Mattel Indonesia Digitalisasi Kawasan Berikat, ERP Indonesia Implementasi BZone
- ERP Indonesia mengimplementasikan BZone di Mattel Indonesia untuk integrasi logistik, inventori, dan kepabeanan sekaligus mempercepat transformasi digital manufaktur ekspor.

Chrisna Chanis Cara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID--Transformasi digital di sektor manufaktur tidak lagi sekadar meningkatkan efisiensi operasional, tetapi juga menjadi kebutuhan untuk memenuhi tuntutan kepatuhan regulasi yang semakin terdigitalisasi.
Kondisi ini mendorong perusahaan manufaktur, khususnya yang beroperasi di kawasan berikat, mengadopsi sistem yang mampu mengintegrasikan proses bisnis sekaligus pelaporan kepabeanan secara real time.
Menjawab kebutuhan tersebut, PT Eka Reka Palakerti Indonesia (ERP Indonesia) mengimplementasikan platform BZone Bonded Zone IT Inventory di PT Mattel Indonesia.
Solusi ini dirancang untuk mengintegrasikan pengelolaan kawasan berikat, logistik, inventori, hingga pelaporan kepabeanan dalam satu platform yang terhubung dengan sistem CEISA 4.0 milik Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.
Melalui implementasi tersebut, Mattel Indonesia diharapkan mampu meningkatkan akurasi pencatatan inventori, mempercepat proses logistik, serta menjaga kepatuhan terhadap regulasi kepabeanan tanpa mengganggu kelancaran operasional perusahaan.
Chief Executive Officer ERP Indonesia, Anang Ind Pratama, mengatakan kebutuhan industri manufaktur saat ini telah bergeser dari sekadar digitalisasi proses menuju integrasi antara operasional dan kepatuhan regulasi.
"Perusahaan manufaktur, khususnya yang beroperasi di kawasan berikat, membutuhkan sistem yang tidak hanya mampu memenuhi kewajiban regulasi, tetapi juga mengintegrasikan proses operasional secara menyeluruh. BZone kami kembangkan untuk menjawab kebutuhan tersebut melalui otomatisasi proses dan integrasi dengan sistem pemerintah sehingga perusahaan dapat meningkatkan efisiensi sekaligus menjaga kepatuhan," ujarnya.
Menurut Anang, tantangan yang dihadapi Mattel Indonesia juga dialami banyak perusahaan manufaktur berorientasi ekspor. Digitalisasi sistem pengawasan kepabeanan membuat perusahaan dituntut memiliki sistem yang mampu menyinkronkan aktivitas operasional dengan pelaporan kepada pemerintah secara real time.
Ia menilai kepatuhan kini menjadi bagian penting dari keberlangsungan bisnis, bukan lagi sekadar kewajiban administratif. Ketidaksesuaian data maupun pelaporan berpotensi menghambat arus logistik, memperlambat distribusi barang, hingga mengganggu operasional perusahaan.
"Implementasi BZone di Mattel Indonesia menunjukkan bahwa solusi teknologi yang dikembangkan di Indonesia mampu memenuhi standar operasional dan kepatuhan yang dibutuhkan perusahaan manufaktur global," tambahnya.
Chief Commercial Officer ERP Indonesia, Contardo Satria Gondokusumo, menyebut implementasi tersebut menjadi tonggak penting bagi perusahaan setelah lebih dari delapan tahun mengembangkan solusi digital untuk sektor manufaktur nasional.
Menurutnya, fleksibilitas sistem BZone memungkinkan platform tersebut terus beradaptasi terhadap perubahan regulasi sekaligus mendukung kebutuhan operasional perusahaan dengan tingkat kompleksitas tinggi.
Pada tahap awal, implementasi dilakukan secara bertahap dengan fokus pada integrasi proses logistik dan ekspor-impor agar seluruh transaksi terdokumentasi secara akurat tanpa mengganggu aktivitas bisnis yang telah berjalan.
Digitalisasi Jadi Faktor Penentu Daya Saing
ERP Indonesia menilai transformasi digital kini menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan daya saing industri manufaktur, terutama bagi perusahaan yang mengandalkan aktivitas ekspor.
Kompleksitas rantai pasok global dan perubahan sistem pengawasan kepabeanan mendorong perusahaan membutuhkan platform yang mampu mengintegrasikan pencatatan arus barang, pengelolaan inventori, hingga pelaporan kepabeanan dalam satu sistem.
Tren tersebut juga tercermin dari proyeksi International Data Corporation (IDC) yang memperkirakan belanja global untuk transformasi digital mencapai US$3,9 triliun pada 2027. Sementara itu, East Ventures Digital Competitiveness Index (EV-DCI) 2026 menunjukkan skor daya saing digital Indonesia meningkat dari 38,8 pada 2025 menjadi 42,2 pada 2026.
ERP Indonesia menilai peningkatan tersebut mencerminkan semakin besarnya kebutuhan pelaku industri terhadap solusi digital yang mampu meningkatkan efisiensi operasional sekaligus memperkuat tata kelola perusahaan.
Ke depan, perusahaan berkomitmen terus mengembangkan BZone guna mendukung transformasi digital industri manufaktur, khususnya perusahaan yang memanfaatkan fasilitas kawasan berikat, Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE), maupun Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).

Chrisna Chanis Cara
Editor
