Meneropong Nasib IHSG Usai Review MSCI Agustus 2026
- MSCI mengeluarkan GOTO dari Global Standard Index dan menurunkan CPIN ke Small Cap. Simak dampaknya terhadap IHSG dan pasar modal Indonesia.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Morgan Stanley Capital International (MSCI) resmi mengumumkan hasil MSCI August 2026 Index Review pada Kamis dini hari, 13 Agustus 2026.
Hasil evaluasi tersebut membawa kabar kurang menggembirakan bagi pasar modal Indonesia. Jumlah saham Indonesia di MSCI Global Standard Index berkurang dari 11 menjadi sembilan emiten setelah GOTO dikeluarkan dari indeks utama dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) diturunkan ke MSCI Global Small Cap Index. Tidak ada saham Indonesia baru yang masuk sebagai pengganti.
Meski demikian, Indonesia masih mempertahankan status sebagai bagian dari kelompok Emerging Markets. Seluruh perubahan hasil review ini akan mulai berlaku setelah penutupan perdagangan pada 31 Agustus 2026 dan efektif diterapkan pada 1 September 2026.
Perubahan paling menyita perhatian adalah keluarnya saham GOTO dari MSCI Global Standard Index. Tidak ada saham Indonesia yang menggantikan posisi tersebut sehingga jumlah konstituen Indonesia di indeks utama MSCI kembali berkurang.
Sementara itu, CPIN tidak sepenuhnya keluar dari ekosistem MSCI. Emiten produsen pakan ternak tersebut hanya mengalami penurunan kelas dari Global Standard Index menjadi Global Small Cap Index.
Dengan perubahan ini:
- GOTO resmi keluar dari MSCI Global Standard Index.
- CPIN turun kelas ke MSCI Global Small Cap Index.
- Tidak ada saham Indonesia yang masuk ke Global Standard Index pada review Agustus 2026.
Sembilan Saham Indonesia Masih Bertahan di MSCI Global Standard
Setelah evaluasi Agustus 2026, hanya tersisa sembilan saham Indonesia yang masih menjadi anggota MSCI Global Standard Index, yaitu:
- PT Astra International Tbk (ASII)
- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)
- PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI)
- PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI)
- PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI)
- PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS)
- PT Barito Pacific Tbk (BRPT)
- PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM)
- PT United Tractors Tbk (UNTR)
Sementara itu, sekitar 33 saham Indonesia masih tercatat sebagai konstituen MSCI Global Small Cap Index.
Sembilan Saham Keluar dari MSCI Global Small Cap Index
Selain perubahan pada indeks utama, MSCI juga melakukan penyesuaian pada indeks saham berkapitalisasi kecil. CPIN menjadi satu-satunya saham yang masuk ke MSCI Global Small Cap Index.
Di sisi lain, sembilan saham Indonesia dikeluarkan dari indeks tersebut, yakni:
- PT Bank Jago Tbk (ARTO)
- PT Bukalapak.com Tbk (BUKA)
- PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA)
- PT MD Entertainment Tbk (FILM)
- PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL)
- PT MNC Tourism Indonesia Tbk (KPIG)
- PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU)
- PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR)
- PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI)
Secara keseluruhan, review Agustus 2026 memberikan dampak negatif terhadap 10 saham Indonesia.
IHSG Langsung Melemah Setelah Pengumuman MSCI
Reaksi pasar terhadap hasil review MSCI berlangsung cepat. Pada perdagangan sesi pertama Kamis (13/8/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka di zona merah dan terus bergerak melemah.
Sekitar pukul 10.00 WIB IHSG turun 1,40% ke level 6.284,36. Sebelumnya indeks sempat berada di posisi 6.291, atau turun sekitar 1,30%. Sesi II perdagangan IHSG ditutup melemah -1.13% diposisi 6.301,76. Saham-saham yang dikeluarkan dari indeks MSCI juga mengalami tekanan jual cukup besar.
Penurunan harga intraday di antaranya meliputi:
- FILM turun sekitar 7,84%.
- ESSA melemah sekitar 7,75%.
- RATU turun sekitar 6,80%.
- KPIG terkoreksi sekitar 6,76%.
- HEAL melemah sekitar 6,58%.
- ARTO turun sekitar 5,58%.
- TCPI melemah sekitar 5,22%.
- BUKA turun sekitar 4,24%.
- SMGR terkoreksi sekitar 4,18%.
- CPIN turun sekitar 2,54%.
Berbeda dengan saham lainnya, GOTO tidak mengalami perubahan harga dan tetap berada di level Rp50. Kondisi tersebut terjadi karena saham GOTO telah berada pada batas harga minimum Bursa Efek Indonesia sejak 13 Mei 2026.
Mengapa GOTO Dikeluarkan dari MSCI?
Keputusan MSCI mengeluarkan GOTO tidak semata-mata dipengaruhi oleh ukuran perusahaan, tetapi juga mempertimbangkan aspek likuiditas perdagangan. Dalam evaluasi kali ini, MSCI menggunakan harga sistem sebesar 0,00001 sebagai dasar perhitungan, bukan harga transaksi riil di Bursa Efek Indonesia.
Langkah tersebut diambil karena saham GOTO telah lama berada di harga minimum Rp50 sehingga dinilai tidak lagi mencerminkan kondisi pasar yang likuid.
Bagi pengelola dana pasif (passive funds), kondisi tersebut menyulitkan proses replikasi indeks karena saham menjadi sulit diperdagangkan dalam jumlah besar.
MSCI sebenarnya telah menunda keputusan terhadap GOTO pada review Mei 2026 sebelum akhirnya memutuskan mengeluarkan saham tersebut pada evaluasi Agustus.
CPIN Hanya Turun Kelas, Bukan Keluar Sepenuhnya
Berbeda dengan GOTO, CPIN masih tetap berada dalam keluarga indeks MSCI. Perusahaan hanya mengalami perpindahan dari Global Standard Index ke Global Small Cap Index.
Artinya, saham CPIN masih tetap menjadi bagian dari indeks MSCI, meski bobotnya terhadap investasi global menjadi lebih kecil dibandingkan sebelumnya.
Selain perubahan konstituen indeks, MSCI juga belum mencabut kebijakan freeze terhadap pasar modal Indonesia.
Sejumlah pembatasan yang masih diberlakukan antara lain:
- Pembekuan kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF).
- Pembekuan perubahan Number of Shares (NOS).
- Tidak ada konstituen baru yang dapat masuk ke MSCI Investable Market Indexes (IMI).
- Tidak diperbolehkannya kenaikan kelas (upward index migration) bagi saham Indonesia.
Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berharap pembekuan tersebut dapat dicabut setelah berbagai reformasi transparansi pasar modal dilakukan. Namun, hingga review Agustus 2026, MSCI memutuskan untuk tetap mempertahankan kebijakan tersebut.
Perubahan komposisi indeks MSCI biasanya menjadi perhatian utama investor institusi global.
Banyak reksa dana indeks dan ETF internasional menggunakan MSCI sebagai acuan investasi sehingga setiap perubahan komposisi dapat memicu transaksi dalam jumlah besar.
Ketika suatu saham dikeluarkan dari indeks, manajer investasi pasif umumnya harus menjual saham tersebut agar portofolionya tetap sesuai dengan komposisi indeks.
Kondisi inilah yang menjelaskan mengapa mayoritas saham yang dikeluarkan dari MSCI langsung mengalami tekanan jual pada perdagangan hari pengumuman.
Hasil MSCI August 2026 Index Review menunjukkan jika pasar modal Indonesia masih menghadapi tantangan dalam meningkatkan daya saing di mata investor global.
Tidak adanya saham baru yang masuk ke MSCI Global Standard Index, keluarnya GOTO, turunnya status CPIN, serta masih berlanjutnya pembekuan terhadap Indonesia menunjukkan bahwa proses reformasi pasar modal belum sepenuhnya memenuhi ekspektasi penyedia indeks global.
Dalam jangka pendek, perubahan tersebut berpotensi meningkatkan volatilitas sejumlah saham yang terdampak serta memicu arus keluar dana asing dari saham-saham yang dikeluarkan dari indeks.
Sementara dalam jangka panjang, keberhasilan meningkatkan likuiditas pasar, memperkuat tata kelola, dan memperbaiki akses investor asing akan menjadi faktor penting agar Indonesia kembali memperoleh bobot yang lebih besar dalam indeks MSCI pada evaluasi berikutnya.

Chrisna Chanis Cara
Editor
