Tren Inspirasi

Menembus Ombak, Mantri BRI Layani 34 Desa di Maluku Utara

  • Wiranto Jumran, Mantri BRI, menembus ombak dan jalur terjal untuk melayani ratusan nasabah di 34 desa pada tujuh pulau di Maluku Utara.
WhatsApp Image 2026-08-19 at 13.30.49.jpeg
Wiranto Jumran, Mantri BRI Unit Bacan, Kantor Cabang Ternate. (BRI)

TERNATE, TRENASIA.ID – Laut menjadi jalur utama bagi masyarakat yang tinggal di gugusan kepulauan Maluku Utara. Namun, ketika ombak meninggi dan angin kencang datang, mobilitas antarpulau ikut terhambat. Di tengah kondisi geografis tersebut, layanan perbankan tetap diupayakan hadir melalui pendekatan langsung ke masyarakat.

Salah satunya dilakukan Wiranto Jumran, Mantri BRI Unit Bacan, Kantor Cabang Ternate. Ia mendampingi ratusan debitur yang tersebar di 34 desa pada tujuh pulau, dengan mayoritas nasabah berprofesi sebagai nelayan, petani, dan pedagang kecil.

Selain mendatangi desa-desa binaan, Wiranto juga bertugas melalui Teras BRI Kapal Bahtera Seva II, layanan perbankan terapung yang menjangkau masyarakat di pulau-pulau kecil dan wilayah pesisir yang memiliki keterbatasan akses terhadap layanan keuangan formal.

"Saya ingin berkarier di BRI karena ingin terus belajar dan menambah pengalaman di dunia bisnis. Hal yang paling berkesan adalah melihat masyarakat di berbagai pulau menyambut kedatangan Teras BRI Kapal dengan antusias. Masyarakat merasa senang karena layanan perbankan kini hadir lebih dekat, dan saya bangga bisa menjadi bagian dari pelayanan tersebut," ujar Wiranto.

Dalam kesehariannya, Wiranto mengunjungi desa-desa binaan untuk melayani kebutuhan simpanan dan pinjaman sekaligus memperkenalkan berbagai layanan BRI. Pembiayaan yang diberikan dimanfaatkan masyarakat untuk mengembangkan usaha, termasuk kegiatan perikanan, pertanian, dan perdagangan skala kecil.

Bagi Wiranto, perkembangan usaha nasabah menjadi salah satu pengalaman yang membuat pekerjaannya memiliki arti. Ia dapat melihat secara langsung bagaimana akses pembiayaan dan layanan perbankan digunakan untuk menopang aktivitas ekonomi masyarakat di pulau-pulau kecil.

Saat Kapal Tak Bisa Merapat

Medan geografis menjadi tantangan tersendiri dalam menjalankan tugas. Ketika Teras BRI Kapal Bahtera Seva II tidak dapat merapat karena ombak atau angin kencang, Wiranto dan tim harus menggunakan perahu karet untuk mencapai daratan.

Perjalanan belum selesai setelah tiba di daratan. Untuk menjangkau sejumlah desa, mereka masih harus melewati jalur menanjak dan terjal.

"Bagi saya, tugas sebagai Mantri BRI adalah tanggung jawab yang harus dijalankan dengan sungguh-sungguh. Pengalaman melayani masyarakat di wilayah kepulauan mengajarkan saya untuk selalu memberikan layanan dengan setulus hati dan memberikan yang terbaik," ungkap Wiranto.

Kondisi tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa perluasan inklusi keuangan di wilayah kepulauan membutuhkan pendekatan yang berbeda dibandingkan wilayah perkotaan. Jarak, kondisi cuaca, ketersediaan transportasi, hingga infrastruktur menjadi faktor yang menentukan seberapa mudah masyarakat mengakses layanan keuangan formal.

Wiranto mengatakan masih terdapat masyarakat di desa dan wilayah kepulauan yang harus menempuh perjalanan cukup panjang hanya untuk memperoleh layanan perbankan. Karena itu, ia ingin memastikan kehadiran BRI dapat memberikan manfaat secara langsung bagi masyarakat yang dilayaninya.

Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan pengalaman Wiranto mencerminkan upaya BRI menghadirkan layanan perbankan hingga wilayah yang memiliki tantangan geografis.

"Di balik setiap perjalanan yang ditempuh para pekerja BRI, terdapat semangat untuk memastikan masyarakat di berbagai wilayah memiliki kesempatan yang sama dalam mengakses layanan keuangan. Bagi BRI, kehadiran di tengah masyarakat bukan sekadar menghadirkan layanan perbankan, tetapi juga membuka peluang bagi masyarakat untuk tumbuh dan berkembang," ujar Dhanny.

Kehadiran Mantri dan Teras BRI Kapal menjadi salah satu cara untuk mendekatkan layanan keuangan kepada masyarakat kepulauan. Bagi nelayan, petani, dan pedagang kecil, akses tersebut bukan hanya mempermudah transaksi, tetapi juga membuka kesempatan memperoleh pembiayaan untuk mengembangkan kegiatan ekonomi mereka.

Dengan demikian, perjalanan menembus ombak yang dilakukan Wiranto bukan sekadar rutinitas pekerjaan. Di wilayah kepulauan, jarak yang berhasil ditembus juga berarti satu langkah lebih dekat bagi masyarakat terhadap akses keuangan dan peluang mengembangkan usaha.