Mencegah Tertipu Klaim Produk Ramah Lingkungan
- Gaya hidup ramah lingkungan kian populer, tetapi konsumen perlu mewaspadai praktik greenwashing yang memanfaatkan kepedulian lingkungan untuk menjual produk lebih mahal.

trenasia
Author


Kolom Oleh: Ir. Arifin Lambaga, MSE. - Praktisi dan Pemerhati Industri Testing, Inspection, Certification (TIC)
Mematikan lampu saat tak digunakan dan menggunakan air secukupnya --yang dilakukan dengan kesadaran tak menghambur-hamburkan sumber daya alam—adalah tindakan bertanggung jawab sebagai warga dunia.
Tanggung jawab memelihara kelestarian lingkungan. Demikian juga ketika dengan nyaman memiliih menggunakan kendaraan umum, dibanding menggunakan kendaraan pribadi, juga tindakan yang patut diapresiasi sebagai upaya mengurangi karbon yang diilepaskan ke udara bebas.
Melepas karbon ke udara bebas, berarti mengotori udara yang untuk bernapas, dengan racun. Karbon dioksida adalah racun yang mengurangi kemampuan darah untuk mengikat oksegen yang diperlukan tubuh.
Seluruh upaya di atas hari ini, tampak menggejala sebagai gerakan. Makin banyak warga negara dunia yang tergerak, memperhatikan kelestarian lingkungan. Di satu sisi ini tampak sebagai indikasi berhasilnya upaya penyadaran global melestarikan lingkungan.
Sehingga lingkungan dapat dijadikan sebagai tumpuan hidup jangka panjang. Namun di sisi lain kesadaran itu, tak lebih sebagai gaya hidup belaka. Gaya hidup yang mendemostrasikan keberadaban, sebagai citra diri y yang tak egosentris. Gaya hidup macam ini, kerap disebut sebagai “green living”.
Stephanie Safdie, 2022, dalam “What is Green Living?” menjelaskan soal tersebut. Disebutkannya: green living adalah gaya hidup yang memperhatikan kelestarian lingkungan. Pola hidupnya sangat meminimalkan dampak negatif terhadap bumi sebagai ekosistem. Ini dilakukan dengan membuat pilihan hidup yang berkelanjutan.
Namun terdapat indikasi yang lebih jelas, yang dapat dilihat sebagai telah dijalankannya gaya hidup melestarikan lingkungan. Ini berupa: (1). Diminimalkannya pengggunaan energi dan sumber daya. Ditempuh dengan memilih energi yang terbarukan, menghemat listrik dan air.
(2). Ketika menggunakaan suatu produk, diupayakan berkurangnya limbah dan polusi. Ini dicapai dengan menggunakan produk-produk daur ulang, menghindari kemasan sekali pakai, juga mengurangi emisi alat transportasi yang digunakan.
(3). Mendukung produk berkelanjutan dengan cara memilih makanan lokal, organik, mengurangi konsumsi daging yang peternakannya dapat menyebabkan polusi dan memilih menggunakan sustainable fashion. Serta, (4). Membangun kebiasaan ramah lingkungan dengan menggunakan transportasi publik, bersepeda, bergaya hidup minimalis.
Jika diperhatikan, tak ada yang buruk dari “gaya hidup melestarikan lingkungan”. Namun dikeluhkan sekadar sebagai “gaya hidup” lantaran motif yang menggerakkannya tak menjamin tercapainya tujuan jangka panjang. Selain itu, kelemahan dari gaya hidup adalah keberlanjutannya yang diragukan. Saat muncul gaya hidup yang lebih baru, maka gaya hidup lama akan berakhir.
Antara upaya kelestarian lingkungan sebagai gerakan dengan sebagai gaya hidup, terdapat pembedanya. Gerakan selalu melibatkan kesadaran kolektif, yang lazimnya ditempuh dengan keikutsertaan komunitas, organisasi, dan upayanya dilandasi kebijakan publik.
Dari gerakan, lalu terjadi perubahan struktural. Ini lantaran regulasi yang mengikat, advokasi, maupun kampanye sosial yang persuasif, mengubah cara berpikir dalam mencapai kelestarian lingkungan.
Ketika gerakannya berkembang sebagai jejaring, terbentuk identitas politis maupun moral kolektif. Pihak-pihak yang tak mendukung dianggap mengingkari perjuangan, keadilan ekologis, dan peradaban yang diterima masyarakat.
Sedangkan sebagai gaya hidup, lebih didasari kesadaran individual dan bertumpu pada tindakan praktis sehari-hari. Misalnya memperhatikan penggunaan listrik dan air, demi mengurangi tagihannya. Lebih banyak berjalan kaki dibanding berkendaraan, demi mencapai kesehatan pribadi.
Seluruh manfaatnya, selain untuk menunjang hidup hemat, juga membentuk identitas pribadi sebagai sosok yang tak merusak kelestarian lingkungan. Seluruh tindakan konsumsinya, dengan memperhitungkan dampaknya pada kelestarian lingkungan.
Tidak buruk, namun dampaknya pada pencapaian kelestarian lingkungan terbatas. Sementara yang jelas menghadang: gaya hidup ini mudah aus, ketika tak lagi memiliki daya tarik. Kesinambungannya diragukan.
Gaya Hidup Ramah Lingkungan yang Rawan Dimangsa Produsen
Lantaran sifatnya sebagai gaya hidup, pilihannya lebih beriorientasi pada diri sendiri. Ini jika dibanding pada kepentingan lingkungan hidup yang hakiki. Karenanya, tak jarang orientasi egosentrisnya dimanfaatkan pihak lain. Pihak yang memanipulasi, demi memperoleh keuntungan.
Begini cara kerja manipulasinya: untuk menjalani suatu gaya hidup, diperlukan tindakan simbolik telah dijalaninya gaya hidup oleh seseorang. Seorang yang ingin diapresiasi orientasi hidupnya telah selaras dengan kelestarian lingkungan, tak cukup hanya menghemat listrik, air dan berkendaraan umum.
Ia juga membutuhkan artefak simbolik, untuk menunjukkan orientasi hidupnya. Ini termasuk tindakan konsumsinya, yang memperhatikan kelestarian lingkungan. Diperlukannya mesin cuci “greenwashing”, yang mampu mencuci dengan menghemat air, listrik yang digunakan juga minim, dan buangan sisa sabun detergent-nya tak mencemari badan air.
Demikian juga ia memerlukan pengatur udara, air conditioner (AC) yang eco-friendly. Mampu menyesuaikan suhu ruangan berdasar jumlah orang yang ada di dalam ruangan. Dan segera mati jika tak ada orang di dalam ruangan. Pilihan eco-friendly ini menyebabkan terjadi penghematan listrik maupun freon yang digunakan. Beberapa tujuan kelestarian lingkungan, tercapai
Melihat adanya gaya hidup baru semacam ini –adanya individu-individu konsumen yang memutuskan pilihan pebeliannya pada produk yang ramah lingkungan— dilihat sebagai peluang pemasaran yang menguntungkan.
Produk-produk sebelumnya telah dipasarkan dengan berbagai strategi: “lebih murah”, “dengan teknologi baru”, “desain sesuai selera”. Kini dengan munculnya gaya hidup yang memperhatikan kelestarian lingkungan, dapat dijadikan sebagai inovasi pengembangan produk baru. Juga dapat ditawarkan dengan harga yang premium. Harga di atas produk sejenisnya.
Terhadap gejala ini, Antony Gutsa, 2023, dalam “Are Sustainable Products More Expensive?”, menguraikan ketakjubannya, betapa keinginan untuk melestarikan lingkungan dapat menjebak konsumen pada harga yang mahal.
Tulisannya dibuka dengan kalimat, “Bukan rahasia lagi bahwa produk berkelanjutan umumnya lebih mahal daripada produk konvensional. Tetapi mengapa ada perbedaan harga? Dan yang lebih penting, apakah sepadan dengan harga yang lebih mahal?”.
Dijelaskannya, menjadi wajar produk yang selaras dengan kelestarian lingkungan lebih mahal dibanding produk tanpa klaim itu. Terdapat biaya yang menyangkut komitmen etis dan ekologis, dan membuatnya lebih mahal.
Dalam realitasnya, produk-produk semcam itu menjadi lebih mahal lantaran kombinasi yang saling mempengaruhi dan mendongkrak harga jual. Kombinasinya berupa permintaannya yang masih rendah, bahan baku yang memperhatikan aspek berkelanjutan yang lebih sulit diperoleh, serta teknis produksinya yang membutuhkan langkah dan keterampilan pekerja yang berbeda.
Seluruhnya ini, masuk akal jika menyebabkan naiknya harga produk akhir. Pada produksi kertas daur ulang misalnya --selain bahan bakunya yang tak sama dengan kertas yang bukan daur ulang— menyebabkan mesin yang digunakan dan proses yang dilaluinya, juga berbeda. Ketika kertas daur ulang ini “dipaksa” punya kualitas yang setara dengan kertas bukan daur ulang, maka biaya produksinya membengkak. Harga jualnya jadi lebih mahal.
Selain itu, perusahaan juga menanggung biaya tambahan untuk praktik hijau, upah layak, penggunaan material non‑toksik, hingga sertifikasi. Biaya-biaya nonproduksi itu, menambah harga dibanding produk yang tak menyertakan klaim selaras dengan kelestarian lingkungan.
Karenanya, Jika seluruh tambahan biaya itu dianggap sebagai beban yang baru, tak ada produsen yang berminat memproduksi segala rupa produk eco-friendly. Namun ketika seluruhnya dimaknai sebagai investasi untuk melestarikan lingkungan dalam jangka panjang, itulah yang disebut sebagai komitmen etis dan ekologis.
Produk Selaras Kelestarian Lingkungan dan Jebakan Manipulasi Produsen
Namun tidak tertutup pula kemungkinan, adanya produsen yang hanya memanfaatkan kepedulian konsumen terhadap lingkungan dan dimanfaatkan untuk memberi harga premium pada produk, jelas Gutsa. Ini yang disebut sebagai jebakan greenwashing.
Tindakan ini merupakan strategi pemasaran yang membuat produk tampak ramah lingkungan, namun dalam realitasnya tak seperti itu. Konsumen yang memiliki komitmen etis dan ekologis, sekadar dijadikan sebagai target manipulasi. Ini lantaran, individu-individu itu rela membayar lebih untuk mewujudkan gaya hidupnya.
Bagaimana menghindarkan diri agar tak dimanipulasi produsen dengan produk greenwashing? Konsumen dapat mulai dengan mewaspadai klaim “ramah lingkungan”, “bahan alami” atau “produk berkelanjutan”. Klaim-klaim itu berada pada ambang: komitmen perusahaan yang memang hendak menunjang gerakan kelestarian lingkungan dengan manipulasi untuk memperoleh harga lebih tinggi.
Maka untuk menghindari prasangka namun tak terjebak dalam manipulasi, cara yang terbaik adalah memperhatikan sertifikasi yang menyertai klaim. Ini diikuti dengan memperhatikan lembaga sertifikasi yang menerbitkannya dan lembaga akreditasi yang menjaminnya.
Cara ini secara sederhana dapat dipertanggungjawabkan, tanpa harus was-was kemungkinan dimanipulasi pihak yang hendak meraih keuntungan. Mau mencobanya?

Chrisna Chanis Cara
Editor
