Mahal dan Canggih, Kenapa Pertahanan Udara Arab Saudi Mandul Saat Aramco Diserang?

  • Arab Saudi yang kaya raya membelanjakan sekitar US$ 52 miliar atau sekitar Rp731 triliun setiap tahunnya untuk pertahanan. Angka ini menjadikan kerajaan tersebut sebagai pasar senjata terbesar di dunia. Ditambah hubungan baik dengan Amerika, tak heran jika negara ini memiliki senjata-senjata terbaik dan tercanggih sekaligus termahal di dunia. Salah satunya dalam hal sistem pertahanan udara, […]

<p>Sistem pertahanan udara Patriot Arab Saudi</p>

Sistem pertahanan udara Patriot Arab Saudi

(Istimewa)

Arab Saudi yang kaya raya membelanjakan sekitar US$ 52 miliar atau sekitar Rp731 triliun setiap tahunnya untuk pertahanan. Angka ini menjadikan kerajaan tersebut sebagai pasar senjata terbesar di dunia.

Ditambah hubungan baik dengan Amerika, tak heran jika negara ini memiliki senjata-senjata terbaik dan tercanggih sekaligus termahal di dunia. Salah satunya dalam hal sistem pertahanan udara, di mana Arab Saudi dikenal sebagai negara yang telah lama mengoperasikan sistem pertahanan udara Patriot yang sangat terkenal.

Pertanyaannya, kemana sistem yang mahal dan canggih itu ketika fasilitas minyak terbesar di dunia milik mereka, Saudi Aramco diserang dari udara pada 14 September 2019 lalu?

Meski Houthi, sebuah faksi bersenjata di Yaman mengaku bertanggunjawab atas serangan tersebut dengan menggunakan drone, Arab Saudi dan Amerika Serikat meyakini Iran terlibat langsung. Selain itu serangan tidak hanya melibatkan pesawat tanpa awak, tetapi juga menggunakan sejumlah rudal jelajah yang ditembakkan dari wilayah Iran. Teheran secara konsisten membantah tuduhan tersebut.

Serangan di Aramco bukanlah yang pertama. Sebelumnya Houthi telah melakukan serangan meski dalam skala lebih terbatas termasuk baru-baru ini  mereka mengklaim serangan sukses di bandara sipil, stasiun pompa minyak dan ladang minyak Shaybah.

Serangan 14 September 2019 terhadap dua pabrik milik raksasa minyak negara Saudi Aramco adalah yang terburuk dialami fasilitas minyak di Teluk sejak Saddam Hussein membakar sumur minyak Kuwait selama krisis Teluk 1990-1991.

“Serangan itu seperti 11 September untuk Arab Saudi, itu adalah pengubah permainan,” kata seorang analis keamanan Saudi yang menolak disebutkan namanya sebagaimana dikutip Reuters.

“Di mana sistem pertahanan udara dan persenjataan Amerika yang kami pakai dan harganya miliaran dolar untuk melindungi kerajaan dan fasilitas minyaknya? Jika mereka [musuh] melakukan ini dengan presisi seperti itu, mereka juga dapat mengenai pabrik desalinasi dan lebih banyak target. ”

Sistem pertahanan udara utama Saudi, yang diposisikan terutama untuk melindungi kota-kota besar dan instalasi, telah lama diisi sistem jarak jauh Patriot buatan Amerika.

Sistem ini sebenarnya telah terbukti berhasil mencegat rudal balistik ketinggian tinggi yang ditembakkan oleh Houthi di kota-kota Saudi, termasuk ibukota Riyadh, sejak koalisi yang dipimpin Saudi melakukan intervensi di Yaman terhadap kelompok itu pada Maret 2015.

Tetapi masalahnya drone dan rudal jelajah terbang lebih lambat dan pada ketinggian yang lebih rendah, hingga mereka sulit dideteksi oleh Patriot dengan waktu yang cukup untuk mencegat.

“Drone adalah tantangan besar bagi Arab Saudi karena mereka sering terbang di bawah radar dan perbatasan panjang dengan Yaman dan Irak menjadikan kerajaan sangat rentan,” kata seorang pejabat senior Teluk.

Sumber Teluk yang akrab dengan operasi Aramco mengatakan sistem keamanan yang ada di Abqaiq tidak sempurna terhadap pesawat tanpa awak. Pihak berwenang sedang menyelidiki apakah radar mendeteksi drone yang menyerang dalam kegelapan dini hari.

Seorang eksekutif di sebuah perusahaan pertahanan Barat yang berurusan dengan Arab Saudi mengatakan bahwa pada tahun lalu ada Patriot yang melindungi Abqaiq.

Sementara ketika ditanya mengapa pertahanan Saudi tidak mencegat serangan hari Sabtu, juru bicara koalisi Arab Saudi Kolonel Turki al-Malki mengatakan “Lebih dari 230 rudal balistik dicegat oleh pasukan koalisi  kami memiliki kapasitas operasional untuk melawan semua ancaman dan melindungi keamanan nasional Arab Saudi. “

Tidak jelas apakah sistem pertahanan jarak dekat Avenger buatan Amerika dan sistem pertahanan jarak menengah I-Hawks dan jarak pendek Orelikon buatan Swiss yang juga dimiliki Arab Saudi saat ini sudah aktif beroperasi.

Titik -titik di Aramco yang menjadi target serangan

Kecil Tapi Efektif

Sumber keamanan Saudi dan dua sumber industri mengatakan Riyadh telah menyadari ancaman drone selama beberapa tahun terakhir dan telah berdiskusi dengan konsultan dan vendor untuk kemungkinan solusi tetapi belum menginstal sesuatu yang baru.

Sumber keamanan mengatakan, pihak berwenang memindahkan baterai Patriot ke ladang minyak Shaybah setelah diserang bulan lalu. Ada Patriot di kilang Ras Tanura Aramco.

“Sebagian besar radar pertahanan udara konvensional dirancang untuk ancaman ketinggian seperti rudal,” kata Dave DesRoches dari National Defense University di Washington.

“Rudal jelajah dan drone beroperasi dekat dengan bumi, sehingga mereka tidak terlihat karena kelengkungan bumi. Drone terlalu kecil dan tidak memiliki tanda panas untuk sebagian besar radar. “

Mencegat drone yang harganya mungkin hanya beberapa ratus dolar dengan Patriot juga sangat mahal mengingat setiap setiap rudal berharga sekitar US$ 3 juta atau sekitar Rp42 miliar.

Jorg Lamprecht, CEO dan salah satu pendiri firma keamanan wilayah udara Amerika Dedrone, mengatakan ada cara yang lebih efektif untuk berurusan dengan drone, terutama yang datang bergerombol.

“Kombinasi dari pendeteksi frekuensi radio dan radar mendeteksi mereka, kamera berdaya tinggi memverifikasi muatan dan teknologi seperti gangguan mendemobilisasi mereka,” katanya sebagaimana dikutip Reuters.

Tetapi teknologi terbaru menghadirkan tantangannya sendiri: jamming frekuensi dapat mengganggu aktivitas industri dan berdampak negatif pada kesehatan manusia.

Konsultan intelijen Amerika, Soufan Group mengatakan drone bersenjata sekarang ini semakin banyak tersedia sehingga ancaman terhadap infrastruktur vital meningkat secara tajam.

Sumber Saudi juga mengatakakn para pembuat kebijakan Saudi telah lama takut akan serangan terhadap pabrik desalinasi di Jubail yang melayani Arab Saudi tengah dan timur. Serangan yang berhasil akan membuat jutaan orang kehilangan air dan butuh waktu lama untuk memperbaikinya.

“Ini adalah lingkungan yang sangat rawan sasaran,” kata sumber industri dengan pengetahuan tentang Arab Saudi. “Mereka menendang tepat di tempat yang menyakitkan dan ada banyak lagi target serupa di sekitar.”

Ancaman juga semakin serius karena Center for Strategic and International Studies (CSIS), Iran mempertahankan kemampuan rudal balistik dan jelajah terbesar di Timur Tengah yang dapat membanjiri hampir semua sistem pertahanan rudal Saudi, mengingat kedekatan geografis Teheran dan pasukan proksi regionalnya.