Tren Ekbis

Membaca Kinerja BNBR 2026: Rights Issue Rp4,76 T, Saham Melesat

  • Saham BNBR melonjak lebih dari 25% di tengah rights issue Rp4,76 triliun. Simak tujuan aksi korporasi, kinerja keuangan, dan prospek Bakrie & Brothers.
BNBR
Logo perusahaan infrastruktur dan konstruksi Grup Bakrie, PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR). (Bakrie-brothers.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID – PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) kembali menjadi sorotan pasar modal setelah sahamnya melonjak lebih dari 25% dalam seminggu terakhir di tengah pelaksanaan rights issue senilai Rp4,76 triliun dan sejumlah aksi ekspansi bisnis.

Emiten yang berada di level Rp83 per lembar pada 17 Juli 2026 itu ditutup menguat ke posisi Rp108 per lembar pada sesi II perdagangan Kamis, 23 Juli 2026, atau melonjak 25,58%. Meski demikian, harga saham tersebut terkoreksi dari posisi tertinggi intraday di level Rp118 per lembar yang sempat dicapai pada sesi I perdagangan.

Perusahaan holding milik Bakrie Group tersebut tengah memperkuat bisnis infrastruktur melalui akuisisi jalan tol, memperbesar portofolio energi, serta mengembangkan kendaraan listrik. Di sisi lain, investor juga mencermati risiko dilusi akibat rights issue dan lonjakan liabilitas pascaakuisisi.

Lantas, bagaimana kinerja BNBR sepanjang 2025 hingga kuartal I-2026? Apa tujuan rights issue dan bagaimana prospek perusahaan ke depan?

PT Bakrie & Brothers Tbk merupakan perusahaan holding tertua di lingkungan Bakrie Group yang berdiri sejak 1942. Saat ini BNBR membawahi sejumlah bisnis strategis yang tersebar di sektor manufaktur, infrastruktur, energi, kendaraan listrik, hingga digital.

Portofolio usahanya meliputi produksi pipa baja melalui PT Bakrie Metal Industries, komponen otomotif melalui PT Bakrie Autoparts, pembangunan infrastruktur melalui PT Bakrie Indo Infrastructure, pengelolaan jalan tol melalui PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT), bisnis kendaraan listrik melalui PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR), hingga jaringan fiber optik melalui PT Multi Kontrol Nusantara.

Berdasarkan data kepemilikan saham per Juni 2026, pemegang saham utama BNBR adalah Port Fraser International, Fountain City Investment, Levoca Enterprise, dan Eurofa Capital.

Baca juga : Penutupan LQ45 Hari Ini: BUMI dan DEWA Terbang, AKRA Anjlok

Mengapa BNBR Melakukan Rights Issue?

Salah satu aksi korporasi terbesar BNBR pada 2026 adalah Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD V) atau rights issue.

Perseroan menargetkan penghimpunan dana sekitar Rp4,76 triliun melalui penerbitan sekitar 89,91 miliar saham baru Seri E dengan harga pelaksanaan Rp53 per saham.

Dana hasil rights issue sebagian besar akan digunakan untuk memperkuat struktur permodalan anak usaha PT Bakrie Toll Indonesia (BTI) yang menjadi kendaraan investasi dalam pengambilalihan PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT).

Melalui transaksi tersebut, BNBR memperkuat eksposurnya pada bisnis jalan tol yang dinilai memiliki arus kas jangka panjang dan pendapatan yang relatif stabil.

Rights issue BNBR menawarkan rasio 14 HMETD untuk setiap 27 saham lama. Harga pelaksanaan yang berada jauh di bawah harga pasar membuat aksi korporasi ini berpotensi menarik minat investor. Namun, pemegang saham yang tidak menggunakan haknya berisiko mengalami dilusi kepemilikan hingga sekitar 34,15%.

Perseroan telah memulai proses rights issue setelah memperoleh pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 30 Juni 2026. Pemegang saham yang tercatat pada 10 Juli 2026 berhak memperoleh HMETD dengan rasio 27 saham lama : 14 HMETD. 

Perdagangan sekaligus pelaksanaan HMETD berlangsung pada 14–27 Juli 2026, sedangkan penjatahan saham tambahan dijadwalkan pada 30 Juli 2026 dan pengembalian dana kelebihan pemesanan dilakukan sehari setelahnya, yakni 31 Juli 2026. 

Harga pelaksanaan rights issue ditetapkan sebesar Rp53 per saham tanpa disertai penerbitan waran. Dana yang dihimpun ditargetkan mencapai sekitar Rp4,36 triliun dan mayoritas akan digunakan untuk memperkuat struktur pendanaan anak usaha di bisnis jalan tol serta kebutuhan modal kerja. 

Dalam aksi ini, dua pemegang saham utama, yakni Port Fraser International dan Fountain City Investment, mengalihkan haknya kepada PT Bakrie Capital Indonesia (BCI) yang bertindak sebagai pembeli siaga untuk menyerap saham yang tidak diambil investor lain.

Di sisi lain, tambahan modal tersebut diperkirakan memperbaiki struktur keuangan perusahaan. Setelah rights issue, rasio utang terhadap aset diproyeksikan turun dari sekitar 84,28% menjadi 67,9%, sedangkan rasio utang terhadap ekuitas turun dari sekitar 536% menjadi 211,6%.

Baca juga : IHSG Kembali Merah, Hari Ini Ditutup Melemah 0,3 Persen

Mengapa Saham BNBR Naik Tajam?

Saham BNBR menjadi salah satu saham dengan kenaikan tertinggi pada perdagangan 20 Juli 2026. Harga saham ditutup di level Rp105, naik sekitar 23,53% dibandingkan penutupan sebelumnya. Dalam satu bulan terakhir, saham BNBR telah menguat sekitar 26,86%, dengan kapitalisasi pasar mencapai sekitar Rp31,56 triliun.

Lonjakan tersebut terjadi setelah anak usaha BNBR, PT Bakrie Power, yang tergabung dalam Konsorsium Mentari Citra Lestari, ditetapkan sebagai mitra terpilih proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PSEL) Tahap II Surabaya Raya.

Meski demikian, status penunjukan tersebut masih bersifat conditional. Final Letter of Award baru akan diterbitkan setelah seluruh persyaratan administratif, teknis, dan komersial dipenuhi. Artinya, proyek tersebut belum sepenuhnya efektif dan masih bergantung pada penyelesaian tahapan lanjutan.

Baca juga : Danantara Kuasai Empat Asset Management BUMN, Kelola Dana Rp170 T

Bagaimana Kinerja Keuangan BNBR?

Kinerja Tahun Buku 2025

BNBR membukukan pendapatan bersih sekitar Rp3,74 triliun pada 2025. Meski pendapatan turun sekitar 3% dibandingkan tahun sebelumnya, laba bersih justru meningkat sekitar 49,6% menjadi Rp503 miliar.

Peningkatan laba terutama ditopang oleh keuntungan pengukuran kembali kepentingan ekuitas dan keuntungan pembelian dengan diskon, selain kontribusi dari bisnis manufaktur dan kendaraan listrik.

Kontributor pendapatan terbesar berasal dari:

  • PT Bakrie Metal Industries Group.
  • PT VKTR Teknologi Mobilitas Group.
  • PT Bakrie Indo Infrastructure Group.

Di sisi neraca, total aset meningkat menjadi sekitar Rp23,57 triliun, seiring konsolidasi aset jalan tol. Namun, total liabilitas juga naik menjadi sekitar Rp18,90 triliun sebagai konsekuensi pendanaan ekspansi.

Bagaimana Kinerja Kuartal I-2026?

Pada kuartal pertama 2026, kinerja operasional BNBR menunjukkan perbaikan. Pendapatan tumbuh sekitar 19% menjadi Rp1,13 triliun. EBITDA melonjak sekitar 252%, sedangkan laba usaha meningkat sekitar 240% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Salah satu penyumbang pertumbuhan terbesar berasal dari PT Cimanggis Cibitung Tollways, yang menyumbang sekitar Rp232,76 miliar atau sekitar seperlima dari total pendapatan perseroan.

Selain itu:

  • Pendapatan VKTR meningkat sekitar 58,2%.
  • Pendapatan Bakrie Indo Infrastructure naik sekitar 274,6%.
  • Bakrie Autoparts juga mencatat pertumbuhan sekitar 6,3%.

Jalan Tol Cimanggis-Cibitung sendiri menghasilkan pendapatan rata-rata sekitar Rp2,3 miliar per hari, sehingga menjadi sumber arus kas baru bagi perseroan.

Prospek BNBR akan sangat dipengaruhi oleh keberhasilan integrasi aset jalan tol, perkembangan bisnis kendaraan listrik melalui VKTR, serta realisasi proyek-proyek energi baru yang sedang dijajaki.

Jika proyek PSEL Surabaya Raya memperoleh persetujuan final, hal tersebut berpotensi menambah portofolio bisnis energi terbarukan perseroan.

Di sisi lain, keberhasilan rights issue juga diharapkan memperkuat struktur permodalan sehingga perusahaan memiliki ruang yang lebih besar untuk melakukan ekspansi.

Namun investor tetap perlu memperhatikan sejumlah risiko, mulai dari potensi dilusi akibat penerbitan saham baru, tingginya liabilitas pascaakuisisi, hingga volatilitas harga saham yang masih cukup tinggi.