Memoles Angkutan Umum Agar Semakin Memesona

  • Jakarta, Transportasi umum di Jakarta terus berbenah agar semakin diminati warganya. Hal ini sebagai bagian dari mengentaskan persoalan kemacetan di Ibu Kota. Meskipun telah banyak peningkatan, menurut pengamat transportasi Djoko Setijowarno pangsa pasar angkutan umum di Jakarta nyatanya masih di bawah 10 persen. Keberadaan transportasi online disinyalir menjadi salah satu penyebabnya. Menurutnya, angkutan umum harus […]

<p>cnnindonesia.com</p>

cnnindonesia.com

(Istimewa)

Jakarta, Transportasi umum di Jakarta terus berbenah agar semakin diminati warganya. Hal ini sebagai bagian dari mengentaskan persoalan kemacetan di Ibu Kota.

Meskipun telah banyak peningkatan, menurut pengamat transportasi Djoko Setijowarno pangsa pasar angkutan umum di Jakarta nyatanya masih di bawah 10 persen. Keberadaan transportasi online disinyalir menjadi salah satu penyebabnya.

Menurutnya, angkutan umum harus memiliki keunggulan yang sama dengan kendaraan pribadi, seperti halnya transportasi online yang menawarkan door to door service.

Sementara itu, salah satu keunggulan angkutan massal adalah adanya proteksi dan subsidi. Proteksi menjadi poin penting untuk memastikan keunggulan operasional, seperti waktu tempuh, ketepatan waktu, dan kepastian layanan.

Selain pelayanan prima, subsidi juga diperlukan untuk menekan tarif angkutan umum. Pemberian subsidi juga sebagai bentuk dorongan terhadap upaya penurunan risiko lingkungan di sektor transportasi dengan menggunakan transportasi umum.

Pada 2019, pemerintah menggelontorkan dana sebesar Rp250 miliar untuk subsidi angkutan umum, khususnya bus. Dengan menggunakan skema buy the service, pengguna akan membayar tarif lebih murah. Uji coba per September 2019 digelar di lima kota, yakni Solo, Yogyakarta, Medan, Denpasar, dan Palembang.

“Apabila strategi penerapan angkutan umum berhasil, indikatornya bukan hanya pengguna yang meningkat. Tapi juga modal share angkutan massal perkotaan,” ujarnya seperti dilansir dari Kompas (16/12).

Perbaikan layanan transportasi merupakan bagian dari pull strategy, yakni cara untuk menarik masyarakat menggunakan angkutan umum. Sementara push strategy  diterapkan dalam upaya mengatur penggunaan ruang seperti sistem ganjil-genap atau electronic road pricing (ERP).