahun terakhir, blok negara-negara BRICS yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan, gencar mendorong agenda de-dolarisasi. Mereka mendorong perdagangan bilateral dalam mata uang lokal, membangun sistem pembayaran alternatif, hingga mewacanakan mata uang bersama.

Namun realitasnya masih jauh dari harapan. Meskipun ada dorongan untuk mengurangi dominasi dolar, kenyataannya masih ada hambatan besar dalam mewujudkan mata uang global yang dapat menggantikan posisi dolar. Ketergantungan pada dolar dalam transaksi internasional, cadangan devisa, dan perdagangan komoditas membuat dolar tetap menjadi penghubung utama antara negara-negara di seluruh dunia.

Rusia, China, dan beberapa negara lainnya telah mulai beralih ke mata uang lain seperti Euro atau Yuan untuk mengurangi risiko ketergantungan pada USD, namun USD masih memegang banyak keunggulan yang sulit ditandingi mata uang lain.

Baca juga : Puncak Arus Mudik, Bandara Soekarno-Hatta Perkuat Layanan

Dampak bagi Negara Berkembang

Dominasi dolar bukan sekadar urusan geopolitik, ia berdampak langsung pada kehidupan ekonomi negara-negara berkembang. Banyak pemerintah dan perusahaan di negara berkembang menerbitkan utang dalam dolar. Ketika dolar menguat, beban pembayaran bunga dan pokok utang membengkak, dan penguatan dolar sering berarti pelemahan mata uang lokal seperti Rupiah.

Kondisi ini membuat Indonesia dan negara-negara serupa berada dalam posisi yang rentan setiap kali Federal Reserve mengambil keputusan kebijakan suku bunga. Keputusan The Fed menjadi fokus pasar global karena akan memengaruhi arah aliran modal dan kekuatan dolar.

Dolar AS bukan tidak memiliki tantangan. Defisit anggaran AS yang terus membengkak, gesekan geopolitik, serta gelombang de-dolarisasi adalah ujian nyata. Namun, selama belum ada alternatif yang mampu menandingi kedalaman pasar, stabilitas kelembagaan, dan jaringan kepercayaan global yang dimiliki AS, dolar akan tetap berdiri sebagai mata uang paling berkuasa di dunia.

Dolar AS menjadi patokan mata uang dunia berkat sejarah panjang, kekuatan ekonomi, dan sistem keuangan yang stabil. Meski tantangan seperti de-dolarisasi muncul, posisinya sebagai mata uang utama masih sulit tergantikan dalam waktu dekat.