Tren Global

Mau Ajukan KPR Untuk Gaji UMR Jakarta? Ini Simulasinya

  • Jika penghasilan berada dikisaran UMR Jakarta, atau sekitar Rp5,3 juta, maka cicilan ideal tidak boleh melebihi Rp1,5 juta per bulan.
IMG-20250921-WA0001.jpg
BRI telah menyalurkan KPRS sebesar Rp14,65 triliun kepada 107 ribu debitur di seluruh Indonesia hingga akhir Agustus 2025. (BRI)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Minat masyarakat untuk memiliki rumah melalui Kredit Pemilikan Rumah (KPR) terus meningkat, namun banyak calon debitur masih keliru dalam menghitung kemampuan finansial. 

Pakar perbankan menegaskan faktor terpenting sebelum mengajukan KPR bukan desain atau lokasi rumah, melainkan kemampuan membayar cicilan agar tidak mengganggu kestabilan keuangan jangka panjang.

Perbankan menetapkan batas aman cicilan maksimal sekitar 30 persen dari penghasilan bulanan. Batas ini diterapkan agar nasabah tetap memiliki ruang untuk kebutuhan hidup, tabungan, dan dana darurat. Jika penghasilan berada dikisaran UMR Jakarta, atau sekitar Rp5,3 juta, maka cicilan ideal tidak boleh melebihi Rp1,5 juta per bulan.

Selain harga rumah, bank juga menilai usia, masa kerja, stabilitas penghasilan, serta total kewajiban utang calon debitur. Uang muka (DP) turut memengaruhi besar cicilan, semakin besar DP, semakin kecil pinjaman dan cicilan bulanan.

Tenor juga menjadi faktor krusial, jangka waktu panjang memang meringankan cicilan, namun total bunga menjadi jauh lebih besar. Sebaliknya, tenor pendek lebih hemat bunga tetapi membutuhkan kemampuan finansial lebih kuat. 

Jenis suku bunga pun harus diperhatikan karena KPR biasanya menggunakan bunga tetap di awal lalu beralih ke bunga mengambang yang bisa meningkatkan cicilan sewaktu-waktu.

Calon pembeli rumah juga perlu menyiapkan biaya tambahan di luar cicilan seperti provisi bank, administrasi, asuransi jiwa, dan asuransi kebakaran yang jumlahnya bisa mencapai puluhan juta rupiah.

Baca juga : Apa Itu Trade Bazooka dalam Perebutan Greenland AS - Eropa

Simulasi KPR UMR Jakarta

UMR DKI Jakarta tahun 2026 diperkirakan berada di kisaran Rp5.300.000 per bulan. Mengacu pada ketentuan umum perbankan, batas aman cicilan KPR maksimal adalah sekitar 30 persen dari penghasilan bulanan, sehingga kemampuan mencicil pekerja bergaji UMR hanya sekitar, Rp5.300.000 x 30% = Rp1.590.000 per bulan

Dengan asumsi suku bunga efektif KPR rata-rata 9 persen per tahun dan tenor standar 20 tahun (240 bulan), cicilan sebesar Rp1,59 juta per bulan hanya dapat menopang plafon pinjaman sekitar Rp165 juta hingga Rp175 juta, tergantung skema bunga masing-masing bank.

Jika bank menetapkan uang muka (down payment/DP) minimal 20 persen, maka simulasi harga rumah maksimal yang masih masuk dalam batas kemampuan adalah sebagai berikut:

  • Perkiraan plafon pinjaman: Rp170.000.000
  • Persentase pinjaman terhadap harga rumah (80%)
  • Harga rumah maksimal:  Rp212.500.000
  • DP 20% yang harus disiapkan di awal:  Rp42.500.000

Namun dalam praktiknya, calon debitur juga harus menyiapkan biaya tambahan di luar DP, antara lain:

  • Biaya provisi bank (±1%) → Rp1,7 juta
  • Biaya administrasi → Rp500 ribu – Rp1 juta
  • Asuransi jiwa & kebakaran → Rp3–5 juta
  • Biaya notaris & akad → Rp5–7 juta

Total dana awal yang perlu disiapkan bisa mencapai Rp52–60 juta sebelum rumah ditempati.

Baca juga : Rencana Pengangkatan PPPK SPPG Picu Polemik Pendidikan

Dengan keterbatasan tersebut, pekerja bergaji UMR Jakarta secara realistis hanya mampu membeli rumah dengan harga maksimal di kisaran Rp210–220 juta, yang umumnya merupakan kategori rumah subsidi atau hunian di wilayah penyangga seperti Bekasi, Bogor, Tangerang, atau Karawang. Rumah komersial di dalam Jakarta hampir mustahil dijangkau tanpa tambahan penghasilan atau skema pembiayaan lain.

Banyak calon debitur terjebak cicilan promo murah di awal tanpa menghitung potensi kenaikan saat bunga floating berlaku. Selain itu, utang lain seperti cicilan motor dan kartu kredit sering luput dari perhitungan bank dan memperbesar risiko gagal bayar.

Perencana keuangan menyarankan pengajuan KPR dilakukan secara konservatif. Jika dihitung dengan cermat, rumah akan menjadi aset jangka panjang yang menguntungkan, bukan justru menjadi sumber tekanan finansial selama puluhan tahun.