Tren Pasar

Menakar Arah Saham GOTO Usai Batas Rp50 Dicabut

  • Antrean jual saham GOTO menembus 400 juta lot, sementara Morgan Stanley borong Rp547 miliar di harga Rp25. Simak prospek dan risikonya.
Peluncuran Yayasan GoTo Merah Putih - Panji 6.jpg
Aksi penampilan para driver disela peluncuran Yayasan GoTo Merah Putih di Jakarta.28 Oktober 2025. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia (trenasia)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menghadapi tekanan jual yang sangat besar setelah berbulan-bulan tertahan di level Rp50 atau gocap.

Tekanan terhadap saham GOTO berpotensi semakin besar setelah Bursa Efek Indonesia (BEI) berencana menurunkan batas harga minimum saham dari Rp50 menjadi Rp1. Kebijakan tersebut membuka kemungkinan saham GOTO diperdagangkan di bawah level gocap.

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, memperkirakan saham GOTO berpotensi menguji level Rp20–Rp30. Dalam skenario tekanan jual yang sangat kuat, harga GOTO bahkan berpotensi turun ke Rp10–Rp20.

Mirae Asset memberikan status Not Rated untuk saham GOTO. Salah satu pertimbangannya adalah transaksi saham GOTO di pasar negosiasi yang terjadi di kisaran Rp23–Rp25 sebagai salah satu acuan price discovery.

Sementara itu, analis CGS International Joanne Ong sebelumnya memperkirakan nilai wajar GOTO berada di sekitar Rp43 per saham, dengan asumsi 10 kali EV/EBITDA 2026.

Baca juga : Mengenal Ekonomi Biru Indonesia dan Potensinya

Mengapa Saham GOTO Tertekan?

Saham GOTO telah terkunci di level Rp50 sejak 5 Mei 2026. Selama berada di level tersebut, tekanan jual terlihat dari besarnya antrean penjualan saham GOTO di pasar reguler.

Pada 9 September 2026 sekitar pukul 11.26 WIB, antrean jual GOTO di level Rp50 tercatat sekitar 400,46 juta lot. Angka tersebut setara dengan lebih dari 40 miliar saham yang menunggu untuk dijual pada harga gocap.

Data lain menunjukkan antrean jual GOTO sempat mencapai sekitar 403 juta lot pada 7 September 2026 dan 410,2 juta lot pada 27 Agustus 2026. Pada 21 Agustus 2026, antrean jual GOTO juga tercatat sekitar 320,51 juta lot dengan nilai sekitar Rp1,6 triliun.

Besarnya antrean tersebut menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara pasokan saham yang ingin dijual dan permintaan beli yang tersedia. Kondisi ini menjadi salah satu alasan mengapa pelonggaran batas harga minimum menjadi perhatian besar bagi pemegang saham GOTO.

BEI berencana mengubah batas harga minimum saham dari Rp50 menjadi Rp1. Selama ini, saham dengan harga Rp50 tidak dapat turun lagi melalui mekanisme perdagangan reguler karena terbentur batas harga minimum. Dengan perubahan aturan tersebut, saham GOTO dapat menemukan harga baru apabila tekanan jual masih lebih besar dibandingkan permintaan beli.

Bagi investor, perubahan ini dapat meningkatkan proses price discovery karena harga saham tidak lagi tertahan secara mekanis di level Rp50.

Namun, risiko volatilitas juga meningkat. Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata menilai perubahan batas harga tersebut dapat menjadi hal positif karena harga saham dapat lebih mencerminkan kondisi permintaan dan penawaran.

Meski demikian, harga saham yang rendah tidak otomatis berarti saham tersebut murah secara fundamental. Risiko justru semakin besar ketika saham diperdagangkan pada rentang Rp1–Rp10. Pergerakan Rp1 pada harga tersebut dapat menghasilkan perubahan persentase yang sangat besar.

Aksi Borong Morgan Stanley

Di tengah tekanan jual saham GOTO, Morgan Stanley & Co International Plc justru melakukan transaksi besar pada harga jauh di bawah perdagangan reguler.

Pada 2 September 2026, Morgan Stanley membeli sekitar 21,92 miliar saham GOTO melalui tiga transaksi dengan nilai sekitar Rp547 miliar.

Seluruh transaksi dilakukan pada harga Rp25 per saham, sementara harga GOTO di pasar reguler berada di level Rp50. Setelah transaksi tersebut, kepemilikan Morgan Stanley di GOTO tercatat mencapai sekitar 7,59% atau 87,48 miliar saham.

Baca juga : Grup Djarum Caplok Narasi, Bisnis Media Masih Seksi?

Transaksi ini menarik perhatian karena harga Rp25 dapat menjadi salah satu indikasi harga yang bersedia dibayar investor institusi ketika saham GOTO diperdagangkan melalui mekanisme di luar pasar reguler.

Namun, pembelian Morgan Stanley tidak seluruhnya dapat diartikan sebagai investasi jangka panjang. Pada 4 September 2026, Morgan Stanley melakukan transaksi repurchase agreement atau repo atas sekitar 7,4 miliar saham GOTO dengan nilai Rp186,64 miliar.

Transaksi tersebut terdiri dari 1,45 miliar saham pada harga Rp27 per saham dan 5,95 miliar saham pada harga Rp25 per saham.

Repo berbeda dengan jual beli saham biasa. Dalam transaksi repo, aset ditransaksikan dengan kesepakatan untuk melakukan transaksi kembali pada waktu dan harga yang telah ditentukan. Karena itu, transaksi tersebut tidak bisa langsung dianggap sebagai aksi Morgan Stanley melepas investasi secara permanen.

Baca juga : Profil Toto Sugiri: 'Bill Gates' RI, Pionir Data Center Nasional

Setelah transaksi tersebut, kepemilikan Morgan Stanley tercatat turun dari sekitar 7,38% menjadi 6,99%, atau dari sekitar 84,97 miliar menjadi 80,48 miliar saham.

Dengan demikian, aksi Morgan Stanley di saham GOTO perlu dilihat secara hati-hati. Ada pembelian dalam jumlah besar, tetapi terdapat pula transaksi repo yang bersifat berbeda dari akumulasi saham untuk investasi jangka panjang.

Dengan perubahan batas harga minimum menjadi Rp1, saham GOTO memasuki babak baru. Pertanyaan utamanya bukan lagi apakah GOTO dapat turun di bawah Rp50, tetapi di level berapa pasar akhirnya menemukan harga keseimbangan baru.