Tren Ekbis

Likuiditas Naik, Fundamental MINE Dinilai Makin Kuat di Kuartal I 2026

  • MINE mencatat pendapatan Rp676,19 miliar di kuartal I 2026. Selain laba tumbuh, emiten jasa tambang ini meningkatkan kas, menurunkan utang, dan memperkuat struktur permodalan.
RUPST MINE - Panji 4.jpg
Dari ki-ka : Chief Financial Officer PT Sinar Terang Mandiri Tbk (MINE) Holmes Siringoringo, Komisaris Independen MINE Hendra Susanto, Direktur MINE Arabella Sumendap, Direktur Utama MINE Ivo Wangarry, dan Direktur MINE Ade Irawan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) MINE yang dilaksanakan di Jakarta, Rabu 22 April 2026. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia (trenasia)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Di tengah fluktuasi pasar komoditas dan meningkatnya kehati-hatian investor terhadap saham sektor tambang, PT Sinar Terang Mandiri Tbk (MINE) dinilai masih menunjukkan fondasi bisnis yang solid.

Selain membukukan pertumbuhan pendapatan pada kuartal I 2026, emiten jasa penunjang pertambangan ini juga mencatat peningkatan likuiditas dan perbaikan struktur permodalan yang menjadi perhatian investor dalam menilai kesehatan perusahaan.

Kepala Riset Praus Capital, Alfred Nainggolan, mengatakan laporan keuangan kuartal pertama tahun ini menunjukkan pertumbuhan yang tidak hanya berasal dari sisi operasional, tetapi juga dari kualitas neraca keuangan perusahaan.

"Dalam kondisi pasar yang berfluktuasi, investor biasanya lebih fokus pada kualitas fundamental dibandingkan pergerakan harga saham jangka pendek. Dari laporan keuangan kuartal pertama 2026 terlihat MINE tidak hanya bertumbuh secara operasional, tetapi juga berhasil memperkuat struktur keuangannya," ujar Alfred.

Sepanjang Januari-Maret 2026, MINE membukukan pendapatan Rp676,19 miliar, meningkat 18,1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp572,8 miliar. Laba usaha tercatat Rp87,98 miliar, sementara laba periode berjalan mencapai Rp61,95 miliar.

Kas Bertambah, Leverage Menurun

Menurut Alfred, salah satu indikator yang menarik perhatian adalah lonjakan posisi kas dan setara kas perseroan.

Hingga akhir Maret 2026, saldo kas MINE mencapai Rp346,07 miliar, meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan posisi akhir 2025 yang sebesar Rp169,32 miliar.

Peningkatan kas tersebut memperkuat fleksibilitas keuangan perusahaan dalam mendukung kebutuhan operasional maupun ekspansi bisnis ke depan.

"Likuiditas yang kuat menjadi faktor penting, terutama pada sektor jasa pertambangan yang membutuhkan modal kerja dan belanja modal relatif besar. Peningkatan kas menunjukkan kapasitas perusahaan menjaga ketahanan keuangan," katanya.

Di saat yang sama, MINE juga berhasil menurunkan tingkat leverage setelah melunasi pinjaman bank jangka pendek yang masih tercatat pada akhir tahun lalu.

Langkah tersebut membuat rasio utang terhadap ekuitas (debt-to-equity ratio atau DER) turun menjadi sekitar 0,67 kali pada akhir Maret 2026, dibandingkan sekitar 0,87 kali pada akhir 2025.

"Penurunan leverage menunjukkan ketergantungan terhadap pembiayaan berbasis utang semakin terkendali. Struktur modal yang lebih sehat memberikan ruang lebih besar bagi perusahaan menghadapi ketidakpastian pasar," ujar Alfred.

Valuasi Dinilai Masih Menarik

Selain perbaikan neraca, kinerja operasional perusahaan juga dinilai tetap kuat. EBITDA kuartal I 2026 diperkirakan mencapai sekitar Rp210,6 miliar dengan margin EBITDA sekitar 31%.

Menurut Alfred, kombinasi pertumbuhan usaha, likuiditas yang membaik, serta penurunan rasio utang membuat profil risiko perusahaan menjadi lebih sehat dibandingkan sebelumnya.

Dari sisi valuasi, saham MINE dinilai masih relatif murah. Pada harga saat ini, price to earnings ratio (PER) tahunan berada di kisaran 3,6 kali dengan price to book value (PBV) sekitar 0,9 kali.

"Valuasinya masih menarik untuk emiten yang memiliki pertumbuhan solid. Selain potensi pertumbuhan, peluang dividen juga cukup menarik. Dengan level PER saat ini, potensi dividend yield tahun buku 2026 bisa berada di atas 8%," ujarnya.

Kemampuan membagikan dividen meski baru sekitar satu tahun melantai di Bursa Efek Indonesia juga menjadi sinyal bahwa arus kas dan kondisi keuangan perusahaan berada dalam posisi yang cukup kuat.

Bagi investor, kinerja kuartal pertama MINE menunjukkan bahwa perhatian tidak hanya tertuju pada pertumbuhan pendapatan, tetapi juga pada kemampuan perusahaan memperkuat kas, menurunkan utang, dan menjaga profitabilitas. 

Kombinasi faktor tersebut biasanya menjadi indikator penting dalam menilai keberlanjutan pertumbuhan jangka panjang sebuah emiten, terutama di sektor yang sangat dipengaruhi siklus komoditas.