Mengapa Dolar AS Sangat Kuat?
- Dolar AS tetap perkasa sebagai safe haven global, namun tekanan dari utang jumbo, pelonggaran moneter, dan de-dolarisasi mulai menguji dominasinya.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Kekuatan dolar Amerika Serikat (USD) terus menjadi sorotan pelaku pasar global, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi, geopolitik, dan perubahan arah kebijakan moneter dunia.
Sebagai mata uang cadangan utama global, pergerakan dolar tidak hanya mencerminkan kondisi ekonomi AS, tetapi juga menjadi barometer stabilitas sistem keuangan internasional.
Hingga periode 2025-2026, dolar menunjukkan dinamika yang kompleks, menguat oleh faktor fundamental tertentu, namun di sisi lain menghadapi tekanan struktural yang berpotensi melemahkannya.
Mengapa Dolar AS Kuat?
Kekuatan dolar AS terutama ditopang oleh kinerja ekonomi Amerika Serikat yang relatif solid dibandingkan negara maju lainnya.
Dikutip laman lembaga jasa keuangan global, EBC Financial Group, Kamis, 15 Januari 2025, Pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) AS yang lebih baik dari ekspektasi pada kuartal II-2025 menarik arus modal global ke pasar keuangan AS.
Investor cenderung meningkatkan eksposur ke aset berdenominasi dolar, baik saham maupun obligasi, sehingga permintaan terhadap USD tetap tinggi.
Selain faktor pertumbuhan ekonomi, imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury juga memainkan peran penting. Kenaikan yield, khususnya pada tenor dua tahun, membuat instrumen keuangan AS semakin menarik bagi investor asing.
Untuk membeli obligasi tersebut, investor harus menukar mata uang mereka ke dolar AS, yang pada akhirnya mendorong penguatan nilai tukar greenback dan menopang Indeks Dolar (DXY) di level tinggi.
Dari sisi kebijakan moneter, sikap Federal Reserve yang cenderung “hawkish” turut memperkuat dolar. Meskipun The Fed memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada September 2025 ke kisaran 4,00-4,25 persen, bank sentral AS tetap memberikan sinyal kehati-hatian terhadap pelonggaran lanjutan.
Baca juga : Sido Muncul Kembali Gelar Baksos Operasi Bibir Sumbing
Sikap ini menjaga selisih suku bunga AS dengan negara lain tetap menarik, sehingga dolar masih dipandang kompetitif dalam perburuan imbal hasil global.
Faktor geopolitik juga menjadi penopang utama dolar. Ketegangan geopolitik di Eropa, konflik regional, serta ketidakpastian perdagangan global mendorong investor mencari aset aman atau safe-haven.
Dalam situasi seperti ini, dolar AS tetap menjadi pilihan utama karena likuiditasnya yang tinggi dan peran sentral AS dalam sistem keuangan global.
Hal ini tercermin dari pergerakan Indeks Dolar (DXY) yang masih bertahan di level tinggi, bahkan sempat rebound tipis ke kisaran 98,2 pada Desember 2025.

Cara Lemahkan Dolar AS
EBC juga memaparkan dalam laporannya, dolar AS tidak kebal terhadap tekanan. Salah satu faktor utama yang berpotensi melemahkan USD adalah perubahan arah kebijakan moneter Federal Reserve.
Ketika data ekonomi AS menunjukkan pelemahan, seperti perlambatan penciptaan lapangan kerja dan kenaikan tingkat pengangguran, pasar mulai berspekulasi bahwa Fed akan memangkas suku bunga lebih agresif.
Pada tahun 2025, data tenaga kerja yang hanya mencatat penambahan sekitar 22.000 lapangan kerja dengan tingkat pengangguran 4,3 persen memicu ekspektasi pemangkasan suku bunga lanjutan, yang secara langsung mengurangi daya tarik dolar.
Masalah struktural lain yang membayangi dolar adalah beban utang pemerintah AS yang sangat besar. Rasio utang terhadap PDB yang mendekati 130 persen menimbulkan kekhawatiran tentang keberlanjutan fiskal jangka panjang.
Kondisi ini membuat sebagian investor global mulai mempertanyakan stabilitas fiskal AS dan menuntut premi risiko yang lebih tinggi untuk memegang aset berdenominasi dolar.
Ketidakpastian politik dan fiskal di AS juga berkontribusi terhadap potensi pelemahan dolar. Kebuntuan anggaran, perubahan arah kebijakan perdagangan, serta dinamika politik domestik membuat pasar valuta asing semakin sensitif terhadap risiko AS. Dalam situasi ini, sebagian arus modal global mulai mencari alternatif di luar dolar.
Selain itu, tren de-dolarisasi menjadi faktor jangka panjang yang patut diperhitungkan. Semakin banyak negara yang berupaya mengurangi ketergantungan pada dolar dalam perdagangan internasional dan cadangan devisa.
Baca juga : Analis Soroti AMMN, CTRA, CUAN, dan WIRG Saat Rekor IHSG
Data IMF menunjukkan, porsi dolar dalam cadangan devisa global turun menjadi sekitar 58 persen pada 2025, jauh lebih rendah dibandingkan sekitar 71 persen pada tahun 2000. Penurunan ini menandakan berkurangnya permintaan struktural terhadap USD.
Perubahan preferensi safe-haven juga ikut menekan dolar. Ketika kepercayaan terhadap mata uang fiat menurun, investor mulai mengalihkan dana ke aset alternatif seperti emas, komoditas, dan bahkan aset digital.
Lonjakan harga emas hingga menembus level di atas US$3.600 per ons serta meningkatnya aliran dana ke Bitcoin sebagai “digital hedge” menunjukkan adanya pergeseran minat investor dari dolar ke instrumen lindung nilai lain.
Sejumlah indikator utama menggambarkan dinamika tersebut secara jelas. Indeks Dolar (DXY) memang sempat rebound tipis ke kisaran 98,2 pada Desember 2025, namun secara tahunan masih mencatat penurunan sekitar 10–11 persen pada paruh pertama 2025.
Imbal hasil US Treasury tenor dua tahun tetap tinggi dan menjadi salah satu penopang dolar, sementara suku bunga acuan The Fed berada di kisaran 4,00-4,25 persen setelah pemangkasan pada September 2025.
Di sisi lain, rasio utang terhadap PDB AS yang mendekati 130 persen serta melemahnya data tenaga kerja memperkuat narasi bahwa dolar menghadapi tantangan struktural yang tidak ringan.

Amirudin Zuhri
Editor
