Mencermati Tren Dividen BMRI 10 Tahun Terakhir
- Tahun 2024 menjadi tonggak sejarah baru bagi bank pelat merah ini dengan mencatatkan dividend payout ratio (DPR) tertinggi dalam satu dekade terakhir, yakni sebesar 78%.

Ananda Astri Dianka
Author


JAKARTA — PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) kembali mencuri perhatian pelaku pasar dengan langkah strategis dalam kebijakan dividen. Tahun 2024 menjadi tonggak sejarah baru bagi bank pelat merah ini dengan mencatatkan dividend payout ratio (DPR) tertinggi dalam satu dekade terakhir, yakni sebesar 78%.
Angka ini melampaui konsistensi DPR yang sebelumnya berada di level 60% selama lima tahun berturut-turut. Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada Selasa, 25 Maret 2025, Bank Mandiri menetapkan dividen sebesar Rp43,5 triliun dari laba bersih Rp55,78 triliun.
Dengan demikian, pemegang saham menerima Rp466,18 per lembar saham. Ini menjadi angka tertinggi dalam sejarah perusahaan, jauh melampaui dividen tahun 2015 yang hanya sebesar Rp6 triliun. Dalam sepuluh tahun terakhir, kebijakan dividen BMRI memang menunjukkan pola yang konsisten dan progresif.
Sejak tahun 2015, Bank Mandiri terus memperlihatkan komitmen dalam membagikan sebagian besar laba bersihnya kepada para pemegang saham. Rasio pembagian dividen yang semula berada di level 30% pada 2015 dan 2016, perlahan meningkat menjadi 35% pada 2017 dan mencapai 45% di tahun berikutnya.
Peningkatan signifikan mulai terjadi sejak 2019, di mana rasio dividen ditetapkan pada angka 60% dan bertahan stabil di level tersebut selama lima tahun berturut-turut hingga 2023.

Dari sisi kinerja keuangan, laba Bank Mandiri tumbuh 1,31% YoY dari Rp55,06 triliun pada 2023 menjadi Rp55,78 triliun pada 2024. Pendapatan bunga dan syariah bersih mencapai Rp101,75 triliun, naik 6,12% YoY, yang turut mendukung pertumbuhan laba perseroan.
Total dana pihak ketiga (DPK) Bank Mandiri tumbuh 7,74% YoY menjadi Rp1.698,89 triliun. Loan to deposit ratio (LDR) meningkat menjadi 98,04% dari 86,75% tahun sebelumnya. Aset Bank Mandiri juga mengalami kenaikan 11,63% YoY menjadi Rp2.427,22 triliun pada akhir 2024.
Kinerja Bulanan
Terbaru, Bank Mandiri melaporkan laba bersih secara bank only sebesar Rp7,59 triliun per Februari 2025, tumbuh 6% YoY. Ini ditopang pendapatan bunga bank berlogo pita emas ini mencapai Rp19,33 triliun, meningkat 12,64% YoY dalam dua bulan pertama 2025.
Sementara itu, beban bunga meningkat 26,02% YoY menjadi Rp6,78 triliun per Februari 2025. Alhasil, pendapatan bunga bersih BMRI tercatat sebesar Rp12,55 triliun, tumbuh 6,63% YoY. Pertumbuhan laba ini juga didukung oleh penurunan kerugian nilai aset keuangan (impairment), yang susut 8,69% YoY menjadi Rp1,47 triliun dari Rp1,61 triliun.
Perolehan laba juga ditopang oleh penyaluran kredit BMRI yang mencapai Rp1.307,64 triliun, tumbuh 19,05% YoY per Februari 2025. Realisasi ini jauh melampaui pertumbuhan kredit industri perbankan yang hanya 10,3% YoY pada periode yang sama. Penyaluran kredit tersebut turut mendorong total aset bank pelat merah ini menjadi Rp1.937,46 triliun, naik 16,36% YoY per Februari 2025.
Di sisi pendanaan, perseroan menghimpun dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp1.414,42 triliun dalam dua bulan pertama tahun ini, tumbuh 16,98% dibandingkan posisi Februari 2024. Pertumbuhan simpanan BMRI tercatat pada semua jenis, baik giro, tabungan, maupun deposito.

Ananda Astri Dianka
Editor
