Industri

Masa Depan Ekonomi Digital Indonesia Kinclong

  • JAKARTA – Indonesia memiliki pasar digital yang sangat luas sehingga diproyeksikan menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan …

Prospek Ekonomi Digital Indonesia

Ilustrasi Ekonomi Digital

(Istimewa)

JAKARTA – Indonesia memiliki pasar digital yang sangat luas sehingga diproyeksikan menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi baik secara regional maupun global.

Hal itu dikatakan Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny Gerald Plate saat menyampaikan pidato kunci pada Gala Dinner US-Indonesia Society (USINDO) di Washington DC, Amerika Serikat, Kamis (13/2).

“Indonesia memiliki lanskap digital yang sangat dinamis. Di mana saat ini ada 171,2 juta orang aktif menggunakan internet dan 355,5 juta langganan seluler. Sekitar 26 juta UKM diproyeksikan go online pada tahun 2022,” ujar Johnny dikutip dari Antara.

Johnny menyebutkan, Indonesia memiliki pasar digital yang sangat luas. Oleh karenanya Indonesia diproyeksikan menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi, baik secara regional maupun global. Hal itu diperkuat oleh adanya empat perusahaan rintisan (startup) berstatus unikorn dan satu perusahaan dekakorn.

Dikutip dari riset Google, Temasek, dan Bain & Company 2029, porsi ekonomi digital Indonesia pada 2025 diproyeksikan menjadi yang terbesar di Asia Tenggara dengan nilai transaksi ekonomi digital mencapai US$ 133 miliar atau sekitar Rp 1.826 triliun.

Proyeksi tersebut mengungguli proyeksi porsi ekonomi digital negara-negara sesama ASEAN ; Malaysia (Rp 378 triliun), Singapura (Rp 364 triliun), Thailand (Rp700 triliun), Vietnam (Rp602 triliun), dan Filipina (Rp350 triliun).

Managing Director Google Indonesia Randy Jusuf mengatakan, sebagai ekonomi internet terbesar dan paling cepat berkembang di kawasan Asia Tenggara, Indonesia dapat menghimpun perekonomian melalui digital mencapai US$ 133 miliar pada 2025.

“Pada 2019 saja, ekonomi digital di Indonesia sudah mencapai US$ 40 miliar. Pencapaian itu tumbuh lima kali lipat dibandingkan tahun 2015 yang hanya mencapai US$ 8 miliar saja,” ujar Randy di Jakarta pada 2019 lalu.

Ada beberapa sektor yang diproyeksikan berkontribusi pada pencapaian Indonesia dalam transaksi ekonomi digital. Menurut Randy hal itu meliputi E-Commerce dengan nilai USD 82 miliar. Kemudian Travel senilai USD 25 miliar, Media senilai USD 9 miliar, dan transportasi senilai USD 18 miliar.

Meskipun Indonesia memiliki proyeksi yang lebih unggul, namun tantangan yang harus dihadapi cukup banyak. Salah satunya adalah belum meratanya ekonomi.

Perekonomian saat ini masih terpusat di Jabodetabek dengan nilai belanja perkapita gross merchandise volume (GMV) mencapai USD 555. Sementara nilai belanja per kapita GMV non-Jabodetabek hanya USD 103.

Sementara itu tantangan lainnya adalah rendahnya literasi finansial masyarakat Indonesia. Data yang dilansir dari riset Google, Temasek, dan Bain & Company 2029, menunjukkan sebanyak 47 juta orang Indonesia yang underbanked (memiliki rekening bank tapi tidak memiliki akses kredit, investasi, dan asuransi). Sementara itu sebanyak 92 juta orang yang . alias tidak memiliki rekening bank.