Len Industri Bawa Standar Sistem Pertahanan ke Ekosistem Kendaraan Listrik
- PT Len Industri bawa kompetensi systems engineering dari sektor pertahanan dan energi. Perkuat integrasi ekosistem kendaraan listrik nasional, mulai dari SPKLU hingga manajemen energi.

Chrisna Chanis Cara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – PT Len Industri (Persero) mulai membawa kompetensi rekayasa sistem atau systems engineering yang selama ini digunakan dalam proyek-proyek strategis pertahanan dan infrastruktur kritikal ke sektor mobilitas nasional, termasuk pengembangan ekosistem kendaraan listrik.
Sebagai induk Holding BUMN Industri Pertahanan DEFEND ID, Len menilai kemampuan mengintegrasikan berbagai sistem kompleks menjadi modal penting untuk membangun ekosistem kendaraan listrik yang lebih terstandarisasi, aman, dan andal.
Pendekatan tersebut tidak hanya berkaitan dengan teknologi kendaraan, tetapi juga mencakup integrasi manufaktur komponen, jaringan pengisian daya, manajemen energi, konektivitas data, hingga sistem pelayanan purnajual.
Prof. Joga Dharma Setiawan, PhD, mengatakan salah satu persoalan dalam modernisasi infrastruktur nasional adalah sistem yang masih terfragmentasi. Karena itu, diperlukan integrator yang mampu memastikan berbagai komponen teknologi dapat bekerja dalam satu sistem yang terkoordinasi.
“Tantangan utama dalam modernisasi infrastruktur nasional adalah fragmentasi sistem. Sebagai System Integrator, peran kami adalah mengelola kompleksitas tersebut melalui disiplin systems engineering yang ketat,” ujar Joga.
Menurut Joga, pengalaman Len dalam mengembangkan sistem yang membutuhkan tingkat keandalan tinggi dapat menjadi fondasi untuk diterapkan pada sektor mobilitas dan energi.
Selama ini, kompetensi tersebut telah digunakan Len dalam integrasi sistem Command, Control, Communication, Computer, and Intelligence atau C4I di sektor pertahanan. Kemampuan serupa juga diterapkan dalam pengelolaan sistem kelistrikan dan manajemen daya pada proyek energi, termasuk pembangkit listrik tenaga surya.
Dalam pendekatan systems engineering, pengembangan sebuah sistem tidak berhenti pada pemenuhan spesifikasi masing-masing komponen. Setiap bagian harus dirancang agar dapat berinteraksi, berkomunikasi, dan beroperasi secara konsisten sebagai satu kesatuan.
Konsep tersebut menjadi semakin penting ketika diterapkan pada infrastruktur mission-critical, yakni sistem yang gangguannya dapat berdampak langsung terhadap keselamatan, operasional, maupun keberlangsungan layanan.
Len melihat prinsip tersebut relevan dengan pengembangan ekosistem kendaraan listrik. Kendaraan, stasiun pengisian kendaraan listrik (SPKLU), jaringan listrik, sistem pembayaran, pusat kendali, serta sistem digital harus dapat berkomunikasi dan bekerja secara terpadu.
“Dari pengalaman puluhan tahun mengintegrasikan sistem teknologi pertahanan dan infrastruktur kritikal dengan toleransi kesalahan nol (zero-error), kami membawa standar keselamatan dan keandalan tertinggi untuk memastikan bahwa seluruh ekosistem teknologi Indonesia, mulai dari manajemen daya hingga konektivitas data, dapat beroperasi secara akuntabel dan berkelanjutan bagi masyarakat,” kata Joga.
Tantangan Ekosistem Kendaraan Listrik
Pengembangan kendaraan listrik di Indonesia tidak hanya membutuhkan pertumbuhan jumlah kendaraan, tetapi juga kesiapan ekosistem pendukung.
Pemerintah terus mendorong elektrifikasi transportasi sebagai bagian dari agenda transisi energi. Namun, peningkatan adopsi kendaraan listrik membutuhkan infrastruktur pengisian yang memadai, jaringan listrik yang siap, interoperabilitas sistem, standar keselamatan, serta layanan purnajual yang dapat menjamin pengalaman pengguna.
Dalam konteks tersebut, kemampuan integrasi sistem menjadi salah satu faktor penting. Pertumbuhan berbagai teknologi tanpa standar integrasi berpotensi menciptakan ekosistem yang terpisah-pisah dan meningkatkan kompleksitas bagi konsumen maupun operator.
Karena itu, Len berencana menjadikan standar rekayasa keselamatan dan keandalan yang selama ini digunakan pada sektor strategis sebagai reference design untuk ekosistem mobilitas listrik.
Standar tersebut akan diarahkan untuk mengintegrasikan berbagai mata rantai, mulai dari manufaktur komponen, infrastruktur pengisian daya, sistem manajemen energi, hingga layanan purnajual kendaraan listrik.
Pendekatan ini juga membuka peluang bagi industri dalam negeri untuk tidak hanya berperan sebagai produsen komponen, tetapi turut membangun arsitektur teknologi yang menghubungkan berbagai komponen dalam ekosistem kendaraan listrik.
Dari Pertahanan ke Mobilitas
Transformasi kompetensi tersebut memperluas peran Len dari perusahaan yang berfokus pada teknologi pertahanan menjadi salah satu pemain system integrator untuk berbagai sektor strategis.
Pengalaman di sektor pertahanan menjadi relevan karena sistem yang digunakan dalam sektor tersebut menuntut tingkat keandalan, keamanan, interoperabilitas, serta pengambilan keputusan secara real-time yang tinggi.
Prinsip serupa semakin dibutuhkan dalam infrastruktur modern yang semakin terhubung secara digital.
Dengan pendekatan tersebut, Len menempatkan systems engineering sebagai fondasi untuk mengintegrasikan teknologi, bukan sekadar mengembangkan perangkat secara terpisah.
“Pengalaman kami dalam membangun sistem zero-error di sektor pertahanan dan energi menjadi pondasi kuat untuk memodernisasi mobilitas nasional dan infrastruktur energi,” ujar Joga.
Ke depan, penerapan standar tersebut diharapkan dapat membantu menciptakan ekosistem mobilitas listrik yang lebih terintegrasi, memiliki standar keselamatan yang jelas, serta mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Bagi Indonesia, penguatan kemampuan systems engineering juga menjadi bagian penting dalam membangun kapasitas industri nasional. Dengan kemampuan menguasai desain dan integrasi sistem, Indonesia memiliki peluang untuk bergerak dari sekadar pengguna teknologi menuju negara yang mampu mengembangkan dan mengorkestrasi teknologi strategisnya sendiri.

Chrisna Chanis Cara
Editor
