Tren Pasar

Melemah Lagi, 1 Dolar AS Berapa Rupiah Hari Ini 4 Agustus 2026?

  • Rupiah melemah ke Rp18.025 per dolar AS pada perdagangan hari ini. Simak penyebab pelemahan, dampak penguatan dolar AS, dan prospek rupiah ke depan.
indonesian-rupiah-money-background_126740-49.jpg

JAKARTA, TRENASIA.ID — Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa, 4 Agustus 2026. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka melemah 28 poin atau 0,16% ke level Rp18.025 per dolar AS.

Pelemahan tersebut terjadi setelah rupiah sempat menguat pada penutupan perdagangan Senin, 3 Agustus 2026, ketika kurs bergerak di kisaran Rp17.980–Rp17.997 per dolar AS. 

Saat itu, sentimen pasar membaik seiring meredanya ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat yang sempat mengganggu distribusi energi global melalui Selat Hormuz.

Kesepakatan kedua negara untuk melanjutkan jalur diplomasi sempat mendorong optimisme pelaku pasar. Harga minyak dunia turun dan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, ikut mereda.

Namun, pada perdagangan pagi ini, dolar AS kembali menguat sehingga menekan mayoritas mata uang di kawasan Asia Tenggara. Selain rupiah, ringgit Malaysia melemah 0,05%, baht Thailand turun 0,09%, peso Filipina melemah 0,04%, sementara dolar Singapura terkoreksi 0,03% terhadap dolar AS.

Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah lebih banyak dipengaruhi sentimen eksternal daripada faktor domestik. Pelaku pasar masih mencermati arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (Federal Reserve), perkembangan geopolitik global, serta pergerakan harga energi yang masih menjadi penentu utama arus modal ke negara berkembang.

Apa Artinya bagi Masyarakat?

Kembalinya rupiah ke atas level Rp18.000 per dolar AS menunjukkan tekanan terhadap nilai tukar masih belum sepenuhnya mereda. Jika pelemahan berlangsung dalam waktu yang lama, biaya impor bahan baku, produk elektronik, hingga komoditas tertentu berpotensi meningkat dan dapat memberi tekanan pada harga barang di dalam negeri.

Namun, karena pelemahan juga dialami mayoritas mata uang Asia, kondisi ini lebih mencerminkan penguatan dolar AS secara global dibanding memburuknya fundamental ekonomi Indonesia. Selama harga minyak tetap terkendali dan ketegangan geopolitik tidak kembali meningkat, tekanan terhadap rupiah berpeluang mereda.

Yang Perlu Dipantau Investor

Fokus pasar dalam beberapa hari ke depan tertuju pada pergerakan indeks dolar AS (DXY), perkembangan negosiasi geopolitik di Timur Tengah, serta data ekonomi Amerika Serikat yang dapat memengaruhi arah kebijakan Federal Reserve. Ketiga faktor tersebut diperkirakan akan menjadi penentu utama pergerakan rupiah dalam jangka pendek.