Tren Pasar

Membaca Ruang Pemulihan BBRI: Valuasi Murah dan Laba Jadi Penopang

  • Kinerja laba BBRI tumbuh 14% pada kuartal I 2026. Valuasi yang relatif murah menjadi daya tarik di tengah tantangan kualitas kredit.
WhatsApp Image 2026-08-14 at 14.08.24.jpeg
BRImo. (BRI)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mengalami tekanan sepanjang 2026 seiring meningkatnya ketidakpastian pasar dan kekhawatiran investor terhadap kualitas aset perseroan. 

Koreksi harga membuat valuasi saham bank pelat merah tersebut semakin rendah, tetapi belum sepenuhnya menghilangkan risiko yang membayangi prospek bisnisnya.

Pada penutupan perdagangan Kamis, 22 Oktober 2026, saham BBRI ditutup di level Rp2.900 per saham, menguat 3,2%. Meski mengalami kenaikan pada perdagangan tersebut, harga saham BBRI masih berada jauh di bawah level penutupan akhir 2025 sebesar Rp3.670.

Secara historis, pergerakan saham BBRI juga menunjukkan volatilitas yang cukup besar. Pada akhir 2021, saham perseroan ditutup di level Rp4.110, kemudian meningkat menjadi Rp4.940 pada 2022 dan Rp5.725 pada 2023. Namun, tren berbalik pada 2024 ketika harga terkoreksi menjadi Rp4.080, lalu kembali melemah ke Rp3.670 pada akhir 2025.

Tekanan berlanjut pada 2026. Saham BBRI sempat menyentuh level Rp2.540 pada Juni, sebelum bergerak kembali ke kisaran Rp2.900 pada perdagangan terbaru. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa investor masih mempertimbangkan berbagai risiko sebelum kembali memberikan valuasi lebih tinggi kepada saham bank dengan fokus kuat pada segmen usaha mikro tersebut.

Baca juga : Jelang HUT ke-131, BRI Perkuat UMKM dan Dorong Budaya Kerja Berkelanjutan

Valuasi BBRI di Bawah Rata-Rata Historis

Salah satu faktor yang membuat saham BBRI menarik perhatian investor adalah valuasinya yang relatif rendah dibandingkan rata-rata historis. Berdasarkan bahan analisis yang dihimpun, saham BBRI diperdagangkan pada rasio harga terhadap laba atau price to earnings ratio (PER) sekitar 7,3–7,8 kali, sementara rasio harga terhadap nilai buku atau price to book value (PBV) berada di kisaran 1,3–1,5 kali.

Penilaian tersebut menunjukkan bahwa investor saat ini bersedia membayar lebih rendah untuk setiap rupiah laba dan nilai buku BBRI dibandingkan ketika sentimen pasar terhadap perseroan lebih positif.

Dalam riset Agustus 2026, JP Morgan menilai valuasi BBRI berada sekitar 2,2–2,6 standar deviasi di bawah rata-rata historisnya dalam periode lima dan 10 tahun. Lembaga tersebut juga menilai valuasi BBRI relatif lebih murah dibandingkan sejumlah bank besar BUMN lainnya berdasarkan rasio PER dan PBV historis.

Meski demikian, saham dengan valuasi rendah tidak selalu langsung mengalami pemulihan. Harga saham juga dipengaruhi ekspektasi pertumbuhan laba, kualitas kredit, biaya pencadangan, dan kemampuan perusahaan mempertahankan profitabilitas.

Dengan demikian, diskon valuasi BBRI dapat menjadi peluang bagi investor berorientasi jangka panjang, tetapi juga mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap prospek bisnis perseroan.

Baca juga : Rupiah Tembus Rp18.033, Dibayangi Risiko Arus Modal Asing dan MSCI

Kinerja Laba dan Margin Bunga Jadi Perhatian

Dari sisi fundamental, BBRI masih mencatatkan pertumbuhan laba. Berdasarkan data kuartal I 2026 dalam bahan analisis, perseroan membukukan laba bersih Rp15,5 triliun, meningkat 14% secara tahunan atau year-on-year (YoY).

Margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) tercatat sebesar 8,2%, meningkat empat basis poin dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, biaya kredit atau cost of credit (CoC) turun menjadi 3,3% dari sebelumnya 3,8%.

Penurunan CoC dapat menjadi sinyal positif karena menunjukkan berkurangnya beban pencadangan kredit dibandingkan periode sebelumnya. Namun, perkembangan tersebut tetap perlu dilihat bersama pertumbuhan kredit, tingkat kredit bermasalah, serta kondisi debitur, khususnya pada segmen mikro.

Manajemen juga memperkirakan NIM akan mengalami normalisasi ke kisaran 7,4–7,8% sepanjang 2026. Normalisasi ini perlu dicermati investor karena margin bunga merupakan salah satu komponen penting dalam pembentukan pendapatan perbankan.

Apabila penurunan NIM berlangsung lebih dalam daripada perkiraan, pertumbuhan laba dapat menghadapi tekanan. Sebaliknya, jika BBRI mampu menjaga margin, mengendalikan biaya dana, dan mempertahankan kualitas kredit, fundamental perseroan berpotensi tetap menopang prospek jangka panjangnya.

Baca juga : IHSG Hari Ini Dibuka Melorot 1,47 Persen ke Level 5.247

Kualitas Kredit Mikro Jadi Risiko Utama

Di balik valuasi yang semakin murah, kualitas kredit pada segmen mikro menjadi salah satu perhatian utama pasar. Bisnis mikro memiliki peran penting dalam model bisnis BBRI, tetapi karakteristik debiturnya juga membuat kinerja kredit sensitif terhadap daya beli masyarakat, aktivitas usaha kecil, serta kondisi ekonomi domestik.

Ketika pendapatan pelaku usaha melemah atau biaya operasional meningkat, kemampuan membayar cicilan dapat ikut tertekan. Jika kondisi tersebut meluas, bank berpotensi menghadapi peningkatan kredit bermasalah dan kebutuhan pencadangan yang lebih besar.

Risiko tersebut dapat memengaruhi laba sekaligus persepsi investor terhadap kualitas aset BBRI. Karena itu, penilaian terhadap saham perseroan tidak cukup hanya bertumpu pada PER dan PBV yang rendah.

Investor perlu memperhatikan perkembangan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL), biaya kredit, pertumbuhan kredit mikro, serta kecukupan pencadangan. Indikator-indikator tersebut dapat membantu menilai apakah tekanan yang terjadi hanya bersifat sementara atau mencerminkan persoalan yang lebih struktural.

Selain risiko kredit, pelemahan rupiah, ketidakpastian ekonomi global, dan arus keluar dana investor asing dari saham-saham berkapitalisasi besar juga dapat memengaruhi pergerakan BBRI dalam jangka pendek.