Industri

Mau Jaga Likuiditas, Sritex Hanya Bagi Dividen Rp20,45 Miliar

  • JAKARTA – Emiten tekstil PT Sri Rejeki Isman Tbk. atau Sritex menurunkan nilai dividen tahun buku 2019. Terlebih pada sepanjang 2019 lalu, laba bersih perseroan tumbuh tipis 3,66% dari US$84,56 juta menjadi US$87,65 juta. Melalui rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) yang berlangsung Selasa, 7 Juli 2020, Sritex mengumumkan akan membagi dividen Rp20,45 miliar. Jumlah […]

Presiden Jokowi saat meninjau pabrik PT Sri Rejeki Isman Tbk di Kabupaten Sukoharjo, Provinsi Jawa Tengah, Jumat (21/4)

Presiden Jokowi saat meninjau pabrik PT Sri Rejeki Isman Tbk di Kabupaten Sukoharjo, Provinsi Jawa Tengah, beberapa waktu lalu, didampingi Iwan Setiawan Lukminto. / BPMI Setpres/Laily

(BPMI Setpres/Laily)

JAKARTA – Emiten tekstil PT Sri Rejeki Isman Tbk. atau Sritex menurunkan nilai dividen tahun buku 2019. Terlebih pada sepanjang 2019 lalu, laba bersih perseroan tumbuh tipis 3,66% dari US$84,56 juta menjadi US$87,65 juta.

Melalui rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) yang berlangsung Selasa, 7 Juli 2020, Sritex mengumumkan akan membagi dividen Rp20,45 miliar. Jumlah ini turun dibandingkan dividen tahun buku 2018 Rp61,36 miliar.

Sekretaris Perusahaan Sritex Welly Salam menyampaikan, penetapan dividen tidak sebesar tahun sebelumnya sejalan dengan rencana perseroan menjaga likuiditas dalam masa pandemi COVID-19.

Pada tahun ini, Sritex memang disibukkan dengan produksi alat pelindung diri (APD) dan masker di tengah penundaan order produk perseroan akibat pandemi. Hingga akhir Maret 2020, penjualan APD dan masker Sritex mencapai US$20 juta.

“Hasil produksi kami bisa membantu pemerintah dalam memutus rantai penularan di kalangan masyarakat luas, serta memberikan perlindungan kepada tenaga medis,” tutur Welly.

Welly juga bilang, perseroan menyambut baik keputusan untuk merelaksasi kebijakan bagi produsen APD untuk mengekspor produknya ke negara lain. “Sebagai produsen APD, hal ini akan memperluas pasar APD untuk merambah ke pasar internasional,” jelas dia.

Sepanjang tiga bulan pertama tahun ini, Sritex juga telah menyerap anggaran belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar US$15,8 juta. Sebagian besar capex tersebut digunakan untuk pemeliharaan mesin.

“Jumlah tersebut masih sesuai dengan target capex perseroan yang sekitar US$40 – 50 juta,” imbuh Welly.

Seiring dengan penurunan nilai dividen, saham Sritex dengan kode SRIL juga melemah. Saat ini, saham SRIL diperdagangkan pada level Rp195 atau melemah 2,5%. Dengan begitu, penurunan saham SRIL sejak akhir 2019 telah mencapai 25% dari posisi Rp260.